Sembuh dari COVID-19, Presiden Belarusia Tolak Pemberlakukan Lockdown

Internasional  RABU, 29 JULI 2020 | 22:30 WIB

Sembuh dari COVID-19, Presiden Belarusia Tolak Pemberlakukan Lockdown

foto/net

Moeslimchoice. Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko mengatakan, pada Selasa (28/7), bahwa dirinya telah positif terjangkit virus corona dan sembuh tanpa menunjukkan gejala apa pun. Ucapannya tersebut, terdengar nada menantang ketika dia berbicara kepada para pemimpin militer di Minsk.

Lukashenko (65), telah menolak seruan untuk pemberlakuan lockdown, demi untuk menahan pandemi, menepis kekhawatiran tentang COVID-19 sebagai "psikosis" dan menyarankan solusi seperti minum vodka, mandi sauna dan bermain hoki es.

Frustasi publik atas penanganan pandemi ini, telah memicu protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir terhadap pemerintahannya menjelang pemilihan presiden pada 9 Agustus mendatang. 

Lukashenko telah memenjarakan dua saingan dalam pemilih utamanya dalam tindakan keras yang meluas terhadap perbedaan pendapat.

"Hari ini, kamu bertemu dengan seorang pria yang berhasil selamat dari coronavirus. Ini yang dokter simpulkan kemarin. Tanpa gejala," kata Lukashenko.

"Seperti yang saya katakan, 97% populasi kita membawa infeksi ini tanpa gejala," tambahnya. Dia tidak memberikan sumber untuk angka itu.

Belarusia, dengan populasi 9,5 juta, telah melaporkan kasus positif terinfeksi virus corona sebanyak 67.366 kasus, dan kasus meninggal sebanyak 543 orang. 

Lukashenko tidak mengatakan secara terus terang, kapan atau bagaimana dirinya bisa tertular virus tersebut. Dia sempat bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin di parade militer di Moskow bulan lalu. 

Namun Presiden Putin terlihat baik-baik saja, kata kantor berita TASS mengutip juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Lukashenko, mantan bos pertanian kolektif Soviet, mengatakan pada bulan April bahwa tidak ada yang akan meninggal akibat virus corona di Belarus, dan bahwa kematian apapun akan disebabkan oleh kondisi yang mendasarinya, seperti penyakit jantung atau diabetes.

Berbeda sekali dengan negara-negara Eropa lainnya, Belarus menjaga perbatasannya tetap terbuka, dan bahkan mengizinkan pertandingan sepak bola di liga Nasional dimainkan di depan para penonton.

Sikapnya yang kuat dan tajam sebagai seorang presiden, dengan gaya pemerintahannya yang berkepala besi sejak 1994, membuatnya dijuluki sebagai "diktator terakhir Eropa" oleh Washington.

Lukashenko berbicara pada Selasa (28/7) di sebuah pangkalan militer, setelah mengawasi latihan yang disiarkan televisi oleh polisi khusus, yang menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air dalam tindakan keras terhadap para pemprotes jalanan. Lukashenko mendesak polisi untuk bersikap keras.

"Dalam situasi apa pun Anda tidak boleh membuat provokasi," ia menginstruksikan kepala polisi anti huru hara.

"Tapi kamu juga seharusnya tidak membiarkan (para pengunjuk rasa) untuk menghina para pria," tambahnya.

Lukashenko telah melakukan beberapa kunjungan ke unit-unit militer dan tentara menggelar latihan dengan tank akhir pekan lalu di jalan-jalan Minsk.

Analis politik Alexander Klaskovsky mengatakan, bahwa kampanye Lukashenko berlangsung dalam suasana "penindasan dan intimidasi."

"Pihak berwenang berharap bahwa tampilan otot dan ancaman akan mencegah orang keluar ke jalan-jalan," katanya.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan, lebih dari 1.100 orang telah ditahan dalam beberapa pekan terakhir. Para pengunjuk rasa telah berkumpul mengadakan protes untuk membela Svetlana Tikhanouskaya, istri dari salah satu kandidat yang dipenjara, yang berkampanye di tempat suaminya.

Pada Selasa (28/7), beberapa wartawan ditangkap di luar markas layanan keamanan negara (KGB), dibawa ke kantor polisi setempat dan kemudian dibebaskan.

Lukashenko selalu membandingkan oposisi sebagai gerombolan penjahat dan menuduh pengunjuk rasa ingin melakukan revolusi dengan bantuan para pendukung asing. Hal itulah yang membuatnya selalu bertindak tegas dalam menghadapi berbagai protes. [mt/AN]


Komentar Pembaca