Harga Cengkih Terjun Bebas, Petani Pacitan Raup Buntung

Daerah  RABU, 29 JULI 2020 | 10:55 WIB

Harga Cengkih Terjun Bebas, Petani Pacitan Raup Buntung

Ilustrasi

MoeslimChoice | Maksud hati meraup untung, apa daya malah buntung. Begitulah, kira-kira, nasib petani cengkih di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada musim panen tahun ini. Bukan cuma akibat hasil panennya yang tak maksimal, tetapi juga gara-gara harganya yang “terjun bebas”, hingga menyentuh titik tak wajar.

Betapa tidak? Sebelumnya, harga cengkih di musim panen itu bisa mencapai Rp 90-100 ribu per kilogram. Kini, angka itu berubah menjadi Rp 53 ribu/kg.

Suparman (50), salah satu petani cengkih asal Kecamatan Kebonagung, menyampaikan keheranannya terhadap situasi yang nyaris membuatnya merasa frustrasi tersebut. Benaknya kerap berpikir, mungkinkah virus Corona pun telah ikut memenggal hampir separuh dari harga cengkih?

Dia makin bingung dengan kebijakan para pengendali harga di negeri ini. Ketika harga rokok cenderung terus melambung, harga cengkih —yang menjadi bumbu utama bagi tembakau— justru mengalami krisis tingkat tinggi.

“Heran sajalah. Nasib petani bukan lagi untung, tapi buntung. Memang, soal hasil panen, sekecil apapun, tetap kita syukuri, karena itu pemberian dari Sang Maha Pengasih. Tetapi, soal harga, ini yang pantas kita teriaki, karena ini murni ciptaan manusia,” katanya kepada Kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Rabu (29/7/2020).

Menurutnya, kemerosotan harga yang signifikan itu tak hanya dialami cengkih, tetapi juga padi, jagung, kacang, kelapa, dan lain-lain. Sepertinya, segala sesuatu yang datang dari petani, selalu disambut dengan harga yang sangat tak bersahabat.

“Entah kenapa, sepertinya memang beginilah takdir petani. Di musim apapun, harganya pasti turun. Sewaktu petani beli rokok, bahan makanan, atau apapun, harganya tak pernah turun, malah cenderung naik terus. Tetapi, setiap kali petani mau menjual hasil panennya, apapun itu, harganya selalu mengecewakan, tak pernah stabil. Kalau naik cuma se-encrit, tapi kalau turun seperti nggak ada remnya. Blong. Pemerintah itu seharusnya lebih sering melihat langsung jerih payah kita-kita ini. Biar tahu seperti apa penderitaan kaum tani itu. Syukur-syukur kalau kemudian mereka ikut memperjuangkan nasibnya. Karena, tanpa petani, bagaimana caranya pemerintah memberi makan masyarakat Indonesia?” gerutu Suparman.

Di tempat terpisah, petani lainnya, Siswanto (67), menyebutkan mimpi-mimpinya setiap kali datang masa panen cenderung selalu buyar. Ia betul-betul mengharapkan peran para pengambil kebijakan untuk membantu para petani mewujudkan setiap impiannya.

Setidaknya, lanjut Siswanto, pemerintah bisa membantu para petani mendapatkan hasil yang lebih seimbang dengan bobot perjuangannya. Karena, kalau petani sudah tak bergerak untuk bercocok tanam, tak lagi menjual hasil pertaniannya, pemerintah sendiri pasti bakal kelabakan.

Nek petani wes ora adol hasil bumine, terus arep piye neh? (Kalau petani sudah tidak menjual hasil buminya, terus harus bagaimana lagi?) Saya yakin, istilah larang pangan (bahan makanan mahal) pasti bakal terjadi,” katanya kepada MoeslimChoice.

Soal harga cengkih yang justru “terjun bebas” di tengah menggilanya harga rokok, Siswanto kembali menegaskan, inilah momentum bagi pemerintah untuk benar-benar bergerak, dan memperlihatkan bahwa mereka memang memiliki iktikad menciptakan stabilitas pada harga cengkih. [yhr]


Komentar Pembaca