Peringati Hari HAN 2020, BRSKP Napza Satria Gelar Virtual Training Penanganan Korban Napza

Sosial  MINGGU, 26 JULI 2020 | 19:30 WIB | Ida Iryani

Peringati Hari HAN 2020, BRSKP Napza Satria Gelar Virtual Training Penanganan Korban Napza

Virtual training tentang penanganan korban Napza yang digelar oleh BRSKP Napza Satria/ida

Moeslimchoice | Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2020, Kementerian Sosial RI melalui Balai Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan (BRSKP) Napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya) "Satria" di Baturraden menyelenggarakan virtual training dengan tema “Konseling Adiksi Napza pada Anak dan Remaja”.

Virtual training yang diikuti sebanyak 730 orang peserta tersebut merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya yang membahas tentang peran keluarga dalam rehabilitasi korban penyalahgunaan Napza. 

Kepala BRSKP Napza Satria, Restyaningsih mengungkapkan bahwa sebagai penggiat di bidang Napza, pihaknya perlu menjaga generasi penerus bangsa dari bahaya Napza.

"Hal itu sesuai pesan Bapak Menteri Sosial pada peringatan Hari Anak Nasional, mari kita dukung anak-anak Indonesia agar terlindungi untuk mewujudkan Indonesia maju," kata Restyaningsih dalam keterangan tertulisa yang diterima redaksi, Minggu (26/7/20).

Sementara itu, Tri Iswardani, Psikolog Klinis Universitas Indonesia yang menjadi salah satu pengisi materi training virtual tersebut mengungkapkan, pengalaman masa kecil dapat berpengaruh terhadap adiksi Napza. 

“Menurut penelitian, pengalaman buruk pada masa kecil dapat mempengaruhi pertumbuhan neuron di otak dan jika sudah seperti itu maka dapat mempengaruhi perkembangan sosial emosional kognitifnya. Ekstrimnya bahkan dapat menyebabkan early death,” katanya

Psikoterapis pemulihan trauma dan adiksi ini juga mengungkapkan bahwa konseling pada anak dan remaja berbeda dengan konseling orang dewasa. Tujuannya untuk membantu anak dan remaja agar stabil secara emosional sehingga mereka nyaman dengan dirinya dan punya kesempatan untuk melanjutkan perkembangannya menjadi lebih sehat.

"Jika diibaratkan toolbox, seorang konselor adiksi harus mempunyai keterampilan dasar yaitu empati, kemampuan membina rapport, active listening, attending behavior, dan keterampilan observasi dalam interview dalam toolbox-nya", kata Iswardani. 

Dalam melakukan konseling adiksi, para konselor juga harus yakin bahwa adiksi dapat diatasi dengan peralatan dan intervensi yang tepat. 

"Lakukan konseling semampu dan seprofesional kita. Konselor adiksi berperan untuk membantu klien agar dapat mengeksplorasi diri dan memahami dirinya serta mengarahkannya berubah," imbuh Iswardani.

Apa yang disampaikan Iswardani, didukung Esther Budi Sri Sulistyowati selaku Ketua Asosiasi Pekerja Sosial Adiksi Napza Indonesia (APSANI). Ia menjelaskan tentang konseling dari sudut pandang pekerja sosial. 

"Pekerja sosial adiksi Napza berperan untuk menolong individu yang mengalami ketergantungan Napza sehingga dapat menjalankan keberfungsian sosialnya. Apalagi untuk anak yang berhadapan dengan hokum," kata Esther.

Mengusung tema HAN 2020, "Anak Terlindungi Indonesia Maju" bahwa salah satu hak anak yaitu untuk memperoleh perlindungan, baik perlindungan dari kekerasan fisik dan psikis, serta perlakuan yang mungkin merugikan anak. Keluarga mempunyai peranan penting untuk menjamin agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara baik, termasuk hidup sehat tanpa penyalahgunaan Napza.[fah]


Komentar Pembaca