25 Tahun Berlalu, Seribu Korban Genosida Muslim Srebrenica Masih Belum Ditemukan

Internasional  MINGGU, 12 JULI 2020 | 14:00 WIB | RMOL

25 Tahun Berlalu, Seribu Korban Genosida Muslim Srebrenica Masih Belum Ditemukan

Foto/net

Moeslimchoice | Sudah 25 tahun peristiwa berdarah pembantaian Srebrenica terjadi. Sebanyak sekitar 8.000 laki-laki dewasa dan anak laki-laki muslim di Srebrenica dibunuh oleh kekejaman Eropa paling mengenaskan sejak Perang Dunia II.

Meski 25 tahun sudah terlewati, korban-korban peristiwa tersebut masih terus bertambah, seiring dilakukannya identifikasi dan pencarian di berbagai kuburan. Misalnya saja pada Sabtu (11/7/2020), sembilan korban yang baru diidentifikasi, mereka dikuburkan di pemakaman berbentuk bunga dekat kota, di mana natu nisan tinggi menandai 6.643 kuburan korban lainnya.

"Setelah 25 tahun kami berhasil menemukan jenazahnya yang fana, sehingga mereka dapat dikuburkan," ujar Fikret Pezic, yang menguburkan ayahnya, Hasan, seperti dikutip Reuters.

Selain dari yang sudah dikuburkan, sebanyak lebih dari 1.000 korban genosida selama perang 1992 hingga 1995 masih hilang. Sementara itu, para pemimpin dunia juga ikut dalam upacara peringatan 25 tahun peristiwa Srebrenica melalui tautan video, mereka tidak dapat hadir karena pandemik Covid-19.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan puluhan ribu pengunjung, peringatan tahun ini hanya diikuti oleh beberapa ribu orang. Selama perang Bosnia, pasukan Serbia Bosnia mendorong orang-orang non-Serbia keluar dari wilayah yang mereka. Umat ​​muslim  melarikan dir, berlindung di beberapa kota timur, termasuk Srebrenica, yang ditetapkan sebagai "zona aman" PBB.

Namun pada 11 Juli 1995, pasukan Serbia dikomandoi oleh Jenderal Ratko Mladic menyerbu Srebrenica, yang dilindungi oleh pasukan penjaga perdamaian Belanda yang bersenjata ringan. Mereka membawa perempuan dan anak-anak perempuan, sementara mengeksekusi lelaki dewasa dan anak-anak laki-laki yang mereka temukan.

Mayat para korban dibuang ke kuburan massal dan kemudian digali oleh penyelidik AS dan digunakan sebagai bukti dalam pengadilan kejahatan perang para pemimpin Serbia Bosnia.

“Kami berduka dengan keluarga-keluarga yang tanpa lelah mencari keadilan bagi 8.000 nyawa tak berdosa yang hilang, bertahun-tahun kemudian,” kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo.

Washington yang menjadi perantara kesepakatan damai Bosnia beberapa bulan setelah pembantaian itu. Pada Sabtu, orang-orang Serbia di kota terdekat Bratunac menyelenggarakan acara yang menandai 11 Juli sebagai "Hari Pembebasan Srebrenica". [ary]


Komentar Pembaca