Digempur Corona, Indonesia Harus Hidupkan Kembali Ekonomi Kerakyatan

Ekonomi  SABTU, 11 JULI 2020 | 16:00 WIB | RMOL

 Digempur Corona, Indonesia Harus Hidupkan Kembali Ekonomi Kerakyatan

Pengamat bisnis, Kafi Kurnia/Net

MoeslimChoice | Ekonomi kerakyatan perlu dihidupkan kembali untuk menghadapi pandemik Covid-19 yang telah menggempur ekonomi dunia termasuk Indonesia. Sebab, aset terbesar yang dimiliki oleh Indonesia adalah rakyat.

 

Demikian disampaikan pengamat bisnis, Kafi Kurnia dalam diskusi daring Smart FM bertajuk "Bagaimana Menggairahkan Ekonomi", Sabtu, 11/7/20.

"Aset kita yang paling besar adalah rakyat. Filosofi tentang ekonomi kerakyatan kayaknya harus kita hidupkan kembali," ujar Kafi Kurnia.

Menurut dia, di tengah kondisi pandemik Covid-19 seperti saat ini, rakyat harus dijadikan kekuatan dalam menggerakkan ekonomi. Pemerintah harus memobilisasi modal untuk terciptanya pergerakan ekonomi secara massif.

"Kalau dalam keadaan susah seperti ini, yang harus dilakukan pemerintah adalah memobilisasi kapital. Jadi, secara ekonomi kita harus memobilisasi kapital, karena kalau kita mau berusaha dan menggerakkan ekonomi modalnya itu adalah kapital," tuturnya.

Ekonomi kerakyatan, masih kata Kafi Kurnia, menjadi modal utama.

Dengan kultur dan kearifan lokal yang dimiliki, Indonesia berbeda dengan negara-negara kecil seperti Singapura, Korea dan Jepang dalam rangka menggerakkan roda ekonomi.

"Kalau saya lihat negera-negara kecil seperti Korea, Jepang, Singapura, disamping kearifan lokal yang mereka miliki mereka gunakan, mereka akhirnya menggunakan aset-aset yang tersembunyi," ucapnya.

"Aset kita yang paling besar adalah rakyat dan menurut saya Indonesia harusnya membuat peta ekonomi kerakyatan dengan klaster-klaster rakyat di wilayah-wilayah tertentu," demikian Kafi Kurnia menambahkan.

Selain Kafi Kurnia, turut hadir narasumber lain dalam diskusi daring tersebut anggota DPR 2004-2014 Andi Rahmat, gurubesar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Ahmad Erani Yustika, dan ekonom senior Indef Enny Sri Hartati. (wrn)


Komentar Pembaca