Teknologi Digital Blockchain Dinilai Mampu Bantu Pengembangan Industri Halal Indonesia

Ekonomi Syariah  SENIN, 06 JULI 2020 | 23:05 WIB | Natasha

Teknologi Digital Blockchain Dinilai Mampu Bantu Pengembangan Industri Halal Indonesia

Foto ilustrasi blockchain/ist

Moeslimchoice | Pemanfaatan teknologi digital blockchain, dinyatakan mampu membantu pengembangan industri halal di Indonesia. Karena, dengan teknologi ini, maka pengguna produk akan bisa melihat sendiri, bagaimana nilai kehalalan produk mereka.

Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Afdhal Aliasar mengatakan, pemanfaatan instrument digital menjadi salah satu strategi utama KNEKS.

“Teknologi blockchain akan bercerita tentang rantai nilai halal, yaitu serangkaian proses pengolahan barang mentah, produk antara, menjadi produk akhir yang mencakup kegiatan produksi, distribusi, sampai berada di tangan konsumen," kata Afdhal, Senin (6/7/2020).

Ia menyatakan dengan kemampuan teknologi ini, dapat mempermudah dan mempercepat proses sertifikasi halal.

"Hal ini sangat mendukung bagi keberlangsungan ekosistem industri halal,” ujarnya.

Indonesia, menurutnya, berpotensi menjadi rujukan dunia untuk produk halal.

"Mulai dari Indonesia, kita bisa perkuat sistem traceability produk halal dan membanjiri dunia dengan raw material, produk antara, maupun produk jadi berasal dari Indonesia," imbuhnya.

Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi Global Hub Ekonomi Syariah dunia di tahun 2024.

“Indonesia memiliki potensi sumber daya alam dan hayati yang melimpah, dan 87 persen masyarakatnya muslim. Bukan hal yang mustahil cita-cita ini akan tercapai,” kata Afdhal lebih lanjut.

Sebagai pionir halal blockchain, Direktur Manager Food PT. Sierad Dicky Saelan menyatakan penggunaan teknologi blockchain dapat memberikan trust kepada kustomer. Contoh, potong ayam boiler dari proses peternakan sampai pemotongannya terekam dalam blockchain.

“Memudahkan bagi kustomer untuk melacak tahapan-tahapannya, sehingga dari transparansi ini menjadi kepercayaan,” kata Dicky.

Ia melanjutkan, sebagai pengusaha harus dapat melihat peluang-peluang yang ada. Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim adalah pangsa pasar terbesar.

"Maka dari itu diperlukan inovasi-inovasi yang mendukung kemajuan industri halal Indonesia, khususnya pemanfaatan teknologi," ujarnya.

Kalau ingin bersaing di pasar global, lanjutnya, hanya dengan mengandalkan harga tidak cukup.

"Saya agak pesimis kalau hanya harga saja. Seharusnya Indonesia sebagai negara muslim terbesar dengan potensi dan inovasi yang dimiliki, harus berada di depan dalam pengembangan industri halal,” jelas Dicky.[fah]


Komentar Pembaca