LPPOM MUI: Indonesia Miliki Potensi Besar untuk Bertarung di Kancah Industri Halal

Ekonomi Syariah  SENIN, 06 JULI 2020 | 21:13 WIB | Natasha

LPPOM MUI: Indonesia Miliki Potensi Besar untuk Bertarung di Kancah Industri Halal

Wakil Direktur LPPOM MUI, Sumunar Jati/nat

Moeslimchoice | Walaupun belum menjadi negara pengekspor untuk sektor makanan, farmasi dan kosmetika halal, Wakil Direktur LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia), Sumunar Jati menyatakan, Indonesia akan mampu turut bertarung dalam kancah industri halal, melalui sektor lainnya.

Ia menyatakan dalam Global Islamic Economy Indicator 2019 Indonesia tidak masuk peringkat 10 besar negara pengekspor di sektor makanan,  farmasi dan kosmetika halal.

"Indonesia masih menjadi negara pengimpor produk halal terbesar padahal Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia berbeda dengan Brazil Australia dan India yang merupakan ketiga negara non-muslim, justru menjadi pengekspor terbesar di produk halal," kata Jati saat dihubungi, Senin (6/7/2020).

Jati mengatakan negara Brazil menyadari potensi daging sapi menjadi fokus produk unggulan potensial di negaranya, sehingga Brazil menyusun strategi untuk membuat negara-nya menjadi negara yang memiliki nilai kompetitif dalam konteks industri Halal.

"Brazil sangat fokus pada pengembangan ternak dan teknologi peternakannya, Rumah Potong Hewan dan olahan dagingnya, sehingga mereka menjadi supplier daging sapi halal terbesar ke negara-negara di Timur Tengah seperti Mesir Iran dan lainnya bahkan Indonesia dan Malaysia juga mengimpor daging sapi halal dari Brazil," ujarnya.

Indonesia pun, menurutnya, harus bisa meniru strategi Brazil ini dengan memanfaatkan potensi yang memang sudah ada.

"Indonesia memiliki potensi besar di fashion muslim. Maka harusnya fokus dengan mengembangkan industri fashion muslim tersebut, dengan mendukung industri dengan regulasi dan infrastrukturnya. Sehingga Indonesia mampu berkompetisi dalam industri halal," ucap Jati tegas.

Dan upaya ini juga harus didukung dengan promosi yang kuat melalui event event internasional. Dalam sektor fashion muslim, Indonesia masih tergolong unggul berada pada peringkat ketiga setelah Uni Emirat Arab dan Turki

"Sehingga penting bagi Indonesia untuk fokus pada sektor fashion muslim yang sangat potensial dan bisa dikembangkan," tandasnya.

Sektor lainnya, yang juga bisa menjadi potensi besar, menurut Jati adalah sektor pariwisata halal.

"Pada masa menteri Arif Yahya, Indonesia berhasil meraih peringkat pertama sebagai negara tujuan wisata halal dunia versi MasterCard -  Crescent Rating Global Muslim Travel Index 2019 dengan skor 78," ujarnya.

Penilaian tersebut karena Indonesia dikenal ramah dengan wisatawan muslim dari segala hal, seperti menyediakan kenyamanan fasilitas tempat ibadah yang bersih dan makanan halal yang mudah ditemukan

"Indonesia juga menjadi juara pertama dalam wisata halal dunia tapi saya melihat pada kementerian sekarang malah belum muncul. Padahal kapabilitas Indonesia dengan 10 destinasi wisata halal yang dipilih Kemenpar,  bisa membangkitkan pariwisata khususnya wisata halal," ujarnya lagi.

Wisata halal, menurutnya, harus menjadi lokomotif bagi industri halal lainnya.

"Misalnya untuk produk lokal daerah, yang bisa di branding halalnya, maka itu bisa menjadi unggulan memperkuat industri halal Indonesia," pungkasnya.[fah]


Komentar Pembaca