Surat Kabar Terbesar Selandia Baru Ikut Gerakan Boikot Facebook Yang Enggan Tangani Fenomena Hate Speech

Internasional  SENIN, 06 JULI 2020 | 14:30 WIB | RMOL

Surat Kabar Terbesar Selandia Baru Ikut Gerakan Boikot Facebook Yang Enggan Tangani Fenomena Hate Speech

Grup surat kabar Stuff ikut gerakan boikot Facebook/net

MoeslimChoice | Jejaring sosial raksasa Facebook akhir-akhrinya mendapat banyak kritikan dan kecaman karena dianggap gagal menangani fenomena hate speech atau ujaran kebencian di platform-nya.

Alhasil publik melakukan kampenya boikot Facebook yang digerakkan secara global. Salah satunya juga dilakukan oleh grup surat kabar terbesar dari Selandia Baru, Stuff.

Stuff adalah situs web media berita terbesar di Selandia Baru dan memiliki lusinan surat kabar di seluruh negeri.

Melansir The Guardian, surat kabar tersebut baru-baru ini telah menangguhkan hubungannya dengan Facebook dan Instagram dengan berhenti mengunggah berita ke platform tersebut.

Menurut email internal dari wakil editor Stuff, Janine Fenwick, pada Senin pagi 6/7/20, perusahaan itu sedang uji coba menghentikan semua aktivitas di jaringan milik Facebook sebagai bagian dari boikot global untuk menekan raksasa media sosial tersebut mengambil tindakan l, ebih kuat atas fenomena ujaran kebencian pada platform-nya.

“Sampai hari ini semua alian kita akan dijeda dan diarsipkan. Kami akan berhenti mengunggah ke Instagram," bunyi email tersebut.

Karyawan pun menanggapi aksi tersebut dengan positif. Sementara itu, uji coba akan dilakukan dan dipantau ketat.

Sebelumnya, Stuff juga telah berhenti beriklan di Facebook sesaat setelah serangan masjid di Chrischurch. Mengingat semakin banyak ujaran kebencian dan kekerasan mengenai peristiwa tersebut di Facebook yang tidak ditangani.

Selain Stuff, ada sekitar 500 perusahaan dan merek global lainnya sudah ikut melakukan kampanye yang sama. Misalnya Starbucks, Coca-Cola, Target, Ford, Honda, hingga Levi Strauss.

Jika digabungkan, komitmen iklan mereka untuk Facebook mencapai ratusan juta dolar AS.

Meski begitu, pendiri Facebook, Mark Zuckerberg memandang boikot tersebut hanya mempengaruhi citra dan tidak dengan masalah keuangan. Ia bahkan menolak untuk mengubah kebijakan.

"Kami tidak akan mengubah kebijakan atau pendekatan kami pada apa pun," ujar Zuckerberg. (wrn)


Komentar Pembaca