Dahsyatnya Kekuatan Zakat Produktif

Opini  SABTU, 13 JUNI 2020 | 11:05 WIB

Dahsyatnya Kekuatan Zakat Produktif

Foto Ilustrasi/net

DISAAT terjadi krisis ekonomi akibat pandemii Covid-19, banyak sekali penambahan jumlah masyarakat miskin baru, karena mereka kehilangan mata pencahariannya, dirumahkan, atau di-PHK. Mereka ini sangat membutuhkan modal kerja sebagai ‘kail’ untuk mengganti pendapatan yang telah hilang selama ini.

Banyak sekali sektor ekonomi riil termasuk sektor ekonomi syariah yang tergerus habis dengan adanya pandemi ini. Sektor industri informal, usaha mikro dan kecil seluruhnya telah berhenti beroperasi karena hilangnya rantai pasok baik bahan baku maupun nihilnya permintaan pasar. Roda perekonomian menjadi terhenti total dengan nol pendapatan.

Laksana bumi menjadi retak-retak akibat kemarau panjang. Laksana burung tertengah-tengah karena terbang kepanasan. Laksana kuda sudah tersengal-sengal karena kehabisan tenaga dan kehausan. Dapur sudah tidak mengepul lagi. Tagihan listrik dan air sudah tidak terbayarkan lagi. Begitu juga angsuran kredit sudah menunggak dan tak tercicil lagi.

Di saat yang seperti inilah, ekonomi Islam memberikan jawaban atas ketidakpastian ekonomi. Kelesuan seluruh sektor ekonomi yang dijalankan oleh sektor informal, pelaku ekonomi rumah tangga, usaha mikro dan kecil mendapatkan solusi secara syariah berupa pembagian Zakat, ifaq, dan shadaqah (ZIS).

Mengingat adanya unsur pemerataan, tentu ZIS yang diterima oleh para dhuafa jumlahnya tidak seberapa. Apabila langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang sudah tergerus dan tergali dalam, tentu langsung habis. Terkesan kurang memberi makna yang berarti karena tidak mampu memberikan perbaikan ekonomi secara lebih signifikan.

Zakat Produktif sebagai Solusi

Untuk meningkatkan nilai ekonomi, zakat yang diberikan oleh lembaga pengelola zakat baik BAZNAS maupun lembaga pengelola zakat lainnya dapat diberikan dalam bentuk zakat produktif. Lagi-lagi, jumlah zakat produktif yang relatif terbatas juga kurang mencukupi apabila langsung digunakan untuk membuka usaha mandiri atau menghidupkan usaha mikro dan kecil yang sudah kolap.

Agar jumlah zakat produktif tersebut nilainya bisa mencukupi kebutuhan modal usaha, maka Islam memberikan solusi menggunakan zakat produktif tersebut sebagai jaminan pinjaman bank syariah melalui akad mudharabah.

Dengan akad mudhorobah dengan jaminan (collateral) dana zakat produktif tadi diharapkan jumlah dana yang diterima oleh para dhuafa menjadi semakin besar, sehingga mencukupi untuk membuka usaha  yang telah terhenti.

Akses terhadap Bank bagi Penerima Manfaat

Para millennial, pasangan muda, dan mantan pekerja perkotaan yang sudah pulang kampung serta tidak bisa kembali lagi ke kota besar karena sudah dirumahkan atau di PHK, akan sangat terbantu ketika mendapatkan zakat produktif yang bisa dijadikan jaminan/agunan kepada bank syariah untuk mendapatkan pinjaman usaha. Mereka akan mampu memproduksi berbagai produk halal yang bisa dijual langsung melalui aplikasi kepada masyarakat perkotaan yang ditinggalkannya. Tingkat urbanisasi bisa ditekan dan terjadi pemerataan pembangunan hingga perdesaan. 

Para petani buruh (tanpa memiliki tanah baon) dan petani gurem dengan luas tanah sempit akan merasa sangat terbantu ketika mendapatkan zakat produktif, sehingga mereka bisa mendapatkan akses perbankan. Dengan zakat produktif tersebut mereka bisa menjaminkannya dan mendapatkan kredit usaha dengan bagi hasil sesuai akad. Dengan begitu, mereka bisa membuka usaha sampingan selain bertani, sehingga mampu menghidupi keluarganya dengan lebih layak, yang pada akhirnya dapat beribadah lebih khusu’. Insya Allah.

Para pedangan keliling, pedagan eceran, pedagang kaki lima yang sudah tidak berusaha lagi juga sangat mengharapkan zakat produktif. Mereka yang salama ini tidak mempunyai akses dengan Bank Syariah menjadi lebih inklusif dan bisa mendapatkan layanan pinjaman bagi hasil. Usaha mereka menjadi berjalan kembali tanpa dibebani bagi hasil yang memberatkan kedua belah pihak.

Para nelayan kecil dan anak kapal pencari ikan ketika mendapatkan zakat produktif juga bisa digunakan sebagai jaminan kepada bank syariah untuk mendapat pinjaman bagi hasil. Dana tersebut dapat digunakan untuk membeli peralatan alat tangkap ikan, sehingga bisa bekerja mandiri tidak harus menjadi buruh pada kapal besar milik Boss.

Nelayan keramba dan penangkap ikan sungai air tawar pun demikian. Mereka akan sangat terbantu ketika bisa mendapatkan zakat produktif yang bisa dijadikan agunan pinjaman ke bank syariah guna meningkatkan modal usaha mereka dalam budi daya ikan keramba. Dampak positifnya, mereka tidak hanya mengandalkan hasil tangkap ikan air tawar yang semakin hari semakin langka akibat penggunaan obat-obatan kimia oleh petani di daerah hulu, maupun penggunaan racun ikan oleh penangkap ikan yang kurang ramah lingkungan dan kurang bertanggung jawab. 

Semoga para pengelola ZIS dapat bekerja sama dengan bank syariah dalam menyalurkan zakat produktifnya, sehingga para dhuafa bisa mendapatkan akses ke bank syariah yang selama ini terhambat oleh ketiadaan collateral. Dengan akses tersebut mereka bisa mendapatkan dana pinjaman bagi hasil dengan sistem mudharabah atau sistem yang lain.

Model seperti ini memberikan berbagai keuntungan baik bagi pengelola ZIS, penerima zakat produktif, bank syariah, maupun dhuafa lainnya yang mendapatkan pekerjaan akibat hidupnya usaha mikro dan kecil yang mempekerjakannya.

Harapan terakhirnya, ekonomi syariah bisa berkembang pesat, lembaga keuangan perbankan dan nonperbankan syariah bisa maju, tingkat inklusi keuangan syariah meningkat, dan tingkat keimanan serta kekhusu’an beribadah pada dhuafa yang sudah mendapatkan rizki halal dari usaha syariahnya bisa lebih meningkat. Aamiin.[***]

OLEH: DR. DR. H. BASROWI, S.Pd.,M.Pd. M.E.sy.
Pengamat Kebijakan Publik, Alumni PPs Ekonomi Syariah UIN Raden Intan Lampung.



Komentar Pembaca