Menjadikan Rumah sebagai Kantor Pusat Karir Muslimah

Kajian  SENIN, 01 JUNI 2020 | 21:05 WIB

Menjadikan Rumah sebagai Kantor Pusat Karir Muslimah

Foto ilustrasi/net

MUSLIMAH selama ini lebih banyak mengambil peran domistik dibandingkan berkarir. Karir muslimah di sini dapat dimaknai secara luas, bukan semata-mata bekerja di luar rumah, tetapi kegiatan bisnis barang dan jasa yang dilakukan di dalam rumah yang menghasilkan rizki halal pun dapat dikategorikan sebagai kegiatan ‘karir’. Dengan demikian, muslimah yang berkarir tidak harus bekerja di luar rumah, tetapi sangat terbuka kemungkinan “menjadikan rumah sebagai kantor pusat muslimah dalam berkarir”.

Selama ini, diyakini bahwa, pahala dalam mengerjakan peran domestik jauh lebih besar dibandingkan berkarir. Keberkahan rizki dari posisi sebagai pemegang wewenang atas keselamatan harta suami dan pendidik anak-anak di rumah, diyakini jauh lebih maslahah dibandingkan berkarir. Itulah sebabnya, banyak sekali musimah yang hanya memilih peran domestik dibandingkan berkarir.

Saat ini pun marak terjadi, para muslimah berhenti bekerja begitu menikah. Mereka menganggap bahwa pekerjaan hanya sebagai pelengkap sampai pernikahan datang. Seolah mereka telah menyerah dan menerima kenyataan bahwa dirinya hanya memiliki waktu untuk bekerja sebelum bersuami dan beranak. Bila dipaksakan pun, masih banyak yang beranggapan akan sulit dalam membagi waktu antara melaksanakan peran domestik dan berkarir.

Anggapan seperti itu tentu sudah tidak lagi mampu memberi makna maksimal mengingat perempuan berkarir tidak harus keluar rumah yang tekadang jauh lebih besar mudharatnya daripada maslahatnya. Untuk menghindari hal itu, saat ini banyak sekali muslimah yang telah mencoba menyeimbangkan antara melaksanakan peran domestik dan berkarir (meski hanya dari dalam rumah). Mereka yang telah berhasil menyeimbangkan kedua hal itu menganggap bahwa berkarir (meski hanya dari dalam rumah) merupakan salah satu ciri paling penting dalam kehidupan rumah tangga dan sosial muslimah. Bahkan, muslimah yang berkarir (meski hanya dari dalam rumah) dapat mempengaruhi cara berperilaku, cara berfikir, dan cara merasakan sesuatu.

Islam mempunyai pandangan mengenai muslimah yang berusaha menyeimbangkan antara peran domestik dan berkarir. Islam tidak pernah menyudutkan atau membedakan muslimah di manapun dan dalam sudut pandang apa pun. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Taubah: 71)

Di sini jelas bahwa, muslimah mempunyai kesempatan yang sangat luas untuk menyeimbangan antara melaksanakan peran domestik dan berkarir (meski hanya dari dalam rumah). Kesempatan itu dapat dimanfaatkan oleh muslimah dalam melengkapi dan menyeimbangkan antara aktivitas duniawi dan ukhrawi.

Dengan perkembangan teknologi dan informasi, muslimah berkarir baik dalam bidang perdagangan barang maupun jasa tidak harus ke luar rumah, tetapi muslimah dapat saja mendirikan usaha dagang, CV, bahkan PT yang dioperasikan dari dalam rumah. Rumah muslimah menjadi kantor pusat muslimah dalam berkarir.

Muslimah Tidak perlu Silau dengan Realitas

Muslimah era millennial perlu bersikap professional dalam segala hal, baik kompetensi, cara berfikir, maupun bersikap. Situasi sosial yang melatarbelakangi kapasitas para muslimah sangat berbeda-beda. Dengan segala perbedaan latar belakang muslimah itulah, proses penyeimbangan antara melaksanakan peran domestik dan karir perlu dipelajari dengan baik, mulai sedikit demi sedikit.  

Apalagi di saat wabah Corona terjadi, para muslimah dapat mulai berkarir dari rumah. Sebagai khalifah di muka bumi ini, sudah sepantasnya semua muslimah dapat memberikan peran terbaiknya baik bagi umat, agama, maupun bangsa.  

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS Al Baqarah : 30)

Dalam ayat di atas ditunjukkan bahwa, manusia adalah hamba Allah. Muslimah juga seorang khalifah fil ard. Para muslimah pu bisa melakukan sesuatu untuk memberikan kontribusi bagi umat dan bagi masyarakat. Dengan demikian, muslimah pun mempunyai peran dalam membangun bumi demi kesejahteraan umat.

Momentum Covid-19 seperti inilah yang paling pas untuk dijadikan starting point dalam upaya menggalang bisnis barang dan jasa dari rumah, dengan tetap menyeimbangkan antara peran domistik dan peran karir meskipun dari rumah.

Seluruh faktor sosial dan budaya yang membelenggu gerakan para muslimah untuk berkarir dari rumah perlu disingkirkan jauh-jauh. Para muslimah harus mampu terlibat jauh dan mendalam pada setiap langkah korporasi miliknya (yang dibangun sendiri dari rumah) mulai dari perencanaan, implementasi, hingga pelaksanaan kegiatan.

Sesungguhnya, kerja di sebuah organisasi atau korporasi miliknya dari rumah sangat memberi warna dalam kehidupan mereka. Hal itu dapat membentuk muslimah menjadi efektif dan berdampak positif bagi keluarga, masyarakat, negara, dan agama. Ketika muslimah sejahtera, diharapkan semua juga sejahtera. 

Saatnya Lahir Muslimah Handal

Momentum new normal di tengah dominasi Covid-19 merupakan saat tepat bagi lahirnya muslimah yang lebih mengarah pada bidang kewirausahaan, kepemimpinan dan kemandirian. Platform untuk berkolaborasi baik langsung maupun melalui media virtual—apalagi di saat WFH—diharapkan mampu menginspirasi dan memberdayakan muslimah ke arah kemajuan.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisâ: 124)

Dalam hal ini, muslimah akan mempunyai peran yang besar manakala mampu membangun jaringan bisnis sebagai lahan berkarir meskipun dari rumah saja. Tidak ada alasan untuk tidak berkarir di lembaga usahanya sendiri, di dalam rumahnya sendiri, dan dengan kemampuan dirinya sendiri.

Bahkan muslimah dapat mengurangi pengangguran dengan menggerakkan orang lain untuk membantu lahan karirnya, sehingga mampu memberikan pekerjaan muslimah lainnya yang mengalami kesulitan ekonomi yang dapat dilakukan di rumahnya sendiri juga, tanpa harus menyatu di rumah inti yang menjadi kantor pusat muslimah yang berperan sebagai pemimpin (Bos bagi muslimah lainnya).

Sebagai catatan akhir, para muslimah yang berkarir dari rumahnya sendiri harus mendapat dukungan dari para swami, karena mereka tetap saja mampu menyeimbangkan antara peran domestik dan peran karir yang mereka rintis mulai dari rumah mereka. Semoga saat new normal ini, banyak lahir, muslimah yang berkarir di rumahnya sendiri, dan menjadikan rumahnya sebagai surganya, karena mampu mengubah rumahnya yang bukan hanya berperan dalam melaksanakan peran domestiknya, tetapi juga dapat dijadikan kantor pusat karir para muslimah. [***]

OLEH: DR. BASROWI
Peneliti Gender, Alumni PPs UIN Raden Intan Lampung, Alumni S3 Unair dan S3 UPI YAI Jakarta.



Komentar Pembaca
Menang 100

Menang 100

05 Jul, 2020 | 07:15

Harian DI\'s Way

Harian DI's Way

02 Jul, 2020 | 06:35

Sujud Risma

Sujud Risma

01 Jul, 2020 | 06:05

Pilih DI\'s Way

Pilih DI's Way

27 Jun, 2020 | 06:25

Password Yudiu

Password Yudiu

24 Jun, 2020 | 05:46

Terpojok 99 Tahun

Terpojok 99 Tahun

22 Jun, 2020 | 08:00

Sidang Itsbat Akan Digelar 21 Juli 2020

Sidang Itsbat Akan Digelar 21 Juli 2020

Jumat, 03 Juli 2020 | 14:30

Inilah Kunci Ketenangan Hati Menurut Al Quran
New Normal New Ideas

New Normal New Ideas

Minggu, 05 Juli 2020 | 02:30