Indahnya Asuransi Syariah di Era Covid-19

Opini  SABTU, 30 MEI 2020 | 12:25 WIB

Indahnya Asuransi Syariah di Era Covid-19

Foto Ilustrasi/net

ASURANSI syariah (Syariah insurance) tidak lain merupakan salah satu instrument keuangan nonbank yang dijadikan sebagai media bagi masyarakat muslim dalam mengantisipasi resiko yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.  Musibah, kodho, dan kodar tidak ada yang tahu, semua rahasia Allah SWT. Upaya manusia adalah berusaha, berdoa, dan bertawakal. Dalam berusaha melakukan mitigasi resiko itulah, peran Asuransi syariah sangat urgen keberdadannya.

Asuransi syariah juga sering disebut sebagai lembaga ekonomi yang berusaha untuk mengurangi resiko dengan menggabungkan di bawah satu manajemen dan kelompok dalam satu kondisi syar’i sehingga kerugian yang terjadi dan diderita oleh suatu kelompok dapat diprediksi dalam lingkup yang lebih kecil (Sula, 2014). Dari konsep itu dapat disederhanakan bahwa, asuransi syariah merupakan suatu akad antara dua pihak atau lebih (penanggung dan tertanggung) dalam rangka mengantisipasi resiko-resiko yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang namun tidak diketahui waktunya yang pasti. Kembali lagi bahwa nasib manusia, menjadi “Hak prerogratif Allah SWT semata.”

Indahnya, dalam asuransi syariah antara penanggung dan tertanggung tidak terpisah karena prinsipnya saling tolong menolong. Perusahaan asuransi syariah hanya sebatas sebagai operator yang menerima amanah dari peserta untuk mengelola kontribusi yang disetorkan oleh nasabah dalam bentuk derma (tabarru’). Melihat keindahan itu, “Asuransi syariah tentu dapat dijadikan pilihan utama bagi masyarakat muslim yang mengharamkan asuransi konvensional.” Alhamdulillah, akhirnya ada jalan keluar dari riba.

Moto yang dibangun dalam sistem asuransi syariah adalah, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Moto  tersebut berimplikasi bahwa dalam asuransi syariah,  “tidak ada yang dirugikan, bahkan semua diuntungkan, baik nasabah yang sudah mendermakan dana tabarru’nya—baik tidak mengalami musibah maupun mengalami musibah--perusahaan asuransi sebagai pengelola dana tabarru’, pihak ketiga yang mendapat amanah untuk mengusahakan dana tersebut untuk kegiatan bisnis yang tidak melanggar ketentuan syariah melalui konsep mudharabah dan wakalah bil ujrah.  

Dengan happy ending yang begitu menarik, tentu keberadaan asuransi syariah perlu didirikan, dikelola dengan baik, dievaluasi setiap saat, diawasi dengan menggunakan ketentuan syariah, dan diperbaiki serta ditingkatkan secara terus menurut kualitas dan kuantitas nasabahnya—termasuk jumlah asset dan jumlah dana tabarru’nya--sehingga mampu menyalip asuransi umum (konvensional) yang seolah-olah sudah sulit tertandingi. Dengan ijin Allah SWT, upaya serius--man jadda wa jadda—tentu akan menghasilkan hasil yang serius. Begitu juga, kata filosof kuno, “Hasil tidak pernah mengkhianati proses.”

Tantangan Asuransi Syariah

Sedikit menengok data, pada tahun 2019, asuransi syariah baru mempunyai aset 34,3 trilyun, sementara asset asuransi konvensional sudah mencapai 958,06 trilyun. Massya Allah… Begitu juga market share asuransi syariah juga masih rendah yaitu hanya 3,45% dari seluruh asuransi (OJK, 2017). Melihat data itu tidak usah berkecil hati apalagi bersedih secara berkepanjangan, atau hanya tepuk jidat. Jangan!. Kita harus mempunyai mimpi, dan kejar mimpi itu, sangan sampai berhenti sebelum mimpi itu tercapai. Asyiappp.

Sayangnya, mayoritas masyarakat muslim Indonesia belum mempunyai model perencanaan keuangan ke depan secara baik, sehingga upaya untuk menjadikan masyarakaat muslim Indonesia menjadi masyarakata yang asuransi minded sangat sulit. Sekali lagi optimis, kerja keras, dan semangat. Itu kunci keberhasilan membalik suatu keadaan dari riba minded menjadi syariah minded.

Selama ini asuransi dianggap haram, haram, dan haram. Titik!!!. Terus bagaimana mau maju. Lihat saja sejarahnya. Asuransi dalam budaya arab disebut sebagai al-aqilah, yaitu saling memikul dan bertanggung jawab bagi keluarga. Dalam kasus terbunuhnya seorang anggota keluarga, ahli waris korban akan mendapatkan dana (uang darah) dari kelurga terdekat si pembunuh yang dikumpulkan secara bergotong royong untuk membayar diyat tersebut. Saudara terdekat pembunuh tersebut biasa disebut Aqilah sebagai pembayar uang dari  keluarga si pembunuh. Di sini jelas, bahwa menanggung resiko bersama itu sangat dianjurkan dalam Islam yang rahmatan lil ‘alaamin.

Tantangan berikutnya, yaitu telah kuatnya penguasaan IT dan SDM yang ada pada asuransi konvensional. Kekuatan IT yang digunakan oleh asuransi konvensional dapat dikatakan sudah menyamai IT Bank. Begitu juga kekuatan SDM yang dimiliki oleh asuransi konvensional baik kuantitas maupun kualitasnya sudah sangat kokoh. Namun semua itu jangan menjadi hambatan, tetapi harus dapat dijadikan sebagai tantangan untuk lebih maju. 

Respon Asuransi Syariah

Asuransi syariah dikembangkan dengan konsep saling tolong menolong (ta’awun), saling gotong royong, dan saling melindungi melalui kontribusi dana tabarru’. Dana ini kemudian dikelola secara syariah di bawah pengawasan dewan pengawas syariah (DPS) untuk menghadapi resiko tertentu. Konsep ini disebut dengan risk sharing. Apabila terjadi resiko atas nasabah, maka perusahaan asuransi syariah akan memberikan dana asuransi yang disebut dengan risk transferring. Enak toYa enak tenan lah, karena di dalam asuransi syariah, menggunakan beberapa jenis transaksi yang benar-benar syar’i dan selalu berusaha (harus) mengihindari unsur gharar, riba, haram, dan maysir. Jadi, jangan khawatir bro, dana nasabah tidak akan diinvestakasikan pada hal yang bertentangan dengan syariat islam. Suer deh.

Melihat berbagai keunggulan yang begitu agung, apakah masih ragu akan kemampuan asuransi syariah dalam menyalip keangkuhan asuransi konvensional yang memang sudah banyak makan asam dan garam? Tentu tidak perlu minder atau ragu sedikitpun.

Dalam kaitannya dengan resiko, antara penanggung dan tertanggung adalah satu kesatuan, tidak terpisahkan. Sebagai tertanggung, peserta akan memperoleh pembayaran atas kerugian nilai ekonomis yang dialami sebagai akibat terkena resiko. Dana tersebut diambil dari dana peserta yang terkumpul (tabarru’) dan bagi hasil yang diterima. Agar bagi hasilnya halal, maka pada asuransi syariah perlu tiga akad, yaitu akad tabarru atau takafuli, akad mudharabah (bagi hasil), dan wakalah bil ujrah.  Strategi yang ditempuh harus membedakan rekening yang berbeda antara rekening yang menampung setoran bersama (rekening tabarru atau derma) yang digunakan untuk membantu sesama peserta dan rekening untuk peserta. Jika seperta asuransi syariah terkena resiko, maka klaimnya akan disalurkan atau dibayarkan melalui rekening tersebut yang diambilkan tentu dari rekening tabarru. Clear!!!

Membangun Masa Depan Penuh Maslahah

Asuransi syariah sangat tepat dalam rangka menyiapkan sejumlah dana untuk jika terjadi resiko. Melalui mekanisme ini mudharabah dan wakalah bil ujrah--tampak dengan jelas--bahwa setiap peserta berkontribusi atau berderma kepada peserta yang terkena resiko tersebut baik dari tabarru maupun dari bagi hasil yang telah diperoleh. Setelah dihitung oleh pihak under writing, akan memperoleh dana sebesar kesepakatan di awal. Halalkah? Insya Allah sebagai rejeki yang halal dan thoyyib.

Mengapa demikian, karena dana tabarru yang sudah terkumpul merupakan hibah atau derma dari seluruh peserta yang sejak awal—memang--diniatkan untuk membantu jika ada peserta yang mengalami resiko. Secara teoritik—dan ini harus dipraktikkan oleh perusahaan asuransi syariah—dana tabarru bukan milik perusahaan asuransi. Sekali lagi, dana tabarru bukan milik perusahaan asuransi, melainkan milik bersama seluruh peserta. Catat dan garis bawahi kalimat itu dengan stabilo merah menyala.

Perusahaan asuransi hanya menerima amanah, dan boleh memutarkan dana tersebut sesuai prinsip mudharabah untuk mendapatkan bagi hasil antara nasabah dan perusahaan, karena sudah diberi kuasa dalam bentuk wakalah bil ujrah. Al hasil, dalam sistem asuransi syariah, tidak ada yang dirugikan, tetapi semua diuntungkan dengan adanya akad mudharabah dan wakalah bil ujrah. Semua hasil yang diperoleh dapat dijadikan sebagai sarana saling tolong menolong satu sama lainnya.

Dengan konsep manajemen Islami, sangat jelas bahwa asuransi syariah diharapkan benar-benar mampu membawa keluarga masa depan dengan penuh barakah. Mengapa demikian, karena konsep tolong menolong, tanggung jawab bersama, dan saling melindungi benar-benar riil terjadi pada tataran muamalah bukan hanya dalam tataran teori semata. Wallahu a’lam.[***]

OLEH: DR. H. Basrowi, M.E.Sy
Alumni Pesma Baitul Hikmah Surabaya, Alumni PPs Ekonomi Syariah UIN Raden Intan Lampung, S3 Ilmu Sosial Unair, dan S3 Manajemen SDM UPI YAI Jakarta.



Komentar Pembaca
Sidang Itsbat Akan Digelar 21 Juli 2020

Sidang Itsbat Akan Digelar 21 Juli 2020

Jumat, 03 Juli 2020 | 14:30

Inilah Kunci Ketenangan Hati Menurut Al Quran
New Normal New Ideas

New Normal New Ideas

Minggu, 05 Juli 2020 | 02:30