Menjadikan Ritual Lebaran Bermuatan Spiritual

Kajian  SABTU, 30 MEI 2020 | 07:50 WIB

Menjadikan Ritual Lebaran Bermuatan Spiritual

Foto ilustrasi/net

LEBARAN kali ini menghadirkan berbagai ritual menjadi lebih spiritual, karena dilaksanakan di rumah saja. Dalam kondisi normal, banyak sekali umat muslim yang berziarah kubur baik menjelang Ramadhan maupun di akhir Ramadhan. Saat WFH seluruh doa dikirimkan untuk para leluhur melalui jamaah di rumah. Semakin khusu’ dan semakin religious karena tetap yakin bahwa doa untuk pra leluhur tetap ‘tersampaikan’ dan terkabulkan. Aamiin ya rab al ‘alamiin.

Rutinitas kedua, yaitu masak besar baik untuk keluarga inti maupun untuk orang tua, mertua, saudara tua, dan orang-orang di sekelilingnya yang berjasa, termasuk untuk tetamu. Di saat pandemi, rutinitas seperti itu akan mempunyai makna yang lebih religious, karena selain lebih sulit dalam berbelanja, juga lebih sulit dalam mendapatkan rizki untuknya. Apabila membeli bahannya tidak secara online, tentu harus ke pasar dengan menggunakan berbagai APD ‘ribet’ serta penuh was-was. Di sinilah seninya, ketika harus masak besar di tengah pandemi. Dengan effort yang lebih besar itulah, maka keikhlasan penyaji dan pemberi jauh lebih besar dibandingkan hari biasa. Apalagi dalam proses pengiriman kepada orang tua dan saudara harus menggunakan jasa layanan antar, tentu pahalanya lebih besar. Aamiin.

Ritual ketiga yaitu kewajiban membayar zakat fitrah, dengan harapan seluruh ibadah puasa benar-benar diterima Allah SWT. Bagi masyarakat yang patuh 3B (belajar, bekerja, dan beribadah di rumah saja) tentu akan membayar kewajiban tersebut via transver on-line atau melalui e-banking. Proses ini juga dapat meningkatkan religiusitas umat, apalagi dalam proses pengiriman zakat juga ditambah dengan zakat maal, infaq, shadaqah dan amal jariyah lainnya. Sudah tentu, tingkat keimanan pemberi maupun penerima dapat meningkat, karena diberikan pada saat mayoritas warga miskin terdampak Corona sangat membutuhkan.

Ritual keempat adalah shalat ‘iedul fitri sebagai Sunnah muakad yang harus dilakukan di rumah saja. Peristiwa langka ini, juga dapat menjadi moment istimewa bagi seluruh kepala keluarga untuk berlatih menjadi imam, bahkan banyak juga yang berlatih menjadi khatib. Di sini ada proses edukasi mandiri melalui internet yang sangat ampuh dalam meningkatkan religiusitas pribadi-pribadi muslim. Tanpa ada wabah, yang penting adalah ke masjid atau lapangan, selanjutnya terserah panitia di sana.

Ritual kelima yaitu sungkeman kepada kedua orang tua, dan bersilaturahmi kepada saudara, kolega, dan seluruh handai tolan. Ritual ini tentu dilaksanakan dari rumah aja secara virtual. Cara virtual inipun akan mampu meyakinkan bahwa, silaturahmi tidak harus datang langsung dan Allah SWT pun sudah pasti maha tahu dan maha bijaksana. Keyakinan inilah yang membuat ketebalan rasa spiritualitas meningkat dibandingkan kondisi normal. Doa dan harapan agar wabah segera hilang dan dapat kembali bersilaturahmi turut memperteguh keimanan umat muslim semua.

Ritual keenam yaitu puasa syawal. Puasa syawal terkadang jauh lebih berat dibandingkan puasa Sunnah lainnya, karena selain tidak banyak kawannya, juga karena tugas pekerjaan rutin sudah menumpuk. Di saat 3B inilah, waktu yang paling tepat untuk secara khusu’ melaksanakan puasa Sunnah tersebut dalam rangka meningkatkan iman dan ketaqwaan seluruh umat muslim. Bahkan puasa syawal saat pandemi ini dapat dilakukan oleh seluruh anggota keluarga secara bersama-sama. Tentu, peristiwa ini sangat langka dan hanya dapat dilakukan saat ada pandemi. Karena selama ini, masing-masing anggota keluarga dalam melaksanakan puasa syawal berbeda-beda hari pelaksanaannya menyesuaikan kesibukan masing-masing.  

Ritual ketujuh adalah sawalan. Banyak sekali masyarakat muslim yang masih melanggengkan ritual ini dalam bentuk bersyukur, karena telah berhasil melaksanakan puasa wajib selama satu bulan, ditambah bisa melaksanakan puasa syawal enam hari. Syukur juga dilakukan karena telah diberi kesehatan dan rizki yang cukup. Kali ini karena seluruh rangkaian ritual nomor satu hingga ketujuh dilaksanakan di rumah saja, maka diharapkan dapat menambah rasa syukur karena tidak tertimpa wabah yang di luar sana sedang menyebar luas tanpa ketahui kapan berakhir.

Seluruh uraian di atas, memperteguh keyakinan kita, bahwa wabah pendemi selain mempunyai sisi negatif bagi ekonomi dan kesehatan, tetapi mempunyai sisi positif di dalam meningkatkan ritual ibadah menjadi lebih religious dan lebih khusu’. Mengapa bisa demikian? Karena seluruh pelaksanaan ritual diliputi rasa berserah diri kepada Allah swt yang tinggi. Selain itu, doa agar wabah segera diangkat Allah sangat deras dipanjatkan bersama sembari melaksanakan seluruh ritual ibadah-ibadah lainnya.

Sudah saatnya di hari yang fitri ini marilah bersama-sama saling bersilaturahim virtual “taqabalallahu minna wa minkum”. Semoga seluruh umat muslin dijadikan Allah SWT sebagai umat yang terbebas dari wabah, sehingga tetap bisa beribadah dan kembali bekerja mencari rizki yang barokah. Aamiin. [***]

OLEH: DR. H. Basrowi, M.E.Sy
Alumni Pesma Baitul Hikmah Surabaya, Alumni PPs Ekonomi Syariah UIN Raden Intan Lampung, S3 Ilmu Sosial Unair, dan S3 Manajemen SDM UPI YAI Jkt.



Komentar Pembaca
Menang 100

Menang 100

05 Jul, 2020 | 07:15

Harian DI\'s Way

Harian DI's Way

02 Jul, 2020 | 06:35

Sujud Risma

Sujud Risma

01 Jul, 2020 | 06:05

Pilih DI\'s Way

Pilih DI's Way

27 Jun, 2020 | 06:25

Password Yudiu

Password Yudiu

24 Jun, 2020 | 05:46

Terpojok 99 Tahun

Terpojok 99 Tahun

22 Jun, 2020 | 08:00

Sidang Itsbat Akan Digelar 21 Juli 2020

Sidang Itsbat Akan Digelar 21 Juli 2020

Jumat, 03 Juli 2020 | 14:30

Inilah Kunci Ketenangan Hati Menurut Al Quran
New Normal New Ideas

New Normal New Ideas

Minggu, 05 Juli 2020 | 02:30