Antara Kisah Lelang Peci Bung Karno dan Kisah Lelang Motor Listrik Jokowi

Opini  JUMAT, 22 MEI 2020 | 22:15 WIB

Antara Kisah Lelang Peci Bung Karno dan Kisah Lelang Motor Listrik Jokowi

Foto ilustrasi/mch

KISAH legendaris lelang peci Bung Karno yang dilakukan oleh Anang Tayib, pengusaha peci bermerk dagang Kuda Mas, yang akhirnya laku dilelang sebesar 10 juta di suatu hari menjelang lebaran di masa orde lama. 

Kala itu Bung Karno sebagai presiden sedang dalam kondisi bokek (tak punya uang).

Kisah lelang peci Bung Karno ini, menurutku, jauh lebih keren, elegan dan berakhir dengan amat menyentuh hati dibandingkan kisah lelang motor listrik Gesits milik Jokowi di acara konser virtual penggalangan donasi menghadapi Covid-19 yang digagas dan dihelat oleh lembaga yang bukan kaleng-kaleng keberadaannya, utamanya dalam hal gaji personelnya, dalam struktur kenegaraan, yakni BPIP dan MPR, pada 17 Mei 2020 yang lalu.

Pada kisah yang kedua, sebagaimana seluruh umat di jagad medsos dalam tiga hari terakhir ini menyimaknya dengan seksama. Dan berakhir dengan gemuruh tawa ngakak bareng-bareng setelah mengetahui ujung ceritanya, yang sungguh berakhir memalukan (jika ada rasa malu dari pihak-phak yang terlibat penyelenggaran lelang itu) sekaligus memilukan bagi M. Nuh sang pemenang lelang.

Saya menduga, boleh jadi ide melelang motor Gesits Jokowi terinspirasi dari kisah sukses lelang peci Bung Karno.

Pada kisah lelang peci Bung Karno, kisahnya kurang lebih begini:

Suatu hari jelang lebaran, Bung Karno menjumpai Ruslan Abdulgani , yang akrab disapa Cak Rus, untuk berutang uang.

“Cak, tilpuno Anang Tayib. Kondo-o nek aku gak duwe duwik (Cak, teleponkan Anang Tayib. Kasih tau aku tak punya uang),” kata Bung Karno.

Anang adalah keponakan Ruslan, tinggal di Gresik, dan merupakan pengusaha peci Kuda Mas yang sering dipakai Bung Karno kala itu.

“Beri aku satu peci bekasmu, akan dilelang,” kata Ruslan.

Awalnya Bung Karno agak ragu pada ide Ruslan itu. Tapi Bung Karno mau menyerahkan peci yang telah dipakainya. Ruslan kemudian menyerahkan peci itu kepada Anang.

Ruslan kemudian kaget lantaran ternyata jumlah peminat lelang peci Bung Karno begitu ramainya, yang rata-rata pengusaha asal Gresik dan Surabaya.

Ruslan lebih terkejut lagi ketika mengetahui ternyata keponakannya itu melelang tiga peci sekaligus.

“Saudara-saudara. Sebenarnya hanya satu peci yang pernah dipakai Bung Karno. Tetapi saya tidak tahu lagi mana yang asli. Yang penting ikhlas atau tidak?” kata Anang.

“Ikhlas!” seru para peserta lelang.

Dalam waktu singkat berhasil terkumpul uang sebesar sepuluh juta rupiah. Tentunya jumlah yang besar pada masa itu. Semua uang itu segera diserahkan Anang kepada Ruslan.

“Asline rak siji se (Yang asli kan satu),” kata Ruslan.

“Ya. Sebenarnya dua peci lainnya akan saya berikan untuk Bung Karno,” kata Anang.

“Tapi kedua peci itu jelek ya?” sela Ruslan.

“Memang sengaja saya buat jelek. Saya ludahi, saya basahi, saya kasih minyak, supaya kelihatan bekas dipakai,” jawab Anang.

“Kurang ajar kamu, Nang. Kamu menipu banyak orang,” sahut Ruslan terkesiap.

Tapi Anang punya argumen atas tuduhan itu. Menuruthya bila hal itu tidak dilakukan, mana mungkin bisa diperoleh  uang hasil lelang sebanyak itu.

Ruslan pun akhirnya menyerahkan semua uang hasil lelang kepada Bung Karno.

“Cak, kok banyak banget uangnya?” kata Bung Karno kaget.

Ruslan menceritakan bagaimana cara Anang menggandakan peci.

“Kurang ajar Anang. Kalau begitu yang berdosa aku atau Anang?” tanya Bung Karno.

“Anang,” jawab Ruslan.

Lalu Ruslan menanyakan akan diapakan uang sebanyak itu.

“Untuk zakat fitrahku. Bawalah semua uang ini ke makam Sunan Giri. Bagikan untuk orang melarat di sana,” kata Bung Karno.

Benarkan man-teman, kisah legendaris lelang peci Bung Karno jauh lebih keren, elegan dan berakhir dengan amat menyentuh hati ketimbang kisah lelang motor listrik Jokowi yang berakhir ambyaar? [***]

OLEH: NANANG DJAMALUDIN
Pegiat dan Pengamat Sosial



Komentar Pembaca
Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Rabu, 20 Mei 2020 | 21:05

Bubarkan Fpi

Bubarkan Fpi

Ahad, 03 Mei 2020 | 19:55