Ogan Ilir Terpaksa Pecat 108 Tenaga Medis yang Menolak Rawat Pasien Corona

Daerah  JUMAT, 22 MEI 2020 | 10:55 WIB | Warni Arwindi

Ogan Ilir Terpaksa Pecat 108 Tenaga Medis yang Menolak Rawat Pasien Corona

MoeslimChoice | Pemecatan 108 tenaga kesehatan di RSUD Ogan Ilir, Sumatera Selatan, memang terpaksa terjadi lantaran mereka menolak pasien Corona. Bupati Ogan Ilir Ilyas Panji Alam pun mengakui pemecatan ini.

Informasi pemecatan 109 nakes di rumah sakit milik pemerintah daerah itu mulanya viral usai surat pemecatannya beredar luas di media sosial. Adapun nakes yang dipecat seluruhnya masih berstatus honorer.

Direktur Utama RSUD Ogan Ilir, dr Roretta Arta membenarkan pemecatan 109 tenaga medisnya. Salah satunya karena mereka tidak mau masuk kerja saat rumah sakit sedang membutuhkan. "Mereka tidak mau menangani pasien COVID karena takut. Ada tuntutan, tapi semua sudah dipenuhi," kata Roretta ketika dimintai konfirmasi, Kamis, 21/5/20.

Roretta menegaskan, pemecatan ratusan tenaga medis setelah mereka melakukan aksi mogok dan demo di DPRD Ogan Ilir pada 18 Mei lalu. Mereka yang mogok adalah bidan dan perawat yang masih berstatus honorer.

"Yang diberhentikan perawat dan bidan. Kami masih punya pegawai PNS dan tenaga kesehatan yang masih mau bergabung," tegas Roretta.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, para tenaga medis yang baru dipecat ini awalnya meminta beberapa fasilitas selama COVID-19. Mereka meminta insentif uang lelah, APD dan rumah singgah sementara.

Beberapa tuntutan disebut sudah dipenuhi oleh pihak rumah sakit. Namun, untuk insentif hanya dikhususkan untuk tenaga medis yang terlibat menangani pasien terkait COVID-19.

"Insentif untuk yang menangani COVID-19. Tuntutan mereka sudah ada," ujarnya.

Sebelumnya RSUD Ogan Ilir memecat secara tidak hormat terhadap 109 tenaga kesehatan berdasarkan SK Bupati Ogan Ilir nomor 191/KEP/RSUD/2020, salah satu poin pertimbangannya yakni para tenaga honorer tidak masuk bekerja lima hari berturut-turut sejak 15 Mei 2020.

Meski demikian dia memastikan pelayanan di RSUD Ogan Ilir tetap berjalan optimal karena ada ratusan tenaga kesehatan dan medis yang masih bersiaga, serta akan mencari pengganti 109 orang itu secepatnya.

Sementara itu juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumsel, Yusri mengatakan, pemecatan tersebut akan berdampak pada penanganan kasus corona di daerah. Namun dia turut mendukung keputusan bupati tersebut.

"Kalaupun ada pasien tapi mereka (tenaga kesehatan) tidak mau melayani ya sama saja. Padahal kalau masalahnya APD harusnya tinggal usulkan saja ke provinsi nanti kami salurkan," ujarnya. (wrn)


Komentar Pembaca