Melihat Masalah Palestina-Israel Dari Dimensi Spiritual

Opini  SELASA, 19 MEI 2020 | 10:10 WIB

Melihat Masalah Palestina-Israel Dari Dimensi Spiritual

Foto ilustrasi/net

SEBELUM dunia dikavling-kavling menjadi negara bangsa, sehingga muncul perbatasan antar negara, manusia bisa berpindah-pindah dari satu tempat dan ke tempat lain dengan leluasa, dan bebas untuk menetap di mana saja mereka suka.

Dalam situasi seperti ini, menurut Al Qur'an Nabi Ibrahim yang hidup di Babilonia (Iraq) mengawali kisah kenabiannya, dengan menyampaikan Risalah Allah kepada penduduk Babilonia yang menyembah berhala. Masyarakat menentangnya dan Raja Namrud yang sombong bahkan sampai mengaku Tuhan, kemudian memerintahkan untuk membakarnya.

Setelah diselamatkan dari api (Al Anbiya: 69), diikuti kematian Raja Namrud dan pasukannya yang diserang pasukan nyamuk sebagai hukuman, Allah kemudian memerintahkan Ibrahim untuk berhijrah ke Kanaan yang merupakan nama lama Palestina sebagai negeri yang diberkahi (Al Anbiya: 71).

Ibrahim kemudian tinggal di Hebron (Al Khalil) yang kini berada di wilayah Tepi Barat, Palestina. Dari istri mudanya bernama Hajar, Ibrahim mendapatkan anak bernama Ismail. Sedangkan anak keduanya diperoleh dari istri tuanya Sarah bernama Ishaq.

Ismail dan ibunya Hajar lalu dibawa ke Makkah dan ditinggal di sana sesuai perintah Allah. Sementara Ibrahim kembali ke Palestina untuk berkumpul kembali dengan istri tuanya Sarah. Ishaq bin Ibrahim kemudian memiliki anak bernama Ya'kob, dan dari empat orang istri Yakob yang juga dipanggil Israel mendapatkan 12 orang anak. Keturunan dari 12 anak-anak Yakob inilah yang kemudian dikenal dengan keturunan (Bani) Israel. Sementara keturunan Ismail disebut bangsa Arab.

Anak ke-11 Ya'kob bernama Yusuf. Karena garis kenabian setelah Yakob jatuh ke Yusuf (atas kehendakNya), membuat kakak-kakaknya cemburu, kemudian bersekongkol untuk membuangnya. Yusuf kemudian dipungut menjadi anak angkat oleh sebuah keluarga, dan besar di Mesir sampai menjadi seorang mentri kesayangan Raja.

Saat Palestina paceklik, Ya'kob dan seluruh keluarganya lalu diboyong oleh Yusuf untuk pindah ke Mesir. Secara turun-temurun mereka menetap disini sampai satu saat munculnya dinasti Firaun yang berasal dari suku Kibti yang menempatkan Bani Israel sebagai budak yang ditindas.

Musa lalu muncul menyelamatkan Bani Israel, kemudian membawanya kembali ke Palestina.
Dalam proses perjalanan panjang dan tidak mudah Bani Israel kemudian berhasil sampai ke Palestina, kemudian menetap dan berkembang turun-temurun, sampai berbagai peristiwa politik yang membuatnya terusir dari Palestina.

Dari rangkaian cerita ini praktis tidak ada perbedaan substansial antara versi Kitab Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, maupun AL Qur'an. Karena itu dari dimensi religius dapat dikatakan bahwa Palestina, khususnya wilayah Yerusalim (Al Quds) merupakan tempat yang disucikan oleh anak-cucu Ibrahim.

Dalam perspektif religius khususnya bagi agama-agama samawi (monotheisme), yang merupakan agama yang berasal dari sumber yang sama berhulu pada Ibrahim. Karena itu, jika harus menggunakan terminologi agama, maka dapat dikatakan pengikut Nabi Musa dengan kitab sucinya Taurat, yang kemudian dikenal dengan Yahudi merupakan kelanjutan dari agama yang dibawa oleh Ibrahim.

Selanjutnya Nabi Isa (Yesus) dengan kitabnya Injil, lahir dari para pengikut agama Yahudi. Mereka yang mengakui Isa (Yesus) sebagai utusan Allah, kemudian dikenal dengan Nasrani. Jika rangkaian nabi-nabi dari keturunan Ibrahim dari garis Ishaq semuanya lahir dari keturunan Yakob (Israel) sampai Isa. Sementara keturunan dari garis Ismail, tidak melahirkan nabi-nabi, sampai munculnya Muhammad. Jadi Nabi Muhammad merupakan satu-satunya Nabi yang berasal dari bangsa Arab dari garis keturunan Ismail.

Para pengikut Yahudi maupun Nasrani yang mengakui kenabian Muhammad sebagai kelanjutan pembawa Risalah dari nabi-nabi sebelumnya kemudian dekenal dengan sebutan Islam yang arti harfiahnya berserah diri atau patuh. Para penganutnya disebut Muslim.

Karena itu secara religius tempat-tempat suci di wilayah Palestina sebenarnya merupakan tempat-tempat yang disucikan oleh pemeluk Yahudi, Nasrani, maupun Islam. Sebagaimana juga para nabi-nabi yang sama dihormati oleh ketiga pemeluk agama samawi tersebut.

Pertanyaannya kemudian, mengapa mereka bertikai terus-menerus seakan tidak ada putusnya? Jawabannya sungguh sederhana, semua pertikaian yang muncul antara tiga kelompok ini tidak Ada hubungannya dengan agama, akan tetapi terkait dengan masalah politik (kekuasaan) yang tidak jarang menggunakan agama sebagai alat legitimasi.

Ketika muncul keinginan salah satu kelompok untuk menguasai, apalagi jika diikuti dengan langkah mendominasi, kemudian mendiskriminasi yang lain, maka akan muncul keributan yang sering berkuara perang. Hal ini terjadi berulang-ulang sampai sekarang.

Selain persoalan politik, Bani Israel juga memiliki persoalan internal dengan karakter pembangkang, sehingga berulangkali melawan atau tidak patuh terhadap perintah para nabinya, termasuk kepada Nabi Musa yang dibekali kitab suci Taurat yang merupakan nabi utama pengikut Yahudi.

Menurut Al Qur'an setidaknya ada tiga peristiwa terkait Bani Israel saat dipimpin oleh Musa dan Harun yang bisa dirujuk sebagai bukti karakter membangkang Bani Israel. Pertama, setelah lepas dari kejaran Firaun dan dalam perjalanannya menuju Palestina, Allah Ta'ala menganugrahkan 12 sumber mata air untuk 12 kelompok yang berbeda. Allah juga melengkapinya dengan makanan Manna dan Salwa (sejenis burung) Menerima semua karunia ini yang tidak pernah diberikan kepada ummat lain, bukannya mereka bersyukur, malah mereka minta sayur-mayur, ketimun, kacang adas, dan bawang yang bisa dibeli di pasar, sehingga membuat Musa marah (Al Baqarah: 61).

Kedua, saat Nabi Musa menghadap Tuhan-nya di bukit Tursina, salah seorang tokoh Bani Israel bernama Samiry memelopori sesembahan baru berupa patung anak sapi kepada kaumnya. Hal ini membuat Musa murka saat kembali (Surah Thaha: 85).

Ketiga, ketika Musa dan Bani Israel sudah berada di dekat gerbang Palestina, lalu Musa menyeru mereka untuk menyerang dari arah depan. Menjawab seruan Musa mereka berkata: ‘Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua (bersama Harun), sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja (Al-Maidah: 22 – 24).

Kalau disederhanakan, maka dapat disimpulkan bahwa meskipun dimuliakan Allah dengan berbagai karunia yang diberikannya, akan tetapi Bani Israel juga dihinakan berkali-kali disebabkan pembangkangan yang berulang, bahkan dalam bentuknya yang ekstrim sampai membunuh para Nabi utusan Allah. Karena itu meskipun berkali-kali berhasil pulang ke Palestina, akan tetapi berkali-kali terusir kembali sebagai hukuman, sehingga kemudian Bani Israel dikenal sebagai bangsa diaspora.

Kini Bani Israel kembali berkuasa di tanah Palestina, penganut Nasrani dan Islam semakin hari semakin dijepit, kapan mereka akan terusir kembali ? Wallahua'lam.[***]

OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB
Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.



Komentar Pembaca
Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Rabu, 20 Mei 2020 | 21:05

Bubarkan Fpi

Bubarkan Fpi

Ahad, 03 Mei 2020 | 19:55