Bahasa Eksportir

Opini  SELASA, 19 MEI 2020 | 05:48 WIB

Bahasa Eksportir

TIBA-tiba Pak Sharliz mengontak saya, Senin petang. Terus terang saya belum kenal. Tapi, ini yang bikin saya malu, Pak Sharliz mengenal saya.

Rupanya ia bergabung di salah satu grup Whatsapp. Saya jadi admin di grup itu. Sampai saat saya tulis artikel ini, saya belum mengecek di grup mana Pak Sharliz bergabung. Maklum, ada 52 grup di smartphone saya.

Dari pesan di Whatsapp itu, saya akhirnya tahu. Pak Sharliz adalah pengusaha meubel di Solo, Jawa Tengah. Sudah 20 tahun ia memasarkan produknya ke manca negara. ‘’Dulu saya guru sastra Inggris, sekarang eksportir meubel. Seperti Pak Jokowi,’’ kata Pak Sharliz.

Sejak beberapa waktu terakhir ini, Pak Sharliz punya kesibukan baru di luar ekspor. Ia memberi konsultasi seluk-beluk bisnis ekspor untuk para pengusaha UKM. Ada 400 pengusaha UKM yang bergabung dalam grup Whatsapp-nya.

Dari kegiatan itulah Pak Sharliz tahu salah satu problem para pengusaha UKM yang ingin menembus pasar ekspor. ‘’Banyak yang tidak bisa menulis surat bisnis dalam bahasa Inggris,’’ katanya.

Sebagai mantan guru sastra Inggris yang menggeluti bisnis ekspor, Pak Sharliz berinisiatif untuk membagi ilmunya. ‘’Banyak pelatihan menjadi eksportir yang diselenggarakan. Tetapi belum ada yang memberikan pelatihan bahasa Inggris untuk eksportir,’’ jelasnya.

Secara kebetulan, Pak Sharliz mengikuti tulisan saya tentang kursus online. Karena itu, ia segera menghubungi melalui Whatsapp.

‘’Apakah tidak ada biro jasa penerjemahan bahasa asing yang bisa membantu mereka?’’ tanya saya saat berdialog melalui aplikasi Zoom Meetings, sebelum subuh tadi.

‘’Kebanyakan biro jasa penerjemahan berbasis sastra. Sedangkan bisnis ini spesifik. Seringkali, penerjemahan sastra tidak tepat untuk istilah bisnis,’’ jawab Pak Sharliz.

Berapa lama pendidikan bahasa Inggris untuk eksportir? Menurut Pak Sharliz, pendidikan itu bisa diselenggarakan dalam waktu tiga bulan melalui 12 kali pertemuan. Setiap pertemuan berdurasi 90 menit.

‘’Setiap pertemuan, peserta akan mendapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Setiap enam pertemuan dilakukan ujian,’’ jelas Pak Sharliz.

‘’Meski harus mengikuti ujian, peserta yang lulus tidak akan mendapat ijazah lho…’’ kata saya.

‘’Hanya orang yang mencari pekerjaan yang butuh ijazah,’’ jawab Pak Sharliz sembari tertawa.

Adzan subuh berkumandang sayup-sayup. Kami pun menyudahi pembicaraan. Kami akan berdiskusi lagi setelah Pak Sharliz menyelesaikan silabusnya. ‘’Juni kita perkenalkan konsepnya, Juli kita mulai kelasnya,’’ kata Pak Sharliz sebelum menutup layar Zoom-nya.[***]

OLEH: JOKO INTARTO (JTO)
Wartawan Senior



Komentar Pembaca
Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Rabu, 20 Mei 2020 | 21:05

Bubarkan Fpi

Bubarkan Fpi

Ahad, 03 Mei 2020 | 19:55