Tambang PT GLI Pacitan Tewaskan Satu Pekerja

Daerah  SABTU, 09 MEI 2020 | 19:45 WIB

Tambang PT GLI Pacitan Tewaskan Satu Pekerja

Boyamin, korban yang selamat dari musibah maut di terowongan penambangan PT GLI Pacitan

MoeslimChoice | Kegiatan penambangan PT Gemilang Limpah Internusa (GLI) pada Jumat (8/5/2020), di wilayah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, berujung dengan meninggal dunianya seorang pekerja bernama Dwi Wahyu Cahyono (28).

Pekerja tambang itu adalah warga Desa Kluwih, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan. Selain Dwi, masih ada seorang pekerja lain yang turut menjadi korban, yakni Boyamin (33). Beruntung, rekan sekampung Dwi itu berhasil selamat dari maut, meski harus mengalami patah tulang kaki.

Boyamin pulalah yang kemudian mengisahkan kronologi kejadian maut di dalam terowongan galian tambang milik PT GLI tersebut.

Ia mengisahkan, kegiatan itu berawal pada Kamis (7/5/2020), saat dilakukan peledakan di dalam terowongan. Aktivitas dilanjutkan pada Jumat (8/5/2020) untuk mulai mengambili batuan hasil peledakan.

“Awalnya, kita masuk ke dalam terowongan, mengecek dinding-dinding terowongan tersebut, apakah mengalami retak atau tidak. Karena dinilai aman, saya dan korban pun masuk,” kata Boyamin kepada Kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Sabtu (9/5/2020).

Tiba-tiba, lanjut Boyamin, dinding bagian atas terowongan, sebesar meja ukuran 2 x 3 meter, ambrol dan menimpa hampir seluruh tubuh Dwi. Menurutnya, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, korban Dwi sempat terdengar berkata, “Aku piye?” (Aku bagaimana?).

“Ya, dia sebetulnya baru memegang cangkul dan pengki. Belum melakukan kegiatan apa-apa. Saya mendengar dia sempat berucap begitu setelah tertimpa. Tetapi, bagaimana saya bisa menolongnya, sementara kaki saya sendiri tertimpa material tersebut. Mau memindahkan material dari kaki saja saya tidak kuat, apalagi menolong Dwi,” ungkap Boyamin.

Ia menambahkan, mereka terjebak di dalam terowongan itu selama hampir satu setengah jam, dengan kondisi dirinya yang sudah patah tulang kaki dan Dwi tak lagi terdengar suaranya. Selama terjebak itu, Boyamin terus berteriak-teriak sekuat tenaga, memohon pertolongan, tetapi tak ada yang mendengar suaranya.

Beruntunglah, setelah sekian lama, ada salah satu pekerja yang lewat di kawasan terowongan tersebut, dan mendengar teriakan Boyamin. Seketika dia bergegas mendatangi, memastikan dulu arah datangnya suara, lalu meninggalkan lagi terowongan untuk mencari tambahan bantuan.

“Satu setengah jam lamanya saya bersama korban, yang mungkin sudah meninggal, terjebak di dalam terowongan, dan saya terus berusaha berteriak minta tolong. Tak ada yang mendengar, karena di dalam terowongan itu kami memang kerjanya berpencar. Namun, alhamdulillah, ada salah satu pekerja yang lewat dan mendengar teriakan saya. Dia pun segera keluar mencari pertolongan,” kisahnya.

Boyamin mengatakan, yang mengevakuasi dirinya dan Dwi dari sana adalah teman-temannya yang juga bekerja di galian tersebut. Namun, apa daya, Dwi, teman akrabnya itu, sudah tak lagi bernyawa.

Setelah dievakuasi ke rumah sakit terdekat, Boyamin —yang mengalami patah tulang kaki— bersikeras tak mau menjalani perawatan. Ia justru meminta dibawa ke ahli urut tulang, yang dalam bahasa setempat dikenal dengan sebutan sangkal putung.

Terkait biaya perawatan tersebut, orangtua Boyamin mengaku semuanya ditanggung oleh perusahaan, PT GLI.

“Ya, dari transportasi hingga biaya ke dukun tulang itu, saya sebagai orangtua Boyamin tidak mengeluarkan uang sepeser pun,” katanya kepada MoeslimChoice. [yhr]


Komentar Pembaca
Jk Sebut Masjid Sebagai Pusat Peradaban

Jk Sebut Masjid Sebagai Pusat Peradaban

Kamis, 09 Juli 2020 | 22:25

Muslimah Inggris Dinobatkan Sebagai Dokter Terbaik
New Normal New Ideas

New Normal New Ideas

Minggu, 05 Juli 2020 | 02:30