Anjuran Bersedakah dan Larangan Menjadi Qorun

Kajian  SABTU, 09 MEI 2020 | 11:35 WIB

Anjuran Bersedakah dan Larangan Menjadi Qorun

Foto ilustrasi/net

HARI ini banyak sekali orang yang menyombongkan diri karena hartanya. Mereka menganggap bahwa seluruh harta yang mereka miliki karena dari kepintarannya atau kepandaiannya dalam berdagang, beracara, berceramah, bekerja, dan berbagai kegiatan bisnis lainnya. Mereka lupa bahwa semua itu hanyalah titipan Allah swt yang bisa ditarik kapan saja.

Di zaman dahulu kala dikisahkan dalam Al-Qur’an, ada tokoh tajir melintir bernama Qarun yang mempunyai harta luar biasa banyaknya, karena saking banyaknya, kunci tempat penyimpanan harta tersebut tidak kuat bila hanya dipikul oleh dua atau empat orang.

Saat inipun sesungguhnya banyak sekali Qorun gaya baru, apalagi di era digital seperti ini, para penemu start up dengan platform digital, para pelaku e-commerce, youtuber, dan para bintang, termasuk bintang lapangan, mempunyai harta yang tidak kalah bila dibandingkan dengan milyuner zaman dahulu.

Sayangnya, banyak sekali di antara mereka yang tidak mensyukuri atas nikmat Allah SWT tersebut. Mereka malah memamerkan seluruh hartanya, tanpa mau bersedekah, berzakat, berinfaq, bersadaqah, dan beramal jariah lainnya. Mereka terkadang lebih bakhil dibandingkan dengan Qorun saat itu.

Banyak juga di antara mereka yang menghambur-hamburkan hartanya untuk berbagai kegiatan maksiat yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Dengan hartanya, mereka menjadi sombong, angkuh, tinggi hati, besar kepala, dan sama sekali tidak mempunyai jiwa sosial yang saat ini sangat ditunggu-tunggu oleh mereka yang terdampak Wabah Corona.

Syukur: Kunci Kebahagiaan Hakiki.

Upaya mensyukuri atas segala nikmat Allah merupakan kunci kebahagiaan hakiki. Caranya tentu melalui kegiatan amal shalih yang dapat mensucikan harta itu sendiri. Karena di dalam hartamu, sesungguhnya ada hak orang miskin yang harus diberikan, apalagi mereka saat ini sangat menunggu akibat pandemi Corona.

Janganlah sekali-laki menganggap bahwasannya semua harta yang dimiliki murni hasil jerih payah dan kepintarannya semata: “Dia (Qarun) berkata, sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” (Q.S. Al-Qashash [28]: 78)
Kesombongan seperti itulah yang kini ditiru oleh banyak orang yang lengah, tidak peduli, sombong, angkuh, abai, zalim, al-baghyu (sewenang-wenang), serta tidak mau mawas diri.

Di saat pandemi seperti ini, banyak sekali orang yang membutuhkan pertotongan. Sudah saatnya apabila para hartawan, meyakini bahwa kehidupan itu ada dua yaitu, kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi (Q.S. Al-Qashash [28]: 77). Para hartawan yang sudah terlanjur menjadi milyuner juga sudah saatnya sadar bahwa kebaikan dan kemudahan merupakan anugerah dari Allah swt semata (Q.S. Al-Qashash [28]: 77).

Apalagi di saat wabah seperti, semua warga yang terdampak sangat membutuhkan uluran tangan dari para Qorun gaya baru. Jangan sampai para Qorun gaya baru saat ini malah melakukan kemaksiatan dan pembangkangan terhadap aturan Illahi. Hal ini sangat dilaknat Allah SWT (Q.S. Al-Qashash [28]: 77).

Di saat Wabah Covid-19 ini meluas seantero jagad, maka bagi Qorun Modern hendaknya dapat menjadi nasehat dan dapat melakukan muhasabah agar tidak sombong apalagi angkuh. Jangan sampai seperti Qorun, di saat para rakyat di sekelilingnya sangat miskin dan membutuhkan bantuan, malah pamer kekayaanya dengan melalukan pawai (parade) bersama para pengikutnya dengan berpakaian yang terbuat dari emas dan sutra, di atas kuda-kuda yang juga dihiasi dengan perhiasan emas, sehingga membuat orang yang memiliki orientasi materi terpana dan berharap bernasib sama seperti Qarun. (Q.S. Al-Qashash [28]: 79).

Jangan sampai Allah murka terhadap Qorun Modern saat ini seperti murkanya Allah kepada Qorun saat ini. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Qashash [28]: 81-82, yang artinya, “Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri. Dan orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudukannya (Qarun) itu   berkata, “aduhai,   benarlah   kiranya Allah yang Melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba- hamba-Nya dan membatasi (bagi siapa yang Dia Kehendaki diantara hamba-hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya pada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).”

Membaca uraian di atas, jelas bahwa rejeki yang kita miliki memang bukan karena ilmu kita, tetapi merupakan rahmat dan karunia dari Allah SWT yang maha pemberi rizki. Apalah artinya kita sombong dengan harta kita, karena semua itu hanya titipan Allah swt.

Kemahiran Seseorang itu adalah Rahmat

Kemahiran yang kita miliki yang mampu menghasilkan rezki tentu bukan menjadi ladang kekayaan kita, karena tanpa ada berkah dan ridha dari Allah SWT, tentu semua itu akan sia-sia belaka.

Umat Nabi Shâlih as. (kaum Tsamûd) sangat terkenal karena memiliki kemahiran dalam bidang pertanian. Mereka memanfaatkan sumur-sumur dan mata air untuk mengairi lahan-lahan pertanian. Jadilah tanah-tanah mereka kebun-kebun yang memenuhi kebutuhan pangan. Mereka juga cakap di bidang konstruksi dengan membangun istana-istana megah di tanah datar dan dataran tinggi (QS Al-A’râf [7]: 74, Hûd[11]: 61, dan al-Syu’arâ` [26]: 146-149.

Namun, Ketika Shâlih menyeru agar menyembah Allah, mereka menolak. Mereka menganggap bahwa seluruh kekayaan dari hasil bumi dan bangunan bertingkat merupakan hasil dari ilmu mereka, sehingga Allah swt murka kepada mereka (QS. Hûd [11]: 62),
 
Umat Nabi Syu’aib (penduduk Madyan) yang dikisahkan Allah swt dalam QS. Al A’raf 85-93, Hud 83-95, dan Asy Syu’ara’ 176-191. Juga tidak mau menyempurnakan timbangan bahkan mereka membuat kerusakan di muka bumi (Q.S. Al-A’raaf [7]: 85).

Mereka, mengatakan: “Ini adalah harta kami. Kami berhak melakukan apa saja yang kami inginkan terhadap harta ini. Kami bisa mengambil sebagiannya, atau mengolahnya, atau bahkan membuangnya.” Karena mereka mendustakan Rasul dan tidak mau meninggalkan perbuatan mengurangi takaran dan timbangan serta kegiatan ekonomi lainnya yang merugikan orang lain maka kaum Madyan pun dibinasakan dengan suara menggelegar dan juga gempa bumi sebagaimana kaum Tsamud.

Membaca kisah-kisah tersebut, marilah kita bersama-sama berdoa semoga orang-orang yang saat ini sudah terlanjur kaya raya, tajir melintir, milyuner, bahkan trilyuner dapat terbuka hatinya untuk bisa berlaku filantropi dengan cara membagikan sebagian hartanya untuk masyarakat yang terdampak Covid-19. Semoga.[***]

OLEH: DR BASROWI
Alumni PPs UIN Raden Intan Lampung, Pesma Baitul Hikmah Surabaya, S3 Unair Surabaya dan S3 MSDM UPI YAI Jakarta.



Komentar Pembaca
Sidang DPR

Sidang DPR

27 Mei, 2020 | 04:04

Idul Fithri, Covid-19 dan Kebangkitan Kaum Sufi Baru
Kosong-Kosong: Makna Hakiki Bersilaturahmi
Vaksin Lebaran

Vaksin Lebaran

24 Mei, 2020 | 06:30

Tertangkap Virus

Tertangkap Virus

23 Mei, 2020 | 06:30

Larangan <i>Israf</i> di Tengah-tengah Pandemi
Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Rabu, 20 Mei 2020 | 21:05

Bubarkan Fpi

Bubarkan Fpi

Ahad, 03 Mei 2020 | 19:55