Larangan Israf di Tengah-tengah Pandemi

Kajian  SABTU, 09 MEI 2020 | 05:30 WIB

Larangan <i>Israf</i> di Tengah-tengah Pandemi

Foto ilustrasi/net

ISRAF merupakan perilaku boros yang sangat dibenci Allah SWT. Israf adalah menambah lebih dari kadar secukupnya, atau menyalurkan sesuatu yang layak melebihi dari kadar layaknya.

Israf juga merupakan perbuatan penyalahgunaan harta bukan pada jalan yang benar. Israf adalah memanfaatkan sesuatu sepantasnya namun sudah berlebihan dari yang pantas.   

Israf juga berarti menyalahgunakan, merusak, dan menghambur-hamburkan harta (Zaad Al-Masiir, 5: 27-28).
 
Sedangkan tabdzir (mubadzir) adalah menyalurkan sesauai pada sesuatu yang tidak layak. Dengan kata lain, tabdzir adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.

Mujahid mengatakan, “seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukalah tabdzir, Namun, jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan). Tabdzir juga dapat dimaknai sebagai tindakan mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru, dan pada jalan untuk berbuat kerusahakan (Tafsir Q.S 5: 68)
 
Larangan Berbuat Israf

Setiap makan selalu tidak habis dan sisanya langsung di buang. Setiap beli pakaian, hanya dipakai dua hingga tiga kali, setelah itu dimusiumkan. Hal itu merupakan contoh bentuk israf sehari-hari yang tidak sadar kalau hal itu termasuk israf.

QS Al-A’raf: 31 menjelaskan, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) maskjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kita wajib menggunakan pakaian yang bagus saat shalat di masjid, makan dan minum secukupnya, sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang israf.
 
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah salah seorang di antara kaliah shalat dengan satu pakaian hingga membuat pundaknya tidak ada kain satu pun yang menutupinya” (HR. Muslim No 516 dan An Nasa’I No. 769).

Dalam hal berpakaian, ada hadits lain yaitu Hadits Bukhari dalam Shalihnya menjelaskan, “Apa yang ada di bawah kedua mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di neraka.”

Begitu juga, Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari abu Dzar R.A ia berkata. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah di harii Kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku isbal (menurunkan pakaiannya), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.”

Hadits lain, “Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat.” (hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). “Jauhilah isbal karena ia termasuk perbuatan yang sombong (HR Abu Daud, Turmudzi, dengan sanad yang shahih).
 
Seluruh Ayat dan hadits tersebut juga memerintahkan untuk makan dan minum dari rejeki yang halal yang Allah berikan, asalkan tidak bertindak israf, apalagi mencelakai kesehatan badan. Selain itu juga dijelaskan agar kita memakai pakaian yang bagus saat shalat, meskipun tidak boleh berlebihan. Serta Allah sangat membenci orang yang israf.
 
Di Bulan suci ini yang sedang dirundung prihatin akibat wabah virus Corona, marilah kita bersama-sama untuk menhindarkan diri dari sifat israf, karena banyakk tetangga kita, yang perlu dibantu, termasuk tenaga kesehatan yang kekurangan APD juga perlu dibantu. Oleh karena itu, berbuat israf di saat suasana seperti ini tentu sangat tidak baik.

Janganlah Berperilaku Boros, karena Mengarah pada Kehancuran

Allah SWT dalam QS. Al-Isra’: 26-27, bersabda, “Dan janganlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannyan.”
 
Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam surah Al An’am: 6 yang artinya, “Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” Begitu juga di dalam Q.S Al Isra’ [17]: 37) yang artinya, “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya, engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”
 
Dari tiga ayat tesebut jelas, bahwa Alllah SWT sangat membenci orang yang berlaku israf.

Hadits Rosulullah juga melarang israf. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Makan dan minumlah, berpakainlah dan bersedekahlah tanpa bersikap berlebihan dan sombong.” (HR. An Nisa’I No 2559; Syaikh al Albani mengatakan hadist ini bersifat hasan).

Rasulullah saw mengajarkan kita agar mengakhiri makan sebelum kenyang dan hanya akan makan jika merasa lapar. Sementara itu, banyak orang makan di resotran berdua menghabiskan Rp1-2 juta. Sementara itu, banyak keluarga di desa yang mempunyai 4 orang anak hanya mempunyai penghasilan Rp 400an ribu per bulan, dan mereka semua nya dapat makan dengan enak. Itu artinya, dua orang yang makan di restoran mahal, seperti nya telah berlaku israf karena ketika digunakan untuk makan orang kampung bisa untuk tiga bulan dengan empat anak dan dua orang tua.
 
Seorang ibu rumah tangga dari keluarga mampu membeli sepasang sepatu seharga Rp5 juta, sementara anak-anak perempuan di kampung membeli sepatu seharga Rp 50 ribu. Itu artinya sepatu ibu-ibu tadi bila digunakan untuk membeli sepatu anak-anak di kampung bisa untuk membeli 100 pasang sepatu. Seorang ibu-ibu, tadi sesungguhnya telah berlaku isrof.
 
Banyak orang yang ke kantor yang seharusnya cukup dengan memakai MRT atau kendaraan umum, dan bisa selamat sampai kantor bahkan bisa jadi lebih cepat dan hemat, serta tidak merusak bumi karena menambah polusi udara, tetapi malah membawa mobil sendiri.
Di saat berpuasa ini hendaklah kita berbuka dengan secukupnya, jangan berlebihan, karena kita akan kekenyangan, lemas, dan malas untuk beribadah. Jadi jelas bahwa pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannyan.

Bigitu juga di saat resesi ekonomi karena wabah Corona, tentu kita tidak boleh makan dan minum berlebihan (israf) karena banyak saudara kita yang merasa kekurangan makan karena tidak ada penghasilan, apalagi hidup di kota yang semuanya serba membeli dengan harga yang tidak murah.
 
Israf dalam Bermedia Sosial

Hari ini kita dihadapkan banyak sekali berita hoax, copy paste dari WhatsApp Group (WAG) yang satu ke WAG lainnya, serta ‘nyampah di internet, tentu hal itu bertentangan dengan konsep israf dalam berbicara. Apalagi mengerumpi (ghibah), tentu juga merupakan bentuk israf dalam berbicara yang dilarang oleh Islam. Hadits Nabi, dari Abi Hurairah r.a dari Nabi SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Mutafaq ‘Alaih).

Diam adalah emas, oleh karena itu ketika kita mempunyai WAG, janganlah terlalu banyak berkomentar, berkomentarlah manakala sangat penting dan sangat dibutuhkan, dan pastikan bahwa komentar kita banyak memberikan manfaat kepada seluruh anggota WAG, bahkan anggota WAG yang tidak membuka kiriman kita, maka akan merugi dan menyesal.
 
Di era covid-19 ini, termasuk di bulan suci Ramadhan, tentu kita juga harus menahan diri untuk tidak banyak berbicara apalagi membincarakan sesuatu yang dapat menyinggung petugas kesehatan, pemerintah, dan orang lain, tentu sangat oleh pemerintah dan juga dilarang agama karena akan mengurangi nilai puasa itu sendiri.

Efek Negatif dan Cara Menghindari Israf

Israf mempunyai efek negatif baik bagi pelakunya maupun bagi orang lain. Israf juga mempunyai efek yang tidak baik dipandang dari kesehatan, psikologis maupun sosial/etika. Berlebihan makan tentu tidak baik bagi kesehatan dan etika. Memanjangkan pakaian juga tidak baik bagi psikologi dan etika. Terlalu banyak berbicara juga tidak baik bagi psikologi dan etika. Terlalu hedonis (berlebihan dalam berkonsumsi kebutuhan skunder dan tersier) juga tidak baik secara psikologis dan sosial/etika.
 
Cara menghindari israf adalah: 1) membiasakan diri makan dan minum secukupnya, 2) istiqomah membiasakan hidup dan berkonsumsi secara sehat, 3) selalu membuat perencanaan pengeluaran untuk konsumsi dan beramal dengan baik dan terprogram, 4) selalu mengingat keadaan yang tidak terduga misalnya terjadi kemiskinan dan kelaparan, 5) membiasakan diri menggunakan pakaian yang baik dan tidak berlebihan, 6) tidak membiasakan diri mengerumpi (ghibah), 7) bersedekah, zakat, dan berinfak kepada orang yang berhak atau melalu lembaga yang amanah, 8) rajin menabung untuk amal shalih, 9) selalu berdoa untuk mendapatkan rizki yang halal, dan terhindar dari sifat israf, 10) selalu bertawakal kepada Allah. [***]
 
OLEH: DR. MUHAMMAD BASROWI
Penggiat Ekonomi Syariah PPs UIN Raden Intan Lampung, Alumni Ponpes Baitul Hikmah Surabaya, S3 Unair Surabaya dan S3 MSDM UPI YAI Jakarta.



Komentar Pembaca
Harian DI\'s Way

Harian DI's Way

02 Jul, 2020 | 06:35

Sujud Risma

Sujud Risma

01 Jul, 2020 | 06:05

Pilih DI\'s Way

Pilih DI's Way

27 Jun, 2020 | 06:25

Password Yudiu

Password Yudiu

24 Jun, 2020 | 05:46

Terpojok 99 Tahun

Terpojok 99 Tahun

22 Jun, 2020 | 08:00

Batu Himalaya

Batu Himalaya

21 Jun, 2020 | 09:10