Ketua Sidang Dalami Kode Oke Sip Hasto-Saeful Bahri

Hukum  JUMAT, 17 APRIL 2020 | 03:05 WIB | RMOL

Ketua Sidang Dalami Kode Oke Sip Hasto-Saeful Bahri

MoeslimChoice | Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mengadili terdakwa Saeful Bahri mendalami kode 'Oke Sip' dari Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto.

Dalam sidang lanjutan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi untuk terdakwa Saeful Bahri ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua saksi yakni Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto dan supir Saeful Bahri, Ilham Yulianto, Kamis, 16/4/20.

Sebelumnya, Jaksa KPK telah mengungkapkan adanya kode 'Oke Sip' dari percakapan antara Hasto Kristiyanto dengan Saeful Bahri.

Hakim Ketua, Panji Surono pun kembali mendalami kode tersebut kepada saksi Hasto Kristiyanto yang tidak hadir di pengadilan saat persidangan dan hanya melalui video telekonferensi.

"Di dalam percakapan 13 Desember 2019 terkait dengan laporan yang disampaikan oleh saudara Saeful Bahri bahwa yang bersangkutan sudah bertemu dengan saudara Harun Masiku. Saudara kan memberikan oke sip, oke sip ya, itu apa, apakah selalu begitu jawabannya atau gimana?" tanya Hakim Ketua Panji Surono kepada Hasto Kristiyanto.

"Ya sebagaimana tadi saya jelaskan bahwa setelah saya mendengar kabar bahwa adanya permintaan uang dari terdakwa tersebut saya maka yang bersangkutan.....," jawab Hasto yang sebagian keterangannya tak terdengar karena gangguan jaringan.

Hakim Ketua pun meminta Hasto mengulangi jawabannya tersebut.

"Memang jawabannya saya seperti itu Yang Mulia singkatnya, saya memberikan jawaban 'oke sip' artinya saya membaca dan tidak menaruh atensi karena memang menerima begitu banyak WA sebagai Sekjen PDIP," jawab Hasto melanjutkan.

Bukan hanya pada saat itu, Hakim Ketua pun juga melihat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Hasto bahwa adanya kode 'Oke sip' yang terjadi pada 23 Desember 2019.

"Tetapi yang tanggal 23 Desember (2019) ya, walaupun saudara tidak mengikuti langsung isi dari chat itu tapi saudara juga menyatakan 'oke sip' gitu, apa maksudnya semua 'oke sip' 'oke sip' gitu?," tanya Hakim Ketua.

"Ya maksudnya 'oke sip' bahwa saya menerima WA tersebut saya membaca dan kemudian saya tidak memberikan perintah atau atensi atas hal tersebut, maka saya jawab 'oke sip' 'oke sip'. Bahkan termasuk untuk urusan yang tadi yang ditayangkan sangat penting urusan chatan pun yang diusulkan oleh saudara terdakwa saya hanya menjawab 'oke sip'," jelas Hasto.

Hakim pun kembali mempertanyakan kata tersebut yang kerap disebutkan oleh Hasto pada percakapan dengan Saeful Bahri.

"Intinya gitu ya 'oke sip' itu tidak harus benar semua tapi yang tidak benar saudara juga menjawab 'oke sip' gitu?" tanya Hakim Ketua.

"Ya kami menjawab seperti itu Yang Mulia 'oke sip'. Ya kalau tidak benar kami tidak jawab 'oke sip' yang mulia mohon maaf," kata Hasto meluruskan.

Diketahui dalam surat dakwaan, pada 13 Desember 2019 yang di maksud Hakim Ketua juga pada tanggal yang sama telah terjadi pertemuan antara Saeful Bahri dan Donny Tri Istiqomah dengan Harun Masiku.

Di mana, pertemuan itu terjadi di Restoran Hotel Grand Hyatt Jakarta. Dalam pertemuan itu, Saeful Bahri menyepakati bahwa untuk pengurusan di KPU melalui Wahyu Setiawan dibutuhkan biaya operasional senilai Rp 1,5 miliar.

Sedangkan pada 23 Desember 2019 yang ditanyakan Hakim Ketua juga masih berkaitan percakapan antara Saeful Bahri dengan Hasto Kristiyanto seperti yang sudah ditanyakan Jaksa Takdir sebelumnya.

"Pak tadi sudah ditanyakan ada komunikasi chat WA Bapak dengan Pak Saeful, apakah ada komunikasi lain? Ini penegasan kembali bahwa ada penyampaian oleh terdakwa ini menyampaikan bahwa 'lapor Mas, hari ini Pak Harun geser 850', ada penyampaian demikian saksi di komunikasi chat WA tanggal 23 Desember?" tanya Jaksa Takdir kepada Hasto.

Pada pesan dari Saeful itu, Hasto kembali menjawab 'Oke sip' kepada Saeful Bahri.

Setelah percakapan antara Hasto Kristiyanto dengan Saeful pada 23 Desember 2019 itu, Harun Masiku kembali menghubungi Saeful dan menyampaikan agar Saeful mengambil uang sejumlah Rp 850 juta.


Komentar Pembaca