Kimberly Sah Penipu, Divonis 7 Bulan Penjara

Hukum  KAMIS, 16 APRIL 2020 | 18:15 WIB | Yukie H Rushdie

Kimberly Sah Penipu, Divonis 7 Bulan Penjara

Kimberly, terpidana perkara penipuan jual-beli harimau Rusia

MoeslimChoice | Terdakwa perkara jual-beli harimau Rusia, Kimberly (28), dinyatakan secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penipuan, sehingga dijatuhi vonis penjara selama 7 bulan dipotong masa tahanan —lebih rendah tiga bulan dari tuntutan jaksa.

Ketua Majelis Hakim, Fahzal Hendri, membacakan vonis yang dijatuhkannya terhadap terdakwa Kimberly itu pada sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa (14/4/2020).

Menanggapi putusan Majelis Hukum tersebut, baik penasihat hukum terdakwa, Habib Novel Alaydrus, maupun Jaksa Penuntut Umum (JPU), Fedrick Adhar, menyatakan menerima.

Dengan inkracht atau tercapainya putusan hukum yang bersifat tetap itu, maka terdakwa Kimberly langsung menjalani masa hukumannya di Rumah Tahanan Khusus Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Berdasarkan data pada Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Jakarta Utara, terdakwa telah menjalani masa penahanan sejak tanggal 9 November 2019. Sehingga, menurut perhitungan vonisnya, ia bakal mendekam di balik jeruji besi itu hingga sekitar awal Juni 2020.

Setelah mendengar putusan hakim itu, korban penipuan Kimberly, Andri, menyampaikan kekecewaannya.

“Masa-masa menderita saya sebagai korban jauh lebih lama ketimbang masa hukuman yang dijalani si penipunya sendiri,” kata Andri kepada MoeslimChoice, Kamis (16/4/2020).

Ia hanya berharap, semoga perjalanan perkaranya ini, sejak awal peristiwa hingga putusan pengadilan, tidak menjadikan Indonesia sebagai surga bagi para penipu.

“Mudah-mudahan ini tidak merangsang orang untuk menjadikan tindak pidana penipuan sebagai profesi mencari penghasilan. Menipu ratusan juta, lalu menebusnya dengan menjalani kehidupan di penjara selama hitungan bulan saja. Ini bisa menjadi standar gaji terbesar bila nilai penipuannya dibagi ke dalam masa hukumannya,” kata Andri lagi, satir.

Meski begitu, Andri mengaku mendapat kepuasan tersendiri, karena sudah terbukti bahwa dia tidak berbohong ataupun memfitnah saat melaporkan Kimberly sebagai penipu.

“Majelis Hakim sepakat dengan JPU bahwa terdakwa Kimberly terbukti memenuhi unsur-unsur yang sah dan meyakinkan telah melakukan penipuan terhadap saya. Artinya, kalaulah sekarang ada yang bilang Kimberly itu penipu, janganlah dianggap sebagai pencemaran nama baik, karena itu memang sudah menjadi fakta,” katanya.

Sementara itu, Masrin Tarihoran, kuasa hukum Andri, menyatakan, relatif ringannya vonis hakim itu tak lepas dari entengnya tuntutan JPU.

"Mereka yang memeriksa berkas penyidikan, mereka yang mendalami alat-alat bukti, dan mereka juga yang menyatakan yakin adanya tindak pidana penipuan oleh Kimberly. Tetapi, kenapa mereka cuma menuntutnya dengan penjara 10 bulan?" kata Masrin kepada MoeslimChoice, Kamis (16/4/2020).

Menurutnya, kalau memang JPU merasa yakin terhadap tindak pidana yang dilakukan terdakwa, setidaknya mereka harus berani menuntutnya dengan hukuman penjara selama setengah dari ancaman maksimal pada pasal yang didakwakan.

"Kesannya jadi seperti begini: yakin terhadap perbuatannya, tetapi ragu-ragu untuk menghukumnya. Sikap seperti demikian tentunya berpotensi melahirkan kekecewaan, karena bersifat ambigu, tidak tegas, kalau bukan mencla-mencle," kata Masrin lagi.

 

Kronologi Perkara

Diberitakan sebelumnya, sekitar pertengahan 2018, seorang pecinta hewan bernama Andri berniat memelihara seekor harimau Rusia secara legal. Melalui jejaring medsos, ia menyampaikan keinginannya itu kepada teman-temannya sesama pecinta hewan.

Alhasil, masih di tahun 2018, Andri —melalui jejaring Facebook— diperkenalkan dengan seorang wanita bernama Kimberly, yang mengaku mampu mendatangkan bayi harimau Rusia secara resmi.

Saat itu, Kimberly mengatakan kepada Andri, kebetulan tersedia seekor bayi harimau berusia dua minggu, dan ia sanggup mendatangkannya secara resmi dari Rusia.

“Demi meyakinkan Andri sebagai calon pembeli, Kimberly memperlihatkan foto CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atas namanya. CITES adalah sertifikasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI untuk mendatangkan hewan terlindungi dari luar negeri,” kata kuasa hukum Andri, Masrin Tarihoran, kepada MoeslimChoice.

Berdasarkan kepemilikan CITES itulah, maka Andri pun percaya dan sepakat untuk membeli seekor bayi harimau Rusia dari Kimberly.

Kesepakatannya, Andri harus membayar Rp 191 juta sebagai uang muka, sementara sisanya dibayar setelah bayi harimau itu sampai di tangannya.

“Kimberly menyanggupi, semua proses itu paling lama berjalan satu bulan. Bila bayi harimau itu tidak didapat, Kimberly mengatakan bertanggung jawab dan bersedia mengembalikan seluruh uang Andri yang Rp 191 juta tadi,” kata Masrin.

Namun, sampai waktu yang dijanjikan Kimberly itu, bayi harimau Rusia tersebut tak pernah datang dan diterima Andri. Bahkan, hingga detik ini, sang bayi harimau itu pun tak pernah sampai di Indonesia.

Ketika Andri mencoba menagih janji Kimberly untuk mengembalikan uang yang sudah ia serahkan, respons wanita asal Penjaringan itu cenderung tidak kooperatif.

Bahkan, Kimberly malah menantang Andri untuk melaporkannya ke polisi. Ia pun kemudian menyebar berbagai fitnah terhadap Andri di jejaring medsos.

Sikap Kimberly itu mendorong Andri melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Apalagi, Andri sendiri sudah merasa yakin bahwa ia jadi korban penipuan.

Dalam Laporan Polisi bernomor LP/3489/VI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum tertanggal 10 Juni 2019 itu, Andri bertindak selaku pelapor sekaligus korban, sementara Kimberly menjadi terlapor atas dugaan tindak pidana Pasal 378 dan/atau 372 KUHP.

Pihak kepolisian pun, dalam hal ini Polres Metro Jakarta Utara, kemudian menetapkan Kimberly sebagai tersangka.

Lalu, setelah menuntaskan proses penyidikan, berkas perkara Kimberly itu dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara pada tanggal 6 Januari 2020. Sejak saat itu jualah Kimberly menjalani masa penahanannya di Rutan Pondok Bambu.

Dan, berdasarkan surat pelimpahan nomor B-32/0.1.11/Ep.2/01/2020 tanggal 14 Januari 2020, Kejari Jakut menyerahkan berkas perkara itu ke PN Jakarta Utara untuk selanjutnya didaftarkan dengan nomor perkara 76/Pid.B/2020/PN Jkt.Utr tertanggal 21 Januari 2020. [yhr]


Komentar Pembaca
Sidang Itsbat Akan Digelar 21 Juli 2020

Sidang Itsbat Akan Digelar 21 Juli 2020

Jumat, 03 Juli 2020 | 14:30

Inilah Kunci Ketenangan Hati Menurut Al Quran
New Normal New Ideas

New Normal New Ideas

Minggu, 05 Juli 2020 | 02:30