Gagal Mudik Gegara Corona, Ini Curhat Perantau Pacitan

Daerah  SENIN, 13 APRIL 2020 | 14:05 WIB

Gagal Mudik Gegara Corona, Ini Curhat Perantau Pacitan

Ilustrasi

MoeslimChoice | Nasib perantau asal Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, terkatung-katung di tanah orang. Mereka khawatir batal mudik ke kampung halaman. Kalaupun bisa mudik, mereka khawatir tidak diterima oleh warga setanah dan setumpah darahya. Semua itu gegara virus Corona.

Mengadu nasib di tanah rantau, karena iming-iming dari sanak saudara atau ajakan teman-teman yang sudah lebih dulu berangkat, peningkatan penghasilan yang menjanjikan, dan ketersediaan lapangan pekerjaan yang luas, semua itu memang fakta.

Namun, mereka juga tetap harus ingat pada kampung halaman, setidaknya setahun sekali —biasanya di saat-saat mendekati bulan suci Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri. Dan, sekali ini, benak mereka dipenuhi kebimbangan untuk mewujudkan ritual tahunan tersebut.

Kebimbangan semacam itu jualah yang kini mendera Edi Susanto (45), salah seorang perantau asal Kecamatan Kebonagung, Pacitan. Keinginannya bertemu sanak keluarga harus tertunda, karena kondisi penyebaran virus Corona dinyatakan belum aman.

“Sudah empat tahun saya tidak pernah mudik. Rasa rindu kepada keluarga sudah sangat menjadi-jadi, apalagi mendekati bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri,” ucapnya, saat dihubungi via sambungan telepon seluler oleh Kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Senin (13/4/2020).

Selain ingin menikmati suasana Lebaran di kampung halaman, keinginan mudik Edi tahun ini pun karena ingin memperkenalkan sang istri tercintanya kepada kedua orangtua. Tapi, apa daya, Covid-19 telah merenggut niatannya tersebut.

“Saya kan sudah menikah sejak dua tahun lalu, di tanah rantau, dan dengan orang rantau juga. Istri saya itu orang Lampung. Maksud saya pulang ke Tanah Jawa, selain berlebaran bersama keluarga, juga ingin memperlihatkan istri saya secara nyata kepada orangtua,” curhat Edi.

Ia mengisahkan, sejak menikahi gadis Lampung itu, kedua orangtuanya di Pacitan belum pernah kesampaian bertatap muka dengan menantunya tersebut. Mereka hanya melihat melalui foto yang dikirimkan Edi melalui handphone milik tetangga dekatnya.

Kerinduan pada kampung halaman, harapan bercengkerama dengan teman-teman semasa sekolah dulu, bayangan menikmati menu Lebaran ala tanah kelahirannya, malah memperdalam kepedihan di hati yang berujung pada kian memberatnya genangan air di mata.

Dengan nada sendu, Edi hanya berharap Allah SWT segera mengenyahkan virus Corona dari Bumi Nusantara, demi nasib para perantau seperti dirinya yang sudah begitu merindukan sanak saudaranya di kampung halaman.

“Tentunya, semua teman sesama anak rantau tak pernah berhenti berdoa, berharap agar Allah SWT segera menghilangkan virus Corona ini,” harapnya.

Meski hasrat bertemu kerabat memang sudah kian membuncah, namun ia berkeputusan, saat ini lebih baik mentaati imbauan pemerintah, daripada terjadi hal-hal yang sama tak ia inginkan, baik bagi dirinya di tanah rantau maupun keluarganya di Tanah Jawa. [yhr]


Komentar Pembaca