Tidak Melaksanakan Shalat Jumat Tiga Kali Berturut-turut Digolongkan Kafir?

Nasional  JUMAT, 03 APRIL 2020 | 14:45 WIB

Tidak Melaksanakan Shalat Jumat Tiga Kali Berturut-turut Digolongkan Kafir?

foto/net

Sebuah riwayat hadits menyatakan: "Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa udzhur, maka Allah akan tutup hatinya." 

Dalam hadits yang lain, meninggalkan shalat Jumat dengan menggampangkan atau meremehkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Barang siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali dengan meremehkan, maka Allah tutup hatinya."

Lantas, benarkah jika seorang Muslim tidak melaksanakan shalat Jumat tiga kali berturut-turut digolongkan sebagai seorang kafir?  

Menurut Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Niam Sholeh, bahwa pria Muslim yang menggugurkan kewajiban shalat Jumat tiga kali berturut-turut di kala pandemi virus corona tak lantas digolongkan kafir, jika Muslim tersebut menggantinya dengan melaksanakan shalat dzuhur di rumah.

Jika Pria Muslim tidak melaksanakan shalat Jumat untuk menghindari wabah penyakit,  mengalami uzur syar'i atau segala halangan sesuai kaidah syariat Islam yang menyebabkan seseorang boleh untuk tidak melakukan kewajiban atau boleh menggantikan kewajiban itu dengan kewajiban lain.

"Menurut pandangan para ulama fikih (ilmu hukum agama) uzur syar'i untuk tidak shalat Jumat, antara lain karena sakit atau karena khawatir mendapatkan sakit. Nah, dalam kondisi ketika berkumpul dan berkerumun itu diduga kuat akan terkena wabah atau menularkan penyakit, maka itu menjadi uzur untuk tidak Jumatan (shalat Jumat)," demikian penjelasan Asrorun, seperti dikutip dari Antara.

Sementara, pria Muslim yang meninggalkan shalat Jumat karena meremehkan atau mengingkari kewajiban Jumat tiga kali berturut-turut sebagaimana dinukil dari hadits shahih bisa dikategorikan kafir.

"Perlu disampaikan bahwa hadits yang menyatakan kalau tidak shalat Jumat selama tiga kali berturut-turut dihukumi kafir itu, jika mereka ingkar pada kewajiban Jumat," kata pria yang juga Dosen Pascasarjana Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Asrorun menambahkan, ada juga pria Muslim yang tidak shalat Jumat karena malas. Mungkin pria Muslim itu meyakini kewajiban Jumat, tapi tidak melakukannya sebab malas tanpa adanya uzur syar'i. Maka ganjarannya, pria Muslim itu berdosa atau 'ashin (melakukan maksiat).

Sebelumnya, MUI Pusat telah mengeluarkan fatwa, bagi seseorang yang berada di kawasan yang potensi penularan wabah Covid-19 tinggi atau sangat tinggi, dibolehkan mengganti shalat Jumat dengan shalat Dzuhur di rumah.

Fatwa itu dikeluarkan karena hingga kini pandemi virus Corona masih belum bisa dikendalikan, karena potensi penularan dan tingkat risiko penyebarannya masih tinggi.

Asrorun lalu mengutip kitab Asna al-Mathalib yang menyebutkan orang yang terjangkit wabah lepra dan penyakit menular lainnya dicegah untuk berjamaah ke Masjid dan sholat Jumat, juga bercampur dengan orang-orang yang sehat.

Ia juga menyebut dalam kitab al-Inshaf yang menyatakan, uzur yang dibolehkan meninggalkan shalat Jumat dan jamaah adalah orang yang sakit.

"Hal itu tidak ada perbedaan pandangan di kalangan ulama. Termasuk uzur juga, apabila yang dibolehkan meninggalkan shalat Jumat dan jamaah karena takut terkena penyakit," kata Asrorun merujuk pada kitab-kitab tersebut.

Sehingga dapat disimpulkan, bahwa kondisi wabah Covid-19 menjadikan uzur bagi pria Muslim untuk tidak melaksanakan shalat Jumatan. Pasalnya, saat wabah itu ada yang sakit, ada yang khawatir akan sakitnya, khawatir menularkan penyakit ke orang lain, serta ada orang yang khawatir tertular penyakit dari orang lain.

"Selama masih ada uzur, maka masih tetap boleh tidak Jumatan. Dan baginya tidak dosa. Kewajibannya adalah mengganti dengan shalat dzuhur," kata Asrorun.

Selain sakit, ada beberapa uzur syar'i lain yang dibolehkan meninggalkan Jumat. Beberapa di antaranya adalah hujan deras yang menghalangi menuju masjid, lalu karena adanya kekhawatiran akan keselamatan diri, keluarga, atau harta. Alasan-alasan itu juga membuat seseorang dibolehkan tidak melaksanakan shalat Jumat asal mengganti kewajibannya dengan shalat dzuhur. [mel]


Komentar Pembaca