BI dan Pemerintah Koordinasi Antisipasi Resesi

Ekonomi  RABU, 01 APRIL 2020 | 04:10 WIB | Warni Arwindi

BI dan Pemerintah Koordinasi Antisipasi Resesi

Ilustrasi resesi | Foto Getty Images

MoeslimChoice | Bank Indonesia (BI) menyatakan terus mengantisipasi kondisi resesi ekonomi dunia di tengah pandemi virus corona (covid-19). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, bila resesi benar-benar terjadi maka dampak ke sektor ekonomi sejatinya tidak hanya berpengaruh terhadap perdagangan global, baik ekspor maupun impor. Namun, juga akan mengganggu laju investasi, sektor industri lain, hingga mobilisasi masyarakat.

Resesi merupakan kondisi penurunan ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut. Implikasinya, kualitas kehidupan akan menurun dan banyak sektor akan menghadapi masalah dalam mempertahankan kelangsungan bisnisnya.

"Kami terus berdiskusi dan berkoordinasi intens dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo, terutama Menteri Keuangan (Sri Mulyani Indrawati), kalau global itu resesi, maka dampak langsungnya ke Indonesia seperti apa?" ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo, Selasa, 31/3/20.

Sejauh ini, ujarnya, BI dan pemerintah sudah mengeluarkan beberapa kebijakan stimulus di bidang fiskal, moneter, dan sektor riil, khususnya bagi lembaga jasa keuangan. Mulai dari perbankan, asuransi, pembiayaan, hingga dana pensiun.

Selain itu, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus memantau kondisi Indonesia melalui berbagai protokol pemantauan. KSSK terdiri dari Kementerian Keuangan, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"Saat ini, kami sudah berkoordinasi dan pemerintah sedang finalisasi bagaimana perkiraan-perkiran yang baru dan stimulus apa yang diperlukan lagi. Semuanya tunggu pengumuman resmi dari pemerintah," katanya.

Lembaga Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) sebelumnya memperkirakan resesi ekonomi dunia akan terjadi seiring pandemi virus corona. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi dunia melambat dalam waktu cukup lama.

Mengutip IMF, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan laju ekonomi dunia akan negatif pada tahun ini akibat tekanan pandemi corona. Proyeksi ini terjun bebas dari estimasi sebelum pandemi yang masih menyebut pertumbuhan global hingga 3,1 persen.

IMF lantas berencana mengguyur pinjaman senilai US$1 triliun kepada negara-negara berkembang yang membutuhkan bantuan untuk penanganan pandemi corona. IMF juga tengah mengkaji penambahan stimulus bantuan sebesar US$500 miliar.

Sementara untuk laju ekonomi Indonesia, Sri Mulyani memperkirakan skenario terburuk pertumbuhan bisa berada di kisaran 0 persen sampai 2,5 persen pada tahun ini. Proyeksi ini jauh lebih rendah dari target pertumbuhan ekonomi di APBN 2020 sebesar 5,3 persen.

Toh BI lebih optimistik dengan proyeksi ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih bisa tumbuh di kisaran 4,2 persen sampai 4,6 persen.  Kita lihat saja realisasnya.


Komentar Pembaca
Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Rabu, 20 Mei 2020 | 21:05

Bubarkan Fpi

Bubarkan Fpi

Ahad, 03 Mei 2020 | 19:55