Mohon Maaf, Wisata Syahwat di Pacitan Sementara Tutup Dulu, Ya…

Daerah  SELASA, 31 MARET 2020 | 11:20 WIB

Mohon Maaf, Wisata Syahwat di Pacitan Sementara Tutup Dulu, Ya…

Sebagian spanduk-spanduk imbauan inisiatif masyarakat Pacitan

MoeslimChoice | Sejumlah coretan unik muncul di daerah Arjowinangun, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, di tengah upaya pemerintah setempat melakukan pembatasan interaksi sosial, terutama dengan para pendatang dari luar wilayahnya, demi mengantisipasi penyebaran virus Corona (Covid-19).

Pada situasi normal, daerah Arjowinangun dikenal karena kehirukannya yang paling pikuk, baik siang maupun malam. Maklum saja, di situ memang menjadi salah satu titik pusat interaksi sosial masyarakat Pacitan, dengan keberadaan pasar, terminal angkutan umum, hingga tempat bergentayangannya kupu-kupu malam alias wanita penjaja seks komersial.

Kini, di tengah maraknya virus Corona, para pemuda dan warga masyarakat sekitar membuat berbagai spanduk imbauan bagi para pendatang yang berniat masuk ke wilayah tersebut. Isinya macam-macam, mulai dari “Stop Warga Luar Daerah” hingga “Wisata Syahwat Tutup”.

Tak hanya itu, mereka pun bergerilya secara bersama-sama ke tempat-tempat kos dan penginapan yang ada di wilayah tersebut. Aksi tersebut ternyata membuah hasil positif.

Salah seorang anggota masyarakat yang mengaku bernama Pak Kecrot menyampaikan, upaya yang dilakukan pemuda, masyarakat, dan pemerintah desa itu berhasil memulangkan sejumlah orang yang dianggap sebagai pendatang dari wilayah Zona Merah Corona.

“Mereka itu kan warga dari Zona Merah. Ada yang dari daerah Klaten, Solo, Sukoharjo, dan ada juga warga Pacitan yang bekerja sebagai wanita penghibur,” kata Pak Kecrot kepada Kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Senin (30/3/2020).

Menurut keterangan yang berhasil dihimpunnya, lanjut Pak Kecrot, di antara orang-orang yang dipulangkan itu ada sekitar empat orang yang diketahui bekerja sebagai penjaja seks komersial, tiga orang pengamen, dan tukang pijat yang tinggal di kos-kosan milik warga sekitar.

“Mereka kita imbau untuk pulang atau dipulangkan. Tetapi, mereka memilih pulang sendiri ke daerah asalnya. Karena, kalau mereka masih juga nekat, kita yang akan memulangkannya secara paksa dengan menghubungi pemerintah desa asalnya untuk dijemput,” tambahnya.

Usut punya usut, ternyata gerakan pemuda Dusun Kauman, Arjowinangun, itu berawal dari hasil laporan di aplikasi milik Kabupaten Pacitan, yaitu Wadhule Pacitan. Informasi itu pun akhirnya sampai ke pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Pacitan.

Kemudian, empat anggota Satpol PP langsung meluruk cepat meninjau lokasi, dan bergerak bersama masyarakat sekitar untuk mencari solusi.

Suparman, salah satu anggota Satpol PP Kabupaten Pacitan, saat dimintai keterangan secara terpisah, mengungkapkan, di daerah tersebut memang ada sejumlah wanita malam yang beroperasi saat aksi penyisiran berlangsung. Sehingga, pihaknya melakukan tindakan pengamanan.

“Ya, memang, kita langsung datang bergerak ke arah lokasi untuk melakukan penyisiran, dan berhasil mengamankan beberapa orang yang bekerja sebagai wanita malam, pengamen, dan tukang pijat,” kata Suparman kepada MoeslimChoice.

Selain memberikan pembinaan kepada wanita-wanita malam itu, pihak Satpol PP juga mengimbau para pemilik hotel, penginapan, dan tempat kos agar sementara tidak menerima tamu dan melakukan aktivitas dulu selama situasinya belum dinyatakan aman.

“Pembinaan kita lakukan. Imbauan pun kita berikan, karena kondisi saat ini terkait Covid-19, masih berstatus darurat. Kalau tidak diindahkan, maka kami (Satpol PP) akan bertindak lebih tegas lagi,” pungkasnya. [yhr]


Komentar Pembaca