Pengamat Ini Bandingkan Presiden Ghana dengan Indonesia Soal Penanganan Pedemi Corona

Kesehatan  MINGGU, 29 MARET 2020 | 23:10 WIB

Pengamat Ini Bandingkan Presiden Ghana dengan Indonesia Soal Penanganan Pedemi Corona

Moeslimchoice | Pengamat Politik Islam, Tarmidzi Yusuf membandingkan langkah yang diambil Presiden Ghana, Nana Akufo Addo dengan pemerintah Indonesia terakit kebijakan dalam menangani pedemi virus corona baru (Covid-19).

"Catat ya. Baru 137 kasus positif corona. Meninggal 4 orang. Ghana langsung lockdown," tulis Tarmidzi dalam tulisannya yang beradar di media sosial (Medsos), Minggu (29/3/20).

Bandingkan dengan Indonesia, lanjut dia, berdasarkan data 28 Maret 2020 sudah  ada 1.155 positif corona. 102 orang meninggal. Tingkat kematian alias CFR tertinggi kedua di dunia setelah Italia, 8,83%.

"Indonesia jangankan lockdown. Pemerintah sibuk malah melempar isu-isu baru yang tidak ada hubungannya dengan corona. Semisal, subsidi selisih bunga dan uang muka KPR. Serta pelonggaran angsuran kredit kendaraan 1 tahun," ujar Tarmidzi.

Sibuk pula mengcounter upaya-upaya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui buzzer dan influecer bayaran. Malah ada yang demo depan Balaikota. Memaki-maki Anies Baswedan dengan ucapan yang tidak pantas.

"Menggiring isu corona menjadi isu politik. Gagal fokus dan gagal faham. Melakukan hal-hal yang jadi blunder sendiri. Membuat publik tidak percaya karena beda antara ucapan dengan fakta. Inilah ucapan seorang Presiden yang bertanggung jawab terhadap nyawa rakyatnya?" tulis Tarmidzi.
 
Presiden Ghana, Nana Akufo Addo saat mengumumkan Lockdown, lanjutnya, mengatakan,”Kami tahu bagaimana menghidupkan kembali perekonomian, yang kami tidak tahu adalah bagaimana menghidupkan  kembali orang meninggal”.

Hanya 15 hari sejak diumumkan positif corona masuk Ghana. Lockdown (30/3). Tidak menunggu korban hingga 10 orang.

"Lha Indonesia sudah ratusan orang. Masih patantang patenteng. Senyam senyum. Tidak ada rasa sedih dan duka. Rakyat sudah lebih 100 orang meninggal," ungkap Tarmidzi.

PHK di depan mata. Usaha UMKM menjerit. Pekerja sektor informal dan driver online merana. Belum ada langkah dan strategi.

"Dua bulan lebih mereka kehilangan pekerjaan dan pendapatan akibat stay at home. Bisa timbul masalah sosial baru. Jangan dianggap remeh," paparnya.

Sudah hampir sebulan sejak diumumkan adanya korban virus corona, pemerintah Indonesia masih bersikukuh tidak perlu lockdown. Berputar-putar tanpa menyentuh substansi masalah. Sementara korban saban hari bertambah. Rakyat kecil menjerit karena harus makan.

"Rakyat curiga. Jangan-jangan ada yang senang Indonesia menjadi kuburan massal corona," ujarnya.

Para ahli telah memprediksi. Lonjakan korban corona akan terjadi bulan April hingga Mei 2020. Ribuan rakyat diprediksi meregang nyawa akibat ganasnya virus corona. Bila tidak diantisipasi secara terencana, terarah dan terukur.

"Jangan-jangan berkurangnya penduduk Indonesia sebesar 2%, bila prediksinya benar, akibat corona akan diganti dari TKA China komunis yang marak masuk Indonesia akhir-akhir ini," ungkap dia.

"Rakyat curiga dan suudzon, wajar. Yang tidak wajar itu, Pemerintah bersikap abai dan lalai. Sibuk dengan dirinya sendiri. Mempermainkan isu corona untuk agenda politiknya," tandasnya. [fah]


Komentar Pembaca
Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Rabu, 20 Mei 2020 | 21:05

Bubarkan Fpi

Bubarkan Fpi

Ahad, 03 Mei 2020 | 19:55

NOORCA M. MASSARDI: Ketika Lebaran

NOORCA M. MASSARDI: Ketika Lebaran

Rabu, 03 Juni 2020 | 21:05