Makna Syair Sunan Kalijaga di Mata Tokoh NU Pacitan

Daerah  KAMIS, 26 MARET 2020 | 11:45 WIB

Makna Syair Sunan Kalijaga di Mata Tokoh NU Pacitan

KH Abdullah Sadjad, tokoh Nahdlatul Ulama Kabupaten Pacitan

MoeslimChoice | Secara historis, Sunan Kalijaga mencipta tembang Lir-ilir ini di awal abad ke-16, saat Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan, dan ajaran Islam memasuki pesisir Pulau Jawa. Tidaklah mengherankan kalau isinya mengandung nilai-nilai luhur, moral, dan budi pekerti, sesuai syariat Islam.

Syair Lir-ilir, yang terdiri dari bait-bait berbahasa Jawa pasemon (memiliki makna tersembunyi), menjadi literasi tembang Jawa yang sangat elok didengar. Melalui karya seni ini, yang diiringi gamelan Jawa, Sunan Kalijaga mengajar dan berdakwah agar orang-orang meyakini untuk memeluk agama Islam.

Masing-masing baris mengandung pesan mendalam terkait nilai-nilai yang diperlukan untuk menciptakan struktur masyarakat yang baik dan bermartabat. Setiap kata dan barisnya sambung menyambung, hingga menciptakan pemahaman sebagai sebuah syair.

Sunan Kalijaga menciptakan tembang Lir-ilir ini demi mendorong optimisme orang yang sedang melakukan amal kebaikan. Kesempatan hidup di dunia haruslah dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan, bukannya membunuh sesama, karena segala perbuatan selalu mendatangkan balasan. Berikut syair lengkapnya:

Lir-ilir lir-ilir tandure wus sumilir / Tak ijo royo royo / Tak sêngguh temantèn anyar / Cah angon cah angon peneknå blimbing kuwi / Lunyu lunyu peneknå kanggo mbasuh dodot-irå // Dodot-irå dodot-irå kumitir bêdhah ing pinggir / Dondomånå jlumatå kanggo sebå mêngko sore / Mumpung padhang rêmbulane / Mumpung jêmbar kalangane / Yå surakå surak-iyå

[Bangunlah, bangunlah tanaman sudah bersemi / Demikian menghijau / Bagaikan pengantin baru / Anak gembala, anak gembala panjatlah pohon belimbing itu / Biar licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu // Pakaianmu, pakaianmu terkoyak di bagian samping / Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore / Mumpung bulan bersinar terang / Mumpung banyak waktu luang / Ayo bersoraklah dengan sorakan iya]

 

Makna Syair

Tembang ini diawali dengan kata Lir-ilir, yang artinya “bangunlah”, atau bisa juga diartikan sebagai “sadarlah”.

Manusia diajak bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas, lalu mempertebal keimanan yang telah ditanamkan Allah SWT dalam dirinya. Maka, diumpamakanlah dengan kata tandure wus sumilir, atau “tanaman yang mulai bersemi dan pepohonan yang mulai menghijau”.

Namun, saat ini, ke manakah syair itu? Benarkah sudah tergerus zaman yang bingar ini —zaman ketika manusia kehilangan kesopanan dan akal sehat?

Hal itu dibenarkan KH Abdullah Sadjad, salah satu Pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatussubhan yang juga tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Menurutnya, syair itu memang dipakai oleh Waliyullah Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa dan Nusantara.

“Memang benar. Menurut riwayatnya, syair itu adalah bahan penyebaran agama Islam di Tanah Jawa dan juga Nusantara. NU tentunya merupakan organisasi yang mengakui keberadaan atau silsilah Walisongo itu,” katanya kepada Kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Kamis (26/3/2020).

NU, lanjutnya, mengakui sekaligus meyakini, peran para Waliyullah ini amatlah besar dalam proses penyebaran dan perkembangan Islam di Indonesia.

Maka, Sadjad berharap, syair Lir-ilir ini pun bisa kembali dimasyarakatkan, demi memahami lagi arti, makna, dan manfaatnya. Karena, ulangnya lagi, ini merupakan syair religius Jawa yang digunakan sebagai bahan penyebaran ajaran Islam.

“Mestinya, harus ada kerjasama di antara lembaga-lembaga yang berbasis seni budaya dan pendidikan. Karena syair ini juga bernuansa religius, yang tentunya menjadi lebih penting lagi untuk diupayakan pelestariannya. Jangan sampai syair Lir-ilir ini hilang begitu saja di masyarakat, karena ia termasuk kekayaan budaya religius,” harapnya.

Tokoh NU Pacitan ini pun memandang perlu memasukkannya ke dalam kurikulum. Karena, syair ini ciptaan Waliyullah yang takkan hilang tergerus zaman, tidak kepaten obor.

“Memang, kalau sekadar jadi bahan hapalan sekelompok orang dengan pemahaman sekilas, respek terhadapnya pun pasti bakal kecil atau sedikit. Tapi, kalau dimassalkan dengan memasukkan syair ini ke dalam kurikulum yang wajib dikenal, masyarakat juga pasti bakal lebih mengenalnya secara abadi,” katanya. [yhr]


Komentar Pembaca