Sidang Harimau Rusia, Korban Minta Terdakwa Kimberly Divonis Maksimal

Hukum  SABTU, 21 MARET 2020 | 08:30 WIB

Sidang Harimau Rusia, Korban Minta Terdakwa Kimberly Divonis Maksimal

Kimberly, terdakwa penipuan perdagangan harimau Rusia

MoeslimChoice | Sidang perkara penipuan perdagangan harimau Rusia dengan terdakwa Kimberly (27) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara akan memasuki agenda pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Fedrick Adhar, pada Selasa (24/3/2020) mendatang.

Dihubungi melalui sambungan telepon, korban dalam perkara penipuan tersebut, Andri, sangat berharap dan memohon agar Majelis Hakim —yang terdiri dari Fahzal Hendri (Ketua) serta Jootje Sampaleng dan Tumpanuli Marbun (anggota)— menghukum terdakwa dengan vonis maksimal.

Diketahui, Kimberly didakwa melanggar Pasal 378 KUHP tentang tindak pidana penipuan yang membuatnya terancam meringkuk di dalam penjara maksimal empat tahun. Selama proses persidangan, Kimberly menjalani masa penahanan di Rumah Tahanan Khusus Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Ada beberapa pertimbangan yang membuat Andri mengharapkan terdakwa Kimberly dijatuhi hukuman maksimal.

“Terdakwa Kimberly tidak terlihat menyesali perbuatannya, bahkan untuk minta maaf kepada saya pun dia tidak melakukannya,” kata Andri kepada MoeslimChoice, Sabtu (21/3/2020), melalui sambungan telepon.

Pada persidangan sebelumnya, Selasa (17/3/2020), JPU dari Kejaksaan Negeri Jakarta Utara, Fedrick Adhar, memang sempat bertanya apakah terdakwa Kimberly merasa menyesal atau tidak.

Saat itu, Kimberly tidak memberikan jawaban yang spontan. Dia menengok dulu ke arah penasihat hukumnya, Habib Novel Alaydrus. Sehingga, pada proses persidangan tersebut, hakim Fahzal Hendri sempat menyebutkan bahwa selama ini raut wajah Kimberly terkesan tidak menunjukkan penyesalan.

“Fakta-fakta persidangan menunjukkan, ada bukti penggunaan dokumen palsu yang dia perlihatkan untuk membuat saya percaya, ada bukti kesediaan memenuhi pesanan saya, ada bukti janji batas waktu pemenuhan pesanan, ada bukti penerimaan uang muka dari saya, ada bukti tidak terpenuhinya semua janji itu sampai hari ini, ada bukti tidak adanya pengembalian uang muka yang sudah saya serahkan, ada bukti tidak adanya permintaan maaf kepada saya, tapi masih juga tidak merasa menyesal. Luar biasa sekali, kan?” kata Andri.

Selain itu, Andri juga menyinggung soal tidak adanya iktikad baik dari terdakwa untuk menyelesaikan perdamaian, sehingga masalah ini akhirnya berujung ke pengadilan.

“Sebelum melaporkan masalah ini menjadi persoalan hukum, saya sudah memberi kesempatan kepada terdakwa Kimberly untuk melakukan perdamaian dengan syarat yang sangat minimal. Antara lain, membuat video permintaan maafnya kepada saya. Tapi dia sama sekali tidak merespons jalan yang saya buka itu,” ujar Andri.

Bahkan, lanjut Andri, saat Majelis Hakim di PN Jakarta Utara memerintahkannya untuk melakukan upaya perdamaian pun, pihak terdakwa Kimberly sama sekali tidak memperlihatkan iktikad baiknya.

Dalam persidangan, penasihat hukum Kimberly, Habib Novel Alaydrus, menyatakan telah menghubungi Andri untuk melakukan upaya perdamaian, tetapi tidak mendapat respons sebagaimana diharapkan.

Terkait hal itu, Andri mengakui, memang dari pihak Kimberly ada yang menghubunginya. Namun, ketika Andri meminta mereka untuk berhubungan dengan pengacaranya, Masrin Tarihoran, sampai hari ini tak ada lagi kabar soal upaya perdamaian itu.

“Memang, dari pihak Kimberly ada menghubungi saya. Tapi, saya ada di Kalimantan. Lalu, saya suruh mereka ketemu pengacara saya. Ternyata, sampai hari ini, tidak ada kabar lagi,” kata Andri.

Berdasarkan hal-hal tersebut, Andri berpandangan bahwa Kimberly terlalu menganggap sepele persoalan yang tengah membekapnya.

“Tidak ada iktikad baik dari pihak Kimberly dalam meminta pertemuan untuk melakukan perdamaian. Sampai detik ini pun, tidak ada permintaan maaf dari terdakwa kepada saya. Pandangan saya, mereka terlalu menganggap remeh masalah ini. Mungkin mereka beranggapan vonis hukumannya nanti bakal ringan. Makanya saya berharap kepada Majelis Hakim agar dia divonis dengan hukuman maksimal sesuai perbuatan penipuannya,” tutup Andri.

Pada persidangan, Selasa (17/3/2020), hakim Fahzal Hendri menyebutkan, sidang ini bukanlah persoalan nilai kerugian korban, tetapi memeriksa perbuatan terdakwa.

Menjawab pertanyaan hakim, terdakwa Kimberly merasa tidak bersalah. Sebab, ia merasa belum gagal mendatangkan harimau Rusia pesanan Andri, namun sudah keburu dilaporkan ke pihak kepolisian.

Pada persidangan-persidangan sebelumnya, ada keterangan yang diberikan saksi Selvy terkait aliran uang dari Andri kepada terdakwa Kimberly.

Menurut Selvy, ia sempat menemui Kimberly di tempat kostnya. Lalu, kepada Selvy, Kimberly mengatakan bahwa uang yang dari Andri tersebut terpakai untuk sebuah proyek di Kota Lombok, Nusa Tenggara Barat.

 

Kronologi Perkara

Diberitakan sebelumnya, sekitar pertengahan 2018, seorang pecinta hewan bernama Andri berniat memelihara seekor harimau Rusia secara legal. Melalui jejaring medsos, ia menyampaikan keinginannya itu kepada teman-temannya sesama pecinta hewan.

Alhasil, masih di tahun 2018, Andri —melalui jejaring Facebook— diperkenalkan dengan seorang wanita bernama Kimberly, yang mengaku mampu mendatangkan bayi harimau Rusia secara resmi.

Saat itu, Kimberly mengatakan kepada Andri, kebetulan tersedia seekor bayi harimau berusia dua minggu, dan ia sanggup mendatangkannya secara resmi dari Rusia.

“Demi meyakinkan Andri sebagai calon pembeli, Kimberly memperlihatkan foto CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atas namanya. CITES adalah sertifikasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI untuk mendatangkan hewan terlindungi dari luar negeri,” kata kuasa hukum Andri, Masrin Tarihoran, kepada MoeslimChoice.

Berdasarkan kepemilikan CITES itulah, maka Andri pun percaya dan sepakat untuk membeli seekor bayi harimau Rusia dari Kimberly.

Kesepakatannya, Andri harus membayar Rp 191 juta sebagai uang muka, sementara sisanya dibayar setelah bayi harimau itu sampai di tangannya.

“Kimberly menyanggupi, semua proses itu paling lama berjalan satu bulan. Bila bayi harimau itu tidak didapat, Kimberly mengatakan bertanggung jawab dan bersedia mengembalikan seluruh uang Andri yang Rp 191 juta tadi,” kata Masrin.

Namun, sampai waktu yang dijanjikan Kimberly itu, bayi harimau Rusia tersebut tak pernah datang dan diterima Andri. Bahkan, hingga detik ini, sang bayi harimau itu pun tak pernah sampai di Indonesia.

Ketika Andri mencoba menagih janji Kimberly untuk mengembalikan uang yang sudah ia serahkan, respons wanita asal Penjaringan itu cenderung tidak kooperatif.

Bahkan, Kimberly malah menantang Andri untuk melaporkannya ke polisi. Ia pun kemudian menyebar berbagai fitnah terhadap Andri di jejaring medsos.

Sikap Kimberly itu mendorong Andri melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Apalagi, Andri sendiri sudah merasa yakin bahwa ia jadi korban penipuan.

Dalam Laporan Polisi bernomor LP/3489/VI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum tertanggal 10 Juni 2019 itu, Andri bertindak selaku pelapor sekaligus korban, sementara Kimberly menjadi terlapor atas dugaan tindak pidana Pasal 378 dan/atau 372 KUHP.

Pihak kepolisian pun, dalam hal ini Polres Metro Jakarta Utara, kemudian menetapkan Kimberly sebagai tersangka.

Lalu, setelah menuntaskan proses penyidikan, berkas perkara Kimberly itu dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara pada tanggal 6 Januari 2020. Sejak saat itu jualah Kimberly menjalani masa penahanannya di Rutan Pondok Bambu.

Dan, berdasarkan surat pelimpahan nomor B-32/0.1.11/Ep.2/01/2020 tanggal 14 Januari 2020, Kejari Jakut menyerahkan berkas perkara itu ke PN Jakarta Utara untuk selanjutnya didaftarkan dengan nomor perkara 76/Pid.B/2020/PN Jkt.Utr tertanggal 21 Januari 2020. [yhr]


Komentar Pembaca