Covid-19 Wabah dan Intropeksi Diri

Covid-19 Wabah dan Introspeksi Diri

Oleh: Affan Rangkuti

Opini  RABU, 18 MARET 2020 | 19:04 WIB | Sunarya Sultan

Covid-19 Wabah dan Introspeksi Diri

Affan Rangkuti

Moeslimchoice | Siapa yang mau sakit? Tak akan ada orang yang berfikir waras yang mau dirinya terkena penyakit, entah apapun itu nama penyakitnya.

Namun ketika wabah mendera, tak mungkin kita bisa menghindar dengan pasti akan wabah itu. Pertama, tak semua orang memahami tentang ilmu kedokteran.

Kedua, tak semua orang juga dengan mudah merubah satu budaya secara serta merta disebabkan wabah. Ketiga, tak semua orang mampu menyediakan sesuatu hal yang harus dibeli dengan uang.

Corona, Virus corona baru atau Covid-19 yang telah dinyatakan sebagai pandemik, penyakit baru yang menyebar secara global. Pernyataan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyusul data terkini Copid-19 di seluruh dunia yang tembus hingga 152 negara, 80.840 sembuh, 7.905 meninggal. Terlepas data valid atau tidak, intinya adalah wabah ini sudah menjadi pandemik.

Indonesia sendiri, berdasarkan rilis kemarin total kasus positif Covid-19 melonjak menjadi 172 orang. Untuk kasus yang meninggal dunia disebutkan 5 orang.

Tak tahu kita apakah seseorang sudah terpapar virus tersebut atau tidak. Kurang memahami ilmu kesehatan salah satu faktor, apalagi dengan budaya yang dianut dalam berhubungan yang sepertinya sulit untuk tidak dilakukan seperti bersalaman dan lainnya.

Covid-19 ini persis 'hantu' yang tak terlihat, namun bisa merasuki dan menakuti orang lain. Jika era penjajahan, saat musuh ada tinggal tembak atau tusuk dengan bambu runcing, selesai perkara.

Nah sekarang musuh itu tak terlihat, persis hantu. Tiba-tiba hantu ini sudah menyerang orang lain dan ketika diperiksa positif Copid.

Dari mana kena, kemana saja orang yang terkena ini berinteraksi mesti dijejak telusur satu persatu. Bagus jika yang terkena ini bercerita dengan benar sesuai ingatannya yang tajam. Nah bagaimana jika kurang ketajaman ingatannya, atau tak ingin mengungkapkan misalnya. Ini sama saja seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Kita memahami, penyakit mesti diobati dan melakukan upaya pencegahan dan penangkalan.

Namun semua pasti membutuhkan biaya. Jelas, namanya jiwa tak melihat mana orang kaya mana orang miskin. Semua harus diperlakukan sama.

Pada aspek ini kita diuji untuk berlaku adil. Belum lagi tentang kenaikan harga yang berpotensi akan menyerang ketahanan ekonomi.

Bisa jadi pernyataan Lockdown tak keluar dari pemerintah, sebab pengaruhnya sangat beresiko bagi perekonomian suatu bangsa. Jadi tak elok juga kita seperti memaksa pemerintah untuk mengatakan Lockdown.

Mudah dikatakan, tapi resikonya terlalu besar. Bisa jadi satu persoalan Copid belum usai, muncul persoalan lainnya yang tak kalah mengerikan, apa itu? Keterpurukan ekonomi.

Misalkan saja, masker yang biasa bisa dibeli dengan harga kisaran 20 hingga 30 ribu rupiah, akibat Copid ini naik menjadi kisaran 500 ribu rupiah. Iya kalau ada, malah saat ini sulit mendapatkannya. 500 ribu rupiah mungkin jumlah yang tak berarti bagi orang yang memiliki kemampuan beli, nah bagaimana bagi orang yang untuk makan saja sulit.

Ini bisa saja berdampak kepada sembilan bahan pangan pokok apabila pernyataan Lockdown dilakukan.

Bagai makan buah simalakama, dimakan mati ayah tak dimakan mati ibu.

Sulit menentukan kebijakan yang tepat dalam menangkal wabah ini dengan tidak menimbulkan kemunculan persoalan baru. Perlu kebijakan dan pemikiran sangat cerdas.

Selain berusaha maksimal bersama untuk menangkal Copid-19 maka butuh berserah diri penuh kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena kepadanyalah kita menyandarkan semuanya dan tentu setelah melewati usaha-usaha yang maksimal sesuai dengan kemampuan.

"Covid 19. Pertarungan antara hidup, mati syahid, miskin dan kelaparan. Ya Allah Ya Malikul Mulk, ampun kami yang pendosa ini, dan musnahkanlah copid 19 hanya kepada engkaulah kami berlindung dan bermohon," doaku disetiap salat saat ini.

Kekuatan intusisi dan kepercayaan diri pribadi membuat kita mesti sadar bahwa Copid yang seperti hantu ini kemanapun kita pergi, kita bersembunyi, dan sekuat dan setebal apapun kita melindungi diri maka tetap saja kita akan terkena jika intuisi ketakutan kita tentang Copid terlalu kuat.

Dan kekuatan intuisi itu tanpa kita sadari menjadi doa. Beda jika kita lakukan secara bersama, setelah itu, maka serahkanlah semuanya kepada Allah Swt Tuhan Yang Maha Esa, karena Dia telah menuliskan semuanya di Lauhulmahfuz dan hanya Dia lah yang memiliki kekuasaan untuk merubahnya. Tugas kita hanya 'berjalan di muka bumi' ini, bukan malah sebaliknya berhenti berjalan.

Penulis adalah Ketua Umum PB Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia. [nry]


Komentar Pembaca