Kejagung Bilang Penetapan Tersangka Jiwasraya Pakai Alat Bukti

Hukum  SELASA, 03 MARET 2020 | 07:25 WIB | Warni Arwindi

Kejagung Bilang Penetapan Tersangka Jiwasraya Pakai Alat Bukti

MoeslimChoice | Temuan pasien corona bukan berarti proses hukum skandal PT Asuransi Jiwasraya tertunda. Kejaksaan Agung (Kejagung) tancap gas terus memproses kasus itu dengan memastikan bakal ada tersangka baru lagi dalam perkara tindak pidana di Badan Usaha Milik Negara ini.

Nah, yang berpotensi menjadi tersangka baru, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus pada Kejagung Ali Mukartono, adalah semua saksi yang telah diperiksa. Namun, sambungnya, para penyidik harus menemukan alat bukti, selain keterangan yang telah diperoleh dari pernyataan tersangka dan saksi lain.

"Semua berpeluang menjadi tersangka baru dalam kasus ini, selama ada alat bukti yang cukup," kata Ali, Senin, 2/3/20. Ia juga memastikan para penyidik Kejagung akan bersikap profesional dan transparan dalam penetapan tersangka baru kelak.

Sebaliknya, kata Ali, Kejagung juga menghindari sikap sembrono menetapkan tersangka jika tanpa alat bukti yang menguatkan. "Semua kan harus ada alat bukti, kalau tidak ada masa kita paksakan jadi tersangka?" katanya.

Sejauh ini Kejagung telah menetapkan enam tersangka dalam skandal ini. Antara lain, Direktur Utama PT Hanson International Benny Tjokrosaputro yang ditahan di Rutan KPK dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (Tram) Heru Hidayat ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung.

Selanjutnya yang juga menjadi tersangka  adalah mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo yang ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim ditahan di Pomdam Jaya Guntur dan eks Kepala Divisi Investasi dan Keuangan pada PT Asuransi Jiwasraya Syahmirwan ditahan di Rutan Cipinang.

Tersangka keenam, Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto. Ia ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung.

Semula Kejagung menyatakan potensi kerugian Rp13,7 triliun akibat PT Asuransi Jiwasraya berinvestasi pada 13 perusahaan bermasalah. Jaksa Agung  Sanitiar Burhanuddin menilai perusahaan asuransi pelat merah ini diduga melanggar prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi pada aset dengan risiko tinggi untuk mengejar high return (keuntungan yang besar). Belakangan, hitungan potensi kerugian negara bertambah menjadi Rp17 triliun.


Komentar Pembaca