Kerusuhan di Delhi, Sejumlah Masjid Dirusak dan Rumah Warga Muslim Dibakar

Internasional  KAMIS, 27 FEBRUARI 2020 | 19:45 WIB

Kerusuhan di Delhi, Sejumlah Masjid Dirusak dan Rumah Warga Muslim Dibakar

foto/net

Moeslimchoice. Seorang wanita bernama Sadaqat sibuk mencari mayat saudara lelakinya yang menjadi korban penembakan di sebuah rumah sakit di New Delhi sejak Selasa (25/2).

MC Award 2

Wanita berusia 26 tahun yang baru beberapa minggu tiba di ibukota India untuk bekerja itu, mengatakan pada Rabu (26/2), bahwa ia takut untuk minta bantuan polisi yang telah melakukan kekerasan kepada para pemrotes atas undang-undang kewarganegaraan baru yang mengakibatkan sejumlah orang meninggal dunia, yang sebagian besar adalah umat Islam.

"Rumah sakit menolak menyerahkan mayat saudara lelaki saya, bahkan setelah 24 jam," katanya kepada Arab News. 

"Tidak ada yang membantu saya. Saya takut minta bantuan polisi juga. Bahkan Saya sangat takut pulang ke rumah saya, karena takut akan kekerasan. Kemarin, saya berlindung di rumah saudara saya di daerah Delhi," ujarnya.

Sadaqat mengklaim, bahwa adik lelakinya yang bernama Mubarak, sedang kembali ke tempat kontrakannya di daerah Maujpur, di timur laut Delhi, ketika gerombolan Hindu itu menembakinya hingga tewas.

Pada Rabu (26/2), Perdana Menteri India, Narendra Modi memohon ketenangan. Menurut laporan media, bentrokan keras di kota itu telah merenggut 27 nyawa sejak Minggu (23/2) malam, meskipun jumlah korban tewas tidak resmi telah mencapai lebih dari 25 orang. Lingkungan Maujpur, Mustafabad, Jaffrabad dan Shiv Vihar dikatakan berada dalam cengkeraman ketakutan.

"Saya berencana untuk pergi ke Jaipur dan tinggal di sana sampai situasinya menjadi normal. Saya belum pernah melihat kekerasan semacam ini dalam hidup saya," kata penjual pakaian berusia 30 tahun bernama Sharukh itu.

"Putra tetangga saya terluka dalam kekerasan itu, tetapi dia takut pergi ke polisi dan melaporkannya. Dia juga tidak ingin pergi ke rumah sakit. Kami kehilangan kepercayaan," tambahnya.

Kerusuha itu bermula ketika gerombolan Hindu menyerang Muslim yang memprotes di Jaffrabad melawan hukum kewarganegaraan yang memberikan naturalisasi jalur cepat bagi beberapa minoritas agama kelahiran asing, tetapi bukan Muslim. 

Bentrokan itu kemudian meluas dengan perusakan beberapa Masjid, dan banyak toko dan rumah milik warga Muslim juga dibakar.

India telah diguncang oleh kekerasan sejak Citizenship Amendment Act (CAA) disahkan pada Desember tahun lalu. Undang-undang tersebut dipandang oleh banyak orang sebagai anti-Muslim dan telah menimbulkan kekhawatiran bahwa ketika pemerintah India meneruskan Daftar Warga Nasional (NRC), banyak dari populasi minoritas Muslim akan dinyatakan tanpa kewarganegaraan.

"Ada perasaan tidak berdaya di kalangan umat Islam sekarang. Mereka tidak memiliki sumber daya untuk melawan pemerintah. Mereka sudah berada di ujung penerima CAA dan NRC, dan kekerasan ini semakin meminggirkan masyarakat di tanah mereka sendiri," ujar Nadeem Khan, Aktivis Sosial yang berbasis di Delhi.

Dalam sebuah posting Twitter pada Rabu (26/2), Modi mengatakan: "Perdamaian dan harmoni adalah pusat dari etos kami. Saya memohon kepada saudara dan saudari saya di Delhi untuk menjaga perdamaian dan persaudaraan setiap saat."

"Adalah penting bahwa ada ketenangan, dan normalitas dipulihkan paling awal. Polisi dan agen-agen lainnya bekerja di lapangan untuk memastikan perdamaian dan keadaan normal."

Pernyataan Perdana Menteri itu muncul setelah Partai Kongres oposisi mempertanyakan sikap diam pemerintah terhadap kekerasan di Delhi dan menuntut pengunduran diri tangan kanan Modi, Menteri Dalam Negeri, Amit Shah.

Selama konferensi pers di New Delhi pada Rabu (26/2), Presiden Partai Kongres, Sonia Gandhi (Istri Mendiang Rajeev Gandhi), mengatakan: "Pemerintah pusat, termasuk Menteri Dalam Negeri bertanggung jawab atas insiden tersebut. Partai Kongres menuntut agar ia segera mengundurkan diri."

Menteri Lingkungan India, Prakash Javadekar menanggapi pernyataan Gandhi dengan menyebutnya "tidak menguntungkan dan dapat dihukum," dan menyalahkannya karena "mempolitisasi kekerasan."

Dia mengatakan: "Pada saat-saat seperti itu semua pihak harus memastikan bahwa perdamaian dipertahankan, menyalahkan pemerintah sebaliknya adalah politik yang kotor."

Sementara itu, Pengadilan Tinggi Delhi menyerukan tindakan hukum terhadap mereka yang menghasut kekerasan dan meminta "pengajuan kasus-kasus mereka yang membuat pidato kebencian."

Analis politik Prof. Apoorvanand, dari University of Delhi, mengatakan:

"Kampanye kebencian BJP (Bharatiya Janata Party) dan fitnah para pemrotes Muslim dalam beberapa bulan terakhir telah menghasilkan kekerasan. Tidak ada yang mau mengambil kata-kata Modi untuk tenang pada nilai nominal. Kekerasan itu disponsori negara. Kekerasan mengirim pesan kepada umat Islam bahwa mereka tidak berdaya, dan negara tidak dapat membantu Anda," tambahnya. [mt/AN]


Komentar Pembaca