Terpapar Hoaks di Medsos, Warga Pacitan Malas Baca Berita

Daerah  KAMIS, 27 FEBRUARI 2020 | 11:30 WIB

Terpapar Hoaks di Medsos, Warga Pacitan Malas Baca Berita

Sukatno

MoeslimChoice | Para pegiat media sosial (medsos) di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, tergolong sangat luar biasa.

Bahkan, anak-anak seusia kelas 4 SD pun sudah sangat lihai memainkan Android-nya, termasuk berselancar di berbagai jejaring medsos.

Kaum dewasa, tentu saja, tak mau kalah. Melangkah sejengkal, langsung update. Apalagi saat berada di lokasi yang menurutnya menarik. Bunyi kamera ponsel seolah jadi pengganti nada dering.

Ironisnya, pengetahuan para pegiat media sosial itu soal seluk beluk wilayahnya sendiri justru relatif rendah. Jangan tanya mereka soal pemberitaan berbagai media berbasis online, yang sebetulnya selalu bermunculan di jejaring Facebook setiap hari.

Salah satu contohnya, fenomena di salah satu grup Facebook bernama Obrolane Wong Pacitan (OWP).

Di grup itu, share berita terkait peristiwa di Pacitan dari media-media terpercaya muncul hampir setiap menit. Namun, gegara relatif rendahnya etos membaca berita, masih sangat banyak anggota di grup itu yang mengalami ketertinggalan informasi.

Ujung-ujungnya, muncul anomali atau fenomena paradoks, di mana tingkat kepo (keingintahuan) sangat tinggi tapi minat baca berita rendah. Padahal, komunitas semacam begitulah yang biasanya justru jadi sasaran empuk para produsen hoaks.

Sukatno, salah seorang jurnalis senior di Pacitan, menyampaikan komentarnya terkait rendahnya minat pembaca berita di daerahnya.

“Yang jelas, masyarakat Pacitan itu sikapnya cuek dengan berita. Faktornya, antara lain, karena tidak mau tahu, tidak mau pusing dengan berita, dan gak mau paketannya habis atau boros,” kata Sukatno kepada Kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Kamis (27/2/2020).

Ia menduga, munculnya sikap cuek masyarakat Pacitan terhadap berita itu akibat terpapar banjir hoaks di berbagai jejaring medsos.

“Zaman sekarang kan hoaks sering muncul. Suatu contoh, video bencana tahun lalu diunggah lagi. Jadinya, rasa tidak percaya terhadap informasi terus bertambah. Ketidakpercayaan ini berimbas terhadap berita-berita yang penting dan sudah terkonfirmasi. Sama-sama di-cuek-in juga, akhirnya,” katanya.

Kini, Sukatno hanya bisa berharap supaya masyarakat Pacitan lebih mampu lagi untuk membedakan antara berita hoaks dan berita yang benar. Syaratnya, tentu saja, meningkatkan dulu budaya membaca berita dari sumber-sumber terpercaya, supaya tidak gagal paham.

“Masyarakat harus bisa membedakan antara penulisan wartawan atau bukan. Agar tidak mudah terprovokasi oleh berita-berita yang keliru,” tutupnya. [yhr]


Komentar Pembaca