Gula Rafinasi Beredar bebas di Pacitan, Disperindag Kecolongan?

Daerah  RABU, 26 FEBRUARI 2020 | 12:40 WIB

Gula Rafinasi Beredar bebas di Pacitan, Disperindag Kecolongan?

Ilustrasi

MoeslimChoice | Beberapa hari ini, muncul sejumlah indikasi adanya peredaran bebas gula rafinasi di kalangan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan pedagang di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Diketahui, gula rafinasi atau gula kristal putih adalah gula mentah untuk bahan pembuatan makanan dan minuman, yang penjualannya diawasi secara ketat melalui berbagai regulasi.

Boleh jadi, pemahaman masyarakat tentang hal ini masih sangat minim. Faktanya, sejumlah warga Pacitan —dengan dalih tidak ada sosialisasi— mengaku belum tahu soal kegunaan dan aturan yang mengikat dari gula impor tersebut, termasuk masalah prosedurnya untuk bisa dijual ataupun dikonsumsi.

Salah seorang pedagang di kawasan Pasar Tradisional Arjowinangun, Pacitan, yang enggan namanya disebutkan, mengaku baru sadar dan tahu tentang aturan gula rafinasi itu setelah merasa penasaran dan membuka-buka informasi melalui Google.

“Memang benar, kok. Kita kan penjual sibuk dengan kegiatan dagang. Tentunya tidak paham aturan-aturan itu. Yang penting, harga naik kita semua ikut naik, turun ya ikut turun. Wong masyarakat kecil, tahu apa sih?” katanya kepada Kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Rabu (26/2/2020).

Saat diklarifikasi terkait adanya pelaku IKM dan pedagang yang menggunakan dan menjual gula rafinasi, Kepala Seksi Perdagangan di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pacitan, Wahyu Dwi Cahyono, mengatakan, produk itu hanya diperuntukkan sebagai bahan pembuat makanan dan minuman.

“Terkait [batas-batas] pengunaan gula rafinasi, saya tidak tahu komposisinya, atau berapa ukurannya. Yang jelas, itu tidak boleh dikonsumsi secara langsung, karena harus diolah dulu,” katanya kepada MoeslimChoice.

Wahyu juga mengatakan, penggunaan gula rafinasi itu sudah diatur oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan pihaknya sudah menerima surat edaran tentang itu sejak tahun 2019. Karena, lanjut Wahyu, selain impornya dibatasi, peredarannya juga sangatlah ketat.

“Edaran dari Kemendagri sudah kami terima. Selain itu, prosedur peredarannya juga sangat ketat. Ini harus melalui distributor yang ditunjuk oleh pemerintah. Koperasi yang jadi penyalur di UKM pun harus punya surat resmi,” ungkapnya.

Lantas, kenapa hal tersebut bisa terjadi di pasar-pasar dan kalangan IKM di Pacitan? Apakah karena kecolongan, atau gara-gara kurangnya sosialisasi?

Kenyataannya, meski sudah diatur dengan sangat ketat, masih ditemukan penjualan secara bebas dan betapa mudahnya para penjual mendapatkan gula tersebut.

Menurut dugaan Wahyu, situasi itu terjadi karena adanya oknum yang membocorkan peredaran gula rafinasi.

“Sebenarnya, ada oknum yang membocorkan [gula rafinasi] ke pasar bebas, dan tidak melalui mekanisme yang sesuai dengan aturan,” kata Wahyu.

Terpisah, Kepala Seksi Distribusi Perdagangan dan Stabilitas Harga di Kantor Disperindag Kabupaten Pacitan, Erna Janu, mengaku akan segera melakukan sosialisasi dan pembenahan lebih maksimal.

“Mungkin nanti kita akan berbenah, dan kita akan menindaklanjuti permasalahan ini,” katanya.

Pengawasan, tentunya, adalah kelanjutan dari sosialisasi. Ibarat peribahasa, sosialisasi itu adalah “sedia payung sebelum hujan”.

Kalau baru bertindak dan melakukan aksi sosialisasi setelah muncul kejadian? Peribahasanya mungkin berubah jadi “cari payung setelah hujan”. [yhr]


Komentar Pembaca