Hakim Tolak Eksepsi Terdakwa Penipuan Harimau Rusia

Hukum  JUMAT, 21 FEBRUARI 2020 | 10:05 WIB | Yukie H Rushdie

Hakim Tolak Eksepsi Terdakwa Penipuan Harimau Rusia

Kimberly, terdakwa kasus penipuan bayi harimau Rusia

MoeslimChoice | Dalam putusan selanya, yang dibacakan Kamis (20/2/2020) sore, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Majelis Hakim menolak eksepsi (keberatan) kuasa hukum terdakwa kasus penipuan harimau Rusia, Kimberly (28), warga Penjaringan, Jakarta Utara.

Dengan demikian, Majelis Hakim —yang terdiri dari Fazal Hendri (Ketua) serta Jootje Sampaleng dan Tumpanuli Marbun (anggota)— memutuskan melanjutkan persidangan ke tahap pemeriksaan pokok perkara.

Menurut rencana, sidang dari perkara nomor 76/Pid.B/2020/PN Jkt.Utr itu akan dilanjutkan Kamis (27/2/2020), dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

Putusan sela Majelis Hakim PN Jakarta Utara itu sesuai dengan harapan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Fedrick Adhar, dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara.

Pada persidangan sebelumnya, Selasa (11/2/2020), Fedrick memohon Majelis Hakim menolak eksepsi terdakwa, karena keberatan yang diajukan itu sudah memasuki materi perkara.

“Eksepsi penasehat hukum terdakwa tidak beralasan dan tidak berdasar, serta melampaui lingkup eksepsi karena telah menyangkut materi pokok perkara,” kata Fedrick.

Terdakwa Kimberly sendiri, hingga saat ini, tetap berada di Rumah Tahanan Khusus Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur. Hakim PN Jakarta Utara telah memperpanjang masa penahanannya hingga 19 April 2020.

Ia didakwa melanggar Pasal 378 dan 372 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penipuan dan penggelapan.

 

Kronologi Perkara

Diberitakan sebelumnya, sekitar pertengahan 2018, seorang pecinta hewan bernama Andri berniat memelihara seekor harimau Rusia secara legal. Melalui jejaring medsos, ia menyampaikan keinginannya itu kepada teman-temannya sesama pecinta hewan.

Alhasil, masih di tahun 2018, Andri —melalui jejaring Facebook— diperkenalkan dengan seorang wanita bernama Kimberly, yang mengaku mampu mendatangkan bayi harimau Rusia secara resmi.

Saat itu, Kimberly mengatakan kepada Andri, kebetulan tersedia seekor bayi harimau berusia dua minggu, dan ia sanggup mendatangkannya secara resmi dari Rusia.

“Demi meyakinkan Andri sebagai calon pembeli, Kimberly memperlihatkan foto CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atas namanya. CITES adalah sertifikasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI untuk mendatangkan hewan terlindungi dari luar negeri,” kata kuasa hukum Andri, Masrin Tarihoran, kepada MoeslimChoice.

Berdasarkan kepemilikan CITES itulah, maka Andri pun percaya dan sepakat untuk membeli seekor bayi harimau Rusia dari Kimberly.

Kesepakatannya, Andri harus membayar Rp 191 juta sebagai uang muka, sementara sisanya dibayar setelah bayi harimau itu sampai di tangannya.

“Kimberly menyanggupi, semua proses itu paling lama berjalan satu bulan. Bila bayi harimau itu tidak didapat, Kimberly mengatakan bertanggung jawab dan bersedia mengembalikan seluruh uang Andri yang Rp 191 juta tadi,” kata Masrin.

Namun, sampai waktu yang dijanjikan Kimberly itu, bayi harimau Rusia tersebut tak pernah datang dan diterima Andri. Bahkan, hingga detik ini, sang bayi harimau itu pun tak pernah sampai di Indonesia.

Ketika Andri mencoba menagih janji Kimberly untuk mengembalikan uang yang sudah ia serahkan, respons wanita asal Penjaringan itu cenderung tidak kooperatif.

Bahkan, Kimberly malah menantang Andri untuk melaporkannya ke polisi. Ia pun kemudian menyebar berbagai fitnah terhadap Andri di jejaring medsos.

Sikap Kimberly itu mendorong Andri melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Apalagi, Andri sendiri sudah merasa yakin bahwa ia jadi korban penipuan.

Dalam Laporan Polisi bernomor LP/3489/VI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum tertanggal 10 Juni 2019 itu, Andri bertindak selaku pelapor sekaligus korban, sementara Kimberly menjadi terlapor atas dugaan tindak pidana Pasal 378 dan/atau 372 KUHP.

Pihak kepolisian pun, dalam hal ini Polres Metro Jakarta Utara, kemudian menetapkan Kimberly sebagai tersangka.

Lalu, setelah menuntaskan proses penyidikan, berkas perkara Kimberly itu dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara pada tanggal 6 Januari 2020. Sejak saat itu jualah Kimberly menjalani masa penahanannya di Rutan Pondok Bambu.

Dan, berdasarkan surat pelimpahan nomor B-32/0.1.11/Ep.2/01/2020 tanggal 14 Januari 2020, Kejari Jakut menyerahkan berkas perkara itu ke PN Jakarta Utara untuk selanjutnya didaftarkan dengan nomor perkara 76/Pid.B/2020/PN Jkt.Utr tertanggal 21 Januari 2020. [yhr]


Komentar Pembaca