Polisi Gulung Lagi Wisata Kawin Kontrak di Puncak

Wisata  SABTU, 15 FEBRUARI 2020 | 11:55 WIB

Polisi Gulung Lagi Wisata Kawin Kontrak di Puncak

MoeslimChoice | Sub Direktorat III Direktorat Tindak Pidana Umum (Dit Tipidum) Bareskrim Polri mengungkap praktik prostitusi wisata seks dan kawin kontrak di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Polisi juga menetapkan lima tersangka yang telah menjalankan praktik selama bertahun-tahun.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Ferdy Sambo mengatakan, pengguna jasa kawin kotrak tersebut kebanyakan berasal dari Timur Tengah. "Jadi para korban dipertemukan dengan tamu atau pengguna yang ingin melakukan kawin kontrak ataupun 'booking out short time' di vila daerah Puncak atau di apartemen di kawasan Jakarta Selatan," kata dia di Jakarta, Jumat, 14/2/20.

Kasus ini terungkap bermula dari informasi beredarnya video di situs berbagi Youtube yang menawarkan wisata seks halal di Puncak, Bogor. "Sebanyak lima orang kita tangkap. Mulai dari penyedia, pengguna dan sopir," kata Sambo.

Kelima tersangka tersebut yakni Nunung Nurhayati dan Oom Komariah alias Rahma yang berperan sebagai penyedia perempuan, Saleh sebagai penyedia warga negara asing yang memesan wanita, Devi Okta Renaldi sebagai penyedia transportasi dan satu warga negara Arab Saudi bernama Almasod Abdul Azis Alim sebagai pemesan perempuan.

Atas perbuatannya, kelima tersangka dijerat Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Sambo bilang, para tersangka menawarkan para Warga Negara Asing (WNA) jasa booking out alias short time ataupun dengan kawin kontrak. Untuk short time dengan jangka waktu satu hingga tiga jam diberi tarif Rp500 atau Rp600 ribu. Sementara bagi WNA yang ingin kawin kontrak biayanya Rp5 juta dengan jangka waktu tiga hari dan Rp10 juta untuk satu minggu alias tujuh hari.

“Para muncikari mengambil 40 persen dari setiap transaksi,” ucap Sambo. Dia bilang, para muncikari ini rata-rata memiliki 20 perempuan yang siap untuk dikawinkan atau hanya short time.

“Direkrut dari kampungnya, sudah ada orang-orangnya. Ini kan dari 2015 jadi sudah tahu siapa yang bersedia untuk kawin kontrak, short time, jadi sudah ada. Mereka ada 10 sampai 30 orang anak asuhlah,” papar Sambo.

Sebelumnya Polres Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pernah mengungkap kasus dengan modus serupa menjelang pergantian tahun 2019 ke 2020. Kali ini, Bareskrim Mabes Polri dengan lebih banyak lagi yang terlibat.

Kalau prostitusi yang tanpa kawin kontrak bagaimana? Mungkin ada bedanya.


Komentar Pembaca
Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Rabu, 20 Mei 2020 | 21:05

Bubarkan Fpi

Bubarkan Fpi

Ahad, 03 Mei 2020 | 19:55