Bangkai Ikan Pudarkan Pesona Danau Maninjau

Wisata  MINGGU, 09 FEBRUARI 2020 | 21:52 WIB

Bangkai Ikan Pudarkan Pesona Danau Maninjau

MoeslimChoice | Sudah bertahun-tahun Danau Maninjau yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, berkurang pesona wisatanya lantaran kematian ikan budidaya dalam keramba jaring apung di pinggiran telaga vulkanik seluas sekitar 99,5 km persegi itu. Beberapa hari lalu pun kematian ikan terjadi lagi di kawasan danau yang berjuluk telaga biru itu.

Padahal, di masa lalu, Danau Maninjau menjadi inspirasi kehidupan dan pemikiran sejumlah sastrawan dan intelektual Indonesia yang berasal dari Minangkabau. Sebut saja Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang dilahirkan di sebuah rumah menghadap Danau Maninjau, di Tanah Sirah Nagari Sungai Batang, pada 16 Februari 1908, begitu terkenal. Danau Maninjau diyakini menjadi inspirasi pemikiran dan sikap Buya Hamka, yang nasionalis, pembela hak perempuan, atau penentang diskriminasi.

Nah, kembali ke soal ikan mati itu, kali ini total jumlahnya diperkirakan mencapai hampir 80 ton ikan nila (Oreochromis niloticus) sejak terpantau mulai mengapung di permukaan danau oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Agam pada akhir Januari 2020. “Penyebabnya, danau sudah tercemar karena ada limbah rumah tangga, sisa pakan, ampas kotoran ikan itu yang menumpuk di dasar danau. Ditambah angin kencang pengembalian arus membuat ikan mati,” ujar Kepala DKP Kabupaten Agam, Ermanto, Minggu, 9/2/2020.

Selain itu, kata Ermanto, kebutuhan oksigen bagi ikan-ikan sudah berkurang akibat banyaknya keramba milik nelayan. Pihaknya sudah berupaya menertibkan, namun para nelayan tetap membandel.

“Beberapa ikan yang mati sudah ada yang dikubur. Kalau dibuang ke danau tentu berdampak ke lingkungan jadi tercemar. Bangkai ikan busuk, kedua bangkai ikan juga lama terurai,” katanya.

Ia mengungkapkan, matinya ikan di kawasan Danau Maninjau telah berulang terjadi dan terkahir fenomena ini dialami pada tahun 2018. Namun tahun ini untuk wilayah dan jumlah ikan yang mati jauh meningkat.

“Tahun ini terlalu banyak. Nelayan ini kadang satu keramba ikan diisi belasan ribu bibit, padahal ukuran keramba hanya 5×5 meter jadi kekurangan oksigen. Dulu enggak sebanyak itu isi bibitnya, maksimal hanya 3000 bibit,” jelasnya.

DKP Kabupaten Agam dan stakeholder terkait sudah berupaya mensosialisasikan serta menertibkan keramba nelayan. Namun para nelayan tetap tak menghiraukan sehingga peristiwa matinya ikan di Danau Maninjau terus berulang.

“Kalau bisa, dari provinsi yang turun lagi, karena danau sudah menjadi prioritas provinsi. Kita sudah ada meminta, cuman kami di kabupaten. Padahal danau itu prioritas serta menjadi wewenang provinsi,” tuturnya.

Sejauh ini dalam program normalisasi Danau Maninjau, Pemerintah Sumatera Barat bersama Kementerian ESDM dan Kementerian PUPR ingin mengurangi jumlah keramba ikan di Danau Maninjau hingga enam ribu unit saja. Sedangkan saat ini jumlah keramba ikan berkisar 17 ribu.

Lepas dari soal kewenangan, ada pla upaya normalisasi kualitas air danau dengan memberikan formula BIOS 44 di Danau Maninjau. BIOS 44 merupakan mikroorganisme, yang dibentuk oleh sejumlah bahan seperti air, ragi, susu bubuk, cornet beef, dan gula pasir. Di Sumatera Selatan, BIOS 44 yang disebarkan Korem 044/Garuda Dempo mampu menjadikan lahan gambut tidak mudah terbakar dan subur. Bahkan, nanas yang ditanam di sekitar tanaman sawit di lahan gambut tumbuh subur, seperti di kawasan Sepucuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir [OKI], Sumatera Selatan.

Nah, penerapan BIOS 44 di Danau Manijau berdasarkan penelitian UPTD Laboratorium Kesehatan Padang menunjukkan kandungan nitrogen dan nitrit mengalami penurunan dari 3,7 persen menjadi dua persen saja. Sementara tingkat keasaman (pH) air berunah dari 6,99 menjadi 7,05, angka normal air tawar.

BIOS 44 juga berpotensi menghancurkan tumpukan limbah yang sudah mengeras. Untuk Danau Manijau, BIOS 44 yang bersifat komposer secara teoritis sanggup menghancurkan atau mempercepat pembusukan sisa-sisa tumbuhan seperti di gambut. Namun masih perlu waktu untuk membuktikannya lantaran ketebalan endapan sedimen di Danau Maninjau sudah mencapai sekitar 157 meter sehingga kedalaman danau tinggal 33 meter saja. Penerapan BIOS 44 sebenarnya baru diuji coba pada pertengahan Januari 2020 lalu.

Namun, yang mendesak sekarang tentu saja mengatasi limbah ikan yang mengapung di permukaan danau. Banyak yang merindukan Danau Maninjau kembali ke pesonanya semula: Kawasan wisata yang menginspirasi kehdupan dan pemikiran. Tapi, kapan?


Komentar Pembaca