Merger dan Likuidasi BUMN Merugi Jalan Terus | Akhir Februari ke DPR

Ekonomi  JUMAT, 07 FEBRUARI 2020 | 08:55 WIB

Merger dan Likuidasi BUMN Merugi Jalan Terus | Akhir Februari ke DPR

MoeslimChoice | Rencana penggabungan (merger) dan penutupan (likuidasi) sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang merugi atau gagal memenuhi kewajiban pelayanan publik akan berlanjut. Namun, keputusan merger dan likuidasi tersebut tetap mempettimbangkan prospek bisnis masing-masing BUMN.

"Dari prospek bisnisnya apakah masih punya prospek, dan kerugian-kerugian yang terjadi itu akan dilihat. Kalau tidak punya prospek lagi untuk apa dilanjutkan," ujar Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga di Jakarta, Kamis, 6/2/20.

Menurut dia, saat ini Erick Thohir bersama jajaran Kementerian BUMN sedang mengklasifikasi jenis BUMN: BUMN yang berfungsi komersial mencari keuntungan (profit oriented), BUMN untuk kewajiban pelayanan publik, juga BUMN yang berfungsi untuk komersial tapi juga melakukan pelayanan publik seperti PLN dan Pertamina.

"Tapi ada juga BUMN yang tidak menghasilkan keuntungan atau komersil apalagi PSO. BUMN seperti ini akan dipertimbangkan apakah akan digabung dengan BUMN lain atau dilikuidasi," katanya.

Jika memang harus digabung dengan BUMN lain, Kementerian telah memikirkan nasib tenaga kerja BUMN-BUMN yang merugi tersebut. "Di mana-mana tidak ada karyawan yang sejahtera di perusahaan yang terus merugi. Dengan demikian ini akan menyehatkan mereka, ketika BUMN yang merugi tersebut dimerger dengan BUMN lain," ujar Arya.

Selain itu, menurut Arya, bisa saja BUMN yang merugi itu diberikan kepada BUMN Perusahaan Pengelola Aset atau PPA. Dia juga menambahkan bahwa Kementerian BUMN sedang menyusun peta jalan BUMN untuk lima tahun ke depan. Peta jalan tersebut akan dipresentasikan kepada DPR RI pada akhir bulan ini.


Komentar Pembaca