Curah Hujan Melorot, Petani Pacitan Bingung

Daerah  RABU, 22 JANUARI 2020 | 11:15 WIB

Curah Hujan Melorot, Petani Pacitan Bingung

Kondisi daun padi di Pacitan, baru ditanam tapi sudah langsung menguning karena kekurangan air

MoeslimChoice | Musim tanam, sebetulnya, belumlah usai. Tingkat curah hujan pun, di berbagai sudut Indonesia, disebutkan masih lumayan tinggi.

Tapi, tidaklah demikian dengan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Di Bumi berjuluk 1001 Goa ini, curah hujan justru cenderung mulai melorot, sementara masa tanam padi di sawah belum tuntas.

Akibatnya, para petani di sebagian besar wilayah Pacitan mulai miris memikirkan nasib. Hatinya ketar ketir, membayangkan fenomena gagal panen yang kian mengancam.

Kondisi terkini, air di ratusan hektar sawah mulai tampak mengering. Bahkan, banyak sekali daun padi yang baru ditanam langsung menguning, pertanda kekurangan suplai air.

Santoso (57), salah seorang petani asal Desa Kembang, Pacitan, menyampaikan kebingungannya. Ia mengharapkan hujan turun lagi.

Sebuah situasi anomali, memang. Disebut musim hujan, tapi kucuran air dari langit itu ternyata relatif jarang tercurah.

"Memang benar. Harapan kami semua saat ini hanyalah turunnya air hujan, demi kondisi lahan pangan kami. Saat ini tidak ada air. Padahal, padi hanya akan hidup kalau ada air," kata Santoso kepada Kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Rabu (22/1/2020).

Keberadaan saluran air dari bendungan pun disebutnya tidak mampu untuk mengairi sawah yang ada di tiga desa, yaitu Desa Sukoharjo, Sirnoboyo, dan Kembang, karena intensitasnya sudah berkurang.

Situasi semacam itu tak jarang memicu kecemburuan sosial di antara sesama petani. Tapi, menurut Santoso, apa mau dikata?

Karena, sabar tidak sabar, ya tetaplah harus antri menunggu giliran mendapat pembagian air dari sungai yang dibendung.

"Kita harus sabar menunggu giliran. Ya sambil tetap berdoa kepada Allah SWT, semoga diturunkan hujan yang bisa membawa berkah bagi semua," imbuhnya.

Terpisah, Narto (45), juga warga Desa Kembang, mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) demi menghidupi mesin sedot air.

Hal itu harus ia lakukan untuk mengairi tanaman padinya yang sudah terlanjur menguning.

"Gimana lagi? Kalau tidak nekat, ya bisa sekarat. Padi saya sudah seminggu lebih tidak  mendapatkan air sama sekali. Bahkan daunnya sudah menguning. Solusinya ya hanya seperti ini, agar padi tidak mati kepanasan," ucap Narto kepada MoeslimChoice.

Bagi Narto dan sejawat petani lainnya, hal ini menjadi sesuatu yang wajib dilakukan. Dalam bahasa mereka, meski harus kehabisan kambing dan perhiasan sang istri, semua langkah harus dilakukan agar masih bisa merasakan beras dari hasil jerih payahnya sendiri. [yhr]


Komentar Pembaca