Kemensos: Tak Ada Pengusiran di Wyata Guna

Sosial  SABTU, 18 JANUARI 2020 | 09:40 WIB | Adhes Satria

Kemensos: Tak Ada Pengusiran di Wyata Guna

Moeslimchoice | Kementerian Sosial menegaskan tidak ada pengusiran terhadap Penerima Manfaat (PM) Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Netra (BRSPDN) "Wyata Guna" Bandung.

MC Award 2

“Kami tegaskan, tidak ada pengusiran terhadap saudara-saudara PM. Yang terjadi, saudara-saudara PM telah berakhir masa retensinya atau sudah memasuki tahap terminasi,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Idit Supriadi Priatna dalam jumpa pers di Gedung Balai Wyata Guna, Kota Bandung, Jumat (17/1/2020).

Idit menyatakan, mempersilahkan mereka yang kini berstatus mahasiswa tersebut, bila ingin kembali tinggal di asrama BRSPDN Wyata Guna. “Namun, akan dilakukan assessment lebih dulu, apakah masih membutuhkan pelayanan di BRSPDN Wyata Guna,” katanya. 

Bukan Tempat Permanen
Pada kesempatan sama, Kepala BRSPDSN "Wyata Guna" Sudarsono menyatakan, yang sebenarnya terjadi adalah para mahasiswa ini, sudah memasuki tahap terminasi atau akhir masa layanannya.

“Seperti diketahui balai fungsinya pembinaan bersifat sementara bagi saudara penerima manfaat, bukan tempat permanen. Ini proses normal dan sudah dipahami sejak PM menjadi binaan di balai,” katanya.
 
Pada tahap terminasi, katanya, PM yang mendapatkan pelayanan dan pembinaan terikat oleh ketentuan, yakni pada waktunya harus kembali ke keluarga dan masyarakat. Terlebih, masih banyak orang yang mengantre untuk masuk ke balai. 

“Pada Januari 2020, merupakan proses penerimaan penerima manfaat. Ada proses assessment, mereka dari Kalimantan, Jawa dan tempat lain,” kata Sudarsono. Pemerintah sudah memberikan solusi terhadap mahasiswa yang sudah masa layanan sudah berakhir, namun belum kembali ke keluarga. Mereka bisa masuk ke asrama panti milik Dinas Sosial Jawa Barat, di Cibabat, Kota Cimahi. 

“Kami memberikan solusi. Pihak balai menyediakan asrama khusus di Wyata Guna untuk mereka yang masih membutuhkan layanan. Dengan catatan kami meng-assessment kembali anak penerima manfaat yang sudah keluar,” katanya.

Assessment dilakukan untuk mengetahui apakah mahasiswa bersangkutan masih aktif kuliah dan membutuhkan pelayanan. Saat ini, terdapat 32 orang eks PM BRSPDSN "Wyata Guna" yang melakukan aksi protes. 

Sudarsono juga membantah spekulasi yang berkembang yang menyatakan bahwa ada pemindahan atau penutupan sekolah di "Wyata Guna". Sebab pada kenyataannya, keberadaan sekolah di kompleks BRSPDSN "Wyata Guna", sejak awal komitmennya memang pinjam pakai.

“Balai "Wyata Guna" tengah dalam proses revitalisasi fungsional menuju standar internasional, yang sistem pelayanannya bertujuan satu, yakni mengoptimalkan manfaat kepada penerima manfaat. Sehingga, penerima manfaat bisa lebih berdaya dan mandiri,” katanya. (Ida)


Komentar Pembaca