Cak Gareng: Pacitan Makin Bahaya!

Daerah  JUMAT, 17 JANUARI 2020 | 09:25 WIB

Cak Gareng: Pacitan Makin Bahaya!

Ilustrasi

MoeslimChoice | Zaman kian tua. Bencana alam di mana-mana. Peringatan Sang Maha Pencipta bermunculan, dalam berbagai bentuk.

Obrolan itu mengemuka pagi tadi, Jumat (17/1/2020), di sebuah warung kopi (warkop) pinggiran kota Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Tanpa host, tanpa protokol, sejumlah warga “senior” Pacitan membuka ocehan pagi itu dengan merujuk pada pemberitaan di televisi yang disediakan sang pemilik warkop.

Alhasil, salah seorang warga “senior” Pacitan, yang selama ini dikenal dengan panggilan Cak Gareng, menarik satu titik simpul, “Alam ndonyo iki soyo ngeri. Dunia ini semakin mengerikan.”

Menurutnya, Pacitan sendiri kini sudah semakin “mengerikan” dengan kian meruyaknya tempat-tempat unjuk maksiat, ajang-ajang umbar aurat.

“Ini fakta, lho. Lihat saja, sekarang di dekat pantai dibangun kafe, homestay, penginapan nafsu, dan lain-lain. Mata kita memang bisa dibohongi. Tapi Gusti Allah selalu tahu apa yang kita perbuat,” oceh Cak Gareng kepada Kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Jumat (17/1/2020).

Kemudian, dengan bergaya bak tausiyah ustadz di hadapan majelis pengajiannya, Cak gareng meminta, bahkan sangat meminta, warga Pacitan tetap menjaga tradisinya yang sarat tata krama kesantunan, kearifan lokal, serta memelihara budaya ketimuran yang bersih dari kemaksiatan.

Pingin selamat? Ya, hindarilah maksiat. Pingin Pacitan aman dari bencana? Ya, berdoalah yang khusyuk. Allah SWT itu Maha Segalanya. Sayang, faktanya kini malah terbalik. Tempat bersenang-senang, tempat maksiat, malah makin bertambah. Belajarlah dari bencana di tahun 2017. Seperti apa masyarakat Pacitan waktu itu? Seperti pasir yang diayak. Bingung, takut, mencekam. Lha, karena apa semua itu? Renungkanlah,” paparnya.

Episode berikutnya, warkop seolah berubah jadi panggung talk-show tanpa sponsor. Bahkan, sesekali Cak Gareng menumpahkan emosinya dengan gebrakan tangan ke atas meja, yang sekaligus menumpahkan kopinya juga.

Ia kesal, miris, dan berujar tak rela melihat kemajuan maksiat di Bumi berjuluk Kota 1001 Goa ini.

"Untung saya sudah tua. Kalau masih muda, terus punya kekuatan seperti Superman, pasti akan saya hancurkan tempat-tempat yang berbau maksiat di Bumi Pacitan ini. Agar Pacitan, tanah tumpah darah saya ini, bebas dari maksiat. Juga agar Allah tidak mengganjar kita dengan berbagai bentuk bencana yang besar," gertaknya.

Akan tetapi, nafas-nafas panjang sontak menghiasi diskusi tanpa sponsor tersebut. Emosi, pada akhirnya, hanyalah tinggal emosi. Tidak bisa melawan, karena kalah daya… [yhr]


Komentar Pembaca