Larangan Kantong Plastik Anies | Ada Yang Gamang Ada Yang Senang

Ekonomi  RABU, 15 JANUARI 2020 | 07:55 WIB | Warni Arwindi

Larangan Kantong Plastik Anies | Ada Yang Gamang Ada Yang Senang

MoeslimChoice | Larangan penggunaan kantong plastik di Ibu Kota yang tertuang dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menimbulkan beragam tanggapa. Paling tidak, ada yang senang, tapi tetap ada yang gamang.

Yang senang, antara lain para pengrajin kemasan tradisional berbahan baku organik semisal bongsang bambu, bungkus daun pisang, dan anyam-anayaman daun pandan. Kelompok ini diwakili oleh Menteri Koperasi Usaha Kecil dan Meengah Teten Masduki.

Teten bilang, peraturan pelarangan penggunaaan kantong plastik memberikan peluang kepada pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). “Justru positif larangan kantong plastik ini. Dapat mendorong kembali produk UMKM,” kata Teten di Kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Senin, 13/1/20.

Menurut eks Kepala Kantor Staf Presiden ini, larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai ini akan memicu sektor UMKM kerajinan bisa terus tumbuh. "Kan banyak sentra industri yang membuat pembungkus dari bahan-bahan alami yang berguna sebagai substitusi kantong plastik. Karena nanti kan kembali lagi kemasannya pakai daun pisang, lalu misalnya tas dari keranjang bambu atau pandan, terus kerajinan itu justru mendorong produk-produk UMKM,” katanya.

Teten menyebut, pemerintah mesti konsisten dalam menerapkan aturan pelarangan kantong plastik tersebut. Sebab, permintaan masyarakat atas pembungkus pengganti dari kerajinan akan terus meningkat.

“Kalau ada demand, pasti produk itu (kerajinan UMKM) naik lagi. Saya kira pemanfaatan, daun jati itu kan tidak terpakai padahal bisa dipakai pembungkus makanan. Itu menggairahkan UMKM,” ungkapnya.

Toh ada pula yang gamang. Misalnya kalangan yang selama ini berada di industri plastik. Malah Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dapat mengoreksi kebijakan larangan penggunaan kantong plastik. Menurut kajian kementeriannya, tidak ada korelasi yang kuat antara pelarangan kantong plastik dengan pengurangan sampah.

Jadi, kata Agus, ada persepsi yang tidak utuh oleh berbagai pihak soal plastik ini. Menurut dia, pengelolaan plastik yang baik dan benar dapat mendorong ketersediaan bahan baku plastik dan mendorong pertumbuhan industri plastik.

"Yang lebih penting itu bagaimana setiap Pemda (pemerintah daerah) bisa mengeluarkan suatu kebijakan pengelolaan sampah plastik. Karena, sampah-sampah itu sebetulnya punya potensi yang luar biasa untuk menjadi bahan baku industri," ujarnya seusai Kick Off Anggaran 2020 Kemenperin, Senin, 13/1/20.

Direktur Industri Kimia Hilir Kemenperin Taufiek Bawazier memprediksi industri plastik nasional dapat tumbuh di atas perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, hal tersebut dapat terjadi jika aturan larangan plastik segera di daerah segera dicabut.

"Ini (perumahan tenaga kerja) yang kami khawatirkan. Tapi, belum ada kita lihat (perumahan tenaga kerja) pasca Juli 2020. Lebih baik (Pemprov) DKI Jakarta mengoreksi kebijakannya sebelum terlambat. Industri daur ilang efektif untuk mengurangi sampah plastik," katanya.

Taufiek bilang produksi industri plastik dapat mencapai Rp 7 triliun per tahun. Sedangkan kantong plastik hanya berkontribusi sekitar 5 persen dari produksi plastik nasional atau sebanyak 360.000 ton per tahun.

Tapi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menandatangani Peraturan Gubernur Nomor 142 tahun 2019. Peraturan ini mengatur tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan Pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan, dan Pasar Rakyat yang berlaku pada awal semester II/2020.

Beberapa daerah juga telah melarang penggunaan kantong plastik seperti Kota Banjarmasin, Kota Bogor, dan Bali. Jadi, bagaimana dong?


Komentar Pembaca
Habib Rizieq Pasti Pulang Jika Sudah Aman

Habib Rizieq Pasti Pulang Jika Sudah Aman

Ahad, 23 Februari 2020 | 10:40

15 Azab Meninggalkan Shalat, 9 Terjadi Di Dunia
Gedung DPR Kebakaran

Gedung DPR Kebakaran

Senin, 24 Februari 2020 | 13:55