Presiden Jokowi Promo Investasi Nikel di UEA

Ekonomi  SELASA, 14 JANUARI 2020 | 07:24 WIB | Ilham Akbar

Presiden Jokowi Promo Investasi Nikel di UEA

MoeslimChoice | Indonesia selaku produsen utama nikel di dunia sedang berupaya mengurangi ekspor komoditas mentah. Sebagai gantinya, nikel diolah dan digunakan di dalam negeri sebagai bahan baku baterai lithium ion.

 

Baterai itulah yang digunakan untuk pengoperasian ponsel pintar yang jumlah penggunanya terus meningkat dari waktu ke waktu. Ini tentu akan bertambah besar peran Indonesia sebagai produsen baterai di dunia.

"Sepuluh tahun mendatang, setiap kali Anda melihat ponsel pintar, Anda akan teringat bahwa Anda membawa bagian kecil dari Indonesia di kantung dan tas anda setiap hari. Itu akan mengingatkan anda pada bagian kecil dari mineral Indonesia," ujar Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidatonya saat menjadi pembicara kunci di forum internasional ‘Abu Dhabi Sustainability Week’ (ADSW), di Uni Emirat Arab, Senin, 13/1/20.

Jokowi meyakini, dari baterai itu peran Indonesia tak hanya pada ponsel pintar.  Baterai dari olahan nikel itu dapat digunakan untuk mengoperasikan mobil listrik, jenis transportasi itu kendaraan masa depan. Untuk itu Indonesia perlu  mengembangkan hilirisasi nikel di dalam negeri. Jokowi dalam pidatonya mengajak negara-negara yang hadir untuk ikut mengembangkan energi baru terbarukan dengan mengalirkan investasi ke industri di Tanah Air.

"Kami mengundang Anda semua untuk bermitra dengan kami untuk membangun industri di dalam negeri untuk memproduksi komponen baterai sebagai perpanjangan hilir alami dari produksi nikel kami," ajak Jokowi.

Dari kunjungannya ke Abu Dhabi,  Jokowi berhasil mengantongi komitmen 16 perjanjian investasi dari Abu Dhabi. Lima perjanjian berupa kerja sama antar pemerintah di bidang keagamaan, pendidikan, pertanian, kesehatan, dan penanggulangan terorisme.

Sedangkan 11 perjanjian lain merupakan kerja sama antar bisnis di bidang energi, migas, petrokimia, pelabuhan, telekomunikasi, dan riset. Total nilai investasi diestimasi sebesar  Rp314,9 triliun


Komentar Pembaca