Ponpes Nurul Ulum Tingkatkan Ekonomi Warga Melalui Kopi

Ekonomi Syariah  JUMAT, 10 JANUARI 2020 | 18:50 WIB | Sunarya Sultan

Ponpes Nurul Ulum Tingkatkan Ekonomi Warga Melalui Kopi

Foto/net

Moeslimchoice | Pondok Pesantren Nurul Ulum, Jember, Jawa Timur, tidak cuma membina akhlaq generasi penerus bangsa namun juga memikirkan bagaimana meningkatkan ekonomi warga di sekitarnya, terutama petani kopi. Ponpes tersebut diasuh oleh Ustadz Tantowi.

Kegiatan Ustadz Tantowi meningkatkan ekonomi warga tak kalah pentingnya dibanding mengajar santri dengan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, keberadaan pesantren tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga dan wali murid.

“Sejak awal, kami memang sangat ingin berbuat sesuatu untuk meningkatkan perekonomian warga,” kata Ustadz Tantowi seperti dikutip NU Online, Kamis (9/1/2020).

Ustadz Tantowi memilih usaha produksi kopi bubuk karena warga Desa Pace dan sekitarnya memang banyak yang jadi petani kopi. Mereka memanfaatkan lahan kebun milik sendiri untuk ditanami kopi.

Sebagian juga memanfaatkan lahan milik Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) dengan cara disewa dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Jadi kalau pas musim panen, produksi kopi melimpah,” jelasnya.

Meskipun melimpah, namun petani tidak mendapatkan keuntungan yang maksimal. Itu karena kopi di petani tidak langsung dijual kepada pembeli, tapi masih melalui pengepul.

Sehingga harganya tentu saja tidak begitu mahal. Mata rantai alur penjualan kopi ini yang diputus Ustadz Tantowi karena dinilainya merugikan petani tersebut.

“Caranya kami beli langsung ke petani,” ujarpnya.

Sebagai informasi, usaha produksi kopi dia dimulai sejak tahun 2012. Bentuknya bubuk, dikemas dalam plastik mulai dari ukuran seperempat kilogram hingga satu kilogram.

Namun agar lebih gampang dibawa dan lebih keren, maka sejak dua bulan lalu dikembangkan dalam bentuk saset. Merknya Kopi Annajun.

“Kami pertama ini buat 1.000 saset. Dan alhamdulillah, sambutan masyarakat luar biasa,” pungkasnya.

Guna menjamin mutu terbaik, Ustadz Tantowi memproduksi kopi bubuk dengan alat tradisional, terutama proses sangrai dan penumbukan. Yaitu disangrai dengan menggunakan kayu bakar dan ditumbuk dengan memakai lesung, tidak diselep.

“Kami ingin mempertahankan ciri khas kopi desa dengan aroma yang khas pula,” sebutnya. [nry]


Komentar Pembaca