Peneliti LIPI: Harusnya Ekonomi Umat, Bukan Ekonomi Syariah!

Ekonomi Syariah  RABU, 08 JANUARI 2020 | 09:45 WIB

Peneliti LIPI: Harusnya Ekonomi Umat, Bukan Ekonomi Syariah!

Peneliti LIPI, Fachry Ali

MoeslimChoice | Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fachry Ali, menilai, Majelis Ulama Indonesia (MUI) perlu memahami proses modernisasi di kalangan masyarakat Muslim.

Sebab, dia mengakui, ada penolakan dari kalangan umat Islam terhadap proses modernisasi.

"MUI harus memahami proses ini. Penolakan ini menjadi problem MUI, karena yang menolak adalah bagian dari umat Islam. Kalau ini enggak diselesaikan, maka berat masa depannya," tutur dia dalam Focus Group Discussion (FGD) sebagai rangkaian Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (7/1/2020).

Dalam kesempatan itu, fachry bercerita tentang temannya yang semula bekerja di sebuah bank kini telah keluar dari pekerjaan tersebut.

Temannya itu datang dengan penampilan yang berbeda dari biasanya. Sebab, sekarang mengenakan celana cingkrang dan memanjangkan jenggotnya.

Saat ditanya mengapa mengundurkan diri, kata Fachry, temannya menjawab, karena ragu terhadap bank konvensional.

Lantas, Fachry kembali menimpalnya dengan menanyakan mengapa tak masuk ke bank syariah? Temannya mengatakan, dirinya juga ragu terhadap bank syariah.

Dalam keadaan demikian, menurut Fachry, peran Wapres Ma'ruf Amin yang juga Ketum MUI amatlah diperlukan.

Dia berpendapat, Ma'ruf Amin perlu mendorong ekonomi umat. Tapi, ia mengingatkan, istilah yang digunakan haruslah ekonomi umat, bukan ekonomi syariah.

"Karena tadi, ada penolakan juga terhadap ekonomi syariah oleh orang yang Islamnya sangat dalam," tutur dia.

Lebih lanjut, Fachry menuturkan, kekuatan ekonomi sangatlah penting. Dia pun menyinggung soal era Turki Utsmani, dengan menyebut bahwa sebetulnya ada suntikan dana dari Barat untuk memperkuat ekonomi Turki Utsmani. Namun, ia mengatakan, Turki Utsmani saat itu gagal mengikuti sistem kapitalisme.

Sebab, kata Fachry, dana-dana yang diperoleh itu digunakan untuk memperkuat kekuatan militer.

"Turki Utsmani rontok adalah karena fokus pada militer. Jadi kekurangan kita sekarang adalah pengenalan kita terhadap sistem kapitalisme," tutur dia. [yhr]


Komentar Pembaca