Gigih, Pendidik Tanpa Gaji di Pacitan

Pendidikan  KAMIS, 02 JANUARI 2020 | 10:50 WIB

Gigih, Pendidik Tanpa Gaji di Pacitan

Di ruangan sederhana berukuran 2 x 3 meter inilah Gigih memburu cita-citanya

MoeslimChoice | Sepertinya, kegigihan pria berusia 57 tahun ini dalam mengamalkan ilmunya untuk mencetak generasi unggul di daerahnya memang sudah terwakili lewat namanya.

Ya, dialah Gunawan Gigih Winarno, warga Dusun Pager, RT 01 RW 01, Desa Arjowinangun, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang —lewat sentuhan tangan dinginnya— telah melahirkan banyak anak didik berprestasi.

Pria yang akrab dipanggil Gigih ini boleh dibilang bukan orang biasa. Kiprahnya sebagai guru les, yang tidak pernah mengharapkan imbalan apapun, membuat banyak anak didiknya menjadi —meminjam istilah Iwan Fals— “berotak Habibie”.

Di sebuah ruangan ciptaannya sendiri, berukuran 2 x 3 meter, dengan 3 meja dan 9 kursi di dalamnya, Gigih berjuang mencetak putra-putri masa depan yang sarat prestasi.

"Ya, hanya inilah yang saya bisa. Saya pun mengajar les tidak meminta imbalan apapun dari mereka. Niat saya ikhlas dan sabar," katanya kepada Kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Kamis (2/1/2020).

Meski tak bergaji, bahkan tanpa perhatian apapun dari pihak pemerintah, Gigih tetap istiqomah dengan niatnya menghindarkan anak-anak dari jeratan kebodohan. Terbukti, banyak anak-anak didiknya yang kini sukses menjadi pengusaha atau pegawai.

Saat berbincang-bincang dengan MoeslimChoice di rumahnya, Gigih tampak menghela nafas dalam-dalam sebelum kemudian mengisahkan perjuangannya yang penuh kenangan.

Mendapat kesempatan emas untuk mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Gigih terpaksa menolak, mengingat keadaan dan kondisi fisik yang menurutnya tidak mendukung.

Namun, cita-citanya tidak berhenti. Ia pun akhirnya melangkah ke Kota Semarang, Jawa Tengah, dan mendapat kesempatan kuliah di Universitas Diponegoro (Undip) pada tahun 1985.

"Saya lulus dari SMAN 1 Pacitan tahun 1984. Dapat tawaran kuliah di salah satu universitas ternama di Surakarta. Namun, karena (hambatan) fisik dan lain-lain, akhirnya kesempatan itu hilang. Akhirnya, saya kuliah di Semarang, di Universitas Diponegoro, pada tahun 1985, dan lulus dengan nilai memuaskan," kisahnya.

Selama menjalani masa-masa di Kota Semarang itu, Gigih memperjuangkan biaya kuliahnya dengan bekerja sebagai tenaga pengajar les anak-anak sekolah.

"Saya mencoba kerja di sebuah tempat les di Semarang. Yang penting saya dapat tempat untuk bersandar kala itu. Alhamdulillah, hasil kerja saya itu bisa menyelamatkan biaya kuliah sampai lulus," tambahnya.

 

Buka Les di Pacitan

Setelah lulus dari Undip, Gigih mencanangkan tahap baru dari cita-citanya: membuka tempat les di kota kelahirannya, Pacitan.

Niatan itu kemudian membuahkan hasil. Walau hanya berdinding triplek, langkah awal Gigih untuk menularkan ilmu kepada anak-anak di daerahnya secara gratis itu mulai terwujud.

Berkah pun datang. Muncul tangan dermawan yang terulur demi meringankan beban Gigih. Membantu perjuangan beratnya di dunia pendidikan Pacitan.

"Ada yang sangat terharu melihat kisah perjuangan saya. Akhirnya, saya diberi bantuan untuk renovasi ruangan les. Ya, walau nilai bantuan itu mungkin sedikit baginya, namun bagi saya sangatlah luar biasa," katanya.

Lantas, siapakah sang dermawan yang membantu perjuangan Gigih mengajar les berbagai mata pelajaran di ruangan sempit itu?

"Dia Indrata Nur Bayu Aji (Ketua DPRD Kabupaten Pacitan). Namun, dia sudah membantu saya sejak lama, sebelum diincar masyarakat Pacitan untuk jadi Bakal Calon Bupati seperti saat ini," ungkapnya.

Mas Aji, lanjut Gigih, memang sangat peduli terhadap kaum alit. Sangat mengerti terhadap kaum pinggiran.

"Saya sangat berterima kasih terhadap Mas Aji. Semoga Allah mengabulkan permintaan hamba-Nya. Dia pantas menjadi seorang pemimpin," ucap Gigih, lalu mengusap airmatanya.

Kepedulian Gigih di dunia pendidikan Pacitan terbukti tidak sia-sia. Ada banyak nama sukses yang bisa dideretkan untuk menyebut buah dari kepedulian Gigih tersebut. [yhr]


Komentar Pembaca