Kena Tipu Ratusan Juta, Pecinta Hewan Ini Lapor Polisi

Hukum  SELASA, 31 DESEMBER 2019 | 20:30 WIB | Yukie H Rushdie

Kena Tipu Ratusan Juta, Pecinta Hewan Ini Lapor Polisi

Ilustrasi

MoeslimChoice | Dalam nilai dan modus yang berbeda, seorang pecinta hewan bernama Andri mengalami nasib nyaris serupa dengan artis peran, Eza Gionino, saat kena tipu penjual ikan arwana, Qory Supiandi, beberapa waktu lalu.

Andri mengalami kerugian hampir Rp 200 juta setelah kena kecoh warga Penjaringan, Jakarta Utara, bernama Kimberly (28), yang dikenalnya melalui media sosial Facebook.

“Kami sudah melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian dengan nomor LP / 3489 / VI / 2019 / PMJ / Dit.Reskrimum tertanggal 10 Juni 2019. Pihak Polda Metro Jaya kemudian melimpahkan proses penyelidikan dan penyidikan perkara ini ke Polres Jakarta Utara,” kata Masrin Tarihoran, kuasa hukum Andri, kepada MoeslimChoice, Selasa (31/12/2019).

Menurut Masrin, kasus ini berawal dari kecintaan Andri pada hewan. Ia berniat memelihara seekor harimau secara legal.

“Pertengahan 2018, melalui jejaring medsos, ia bertanya kepada teman-temannya sesama pecinta hewan terkait keinginannya untuk mendapatkan dan memelihara seekor bayi harimau secara resmi,” kisah Masrin.

Alhasil, masih di tahun 2018, Andri —melalui medsos Facebook— diperkenalkan dengan seorang wanita bernama Kimberly, yang mengaku mampu mendatangkan bayi harimau secara resmi dari Rusia.

 

CITES Kementerian LHK

Saat itu, Kimberly mengatakan kepada Andri, kebetulan tersedia seekor bayi harimau berusia dua minggu, dan ia sanggup mendatangkannya secara resmi dari Rusia.

“Demi meyakinkan Andri sebagai calon pembeli, Kimberly memperlihatkan foto CITES (Covention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atas namanya. CITES adalah sertifikasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI untuk mendatangkan hewan dari luar negeri,” kata Masrin lagi.

Berdasarkan kepemilikan CITES itulah, maka Andri pun percaya dan sepakat untuk membeli seekor bayi harimau Rusia dari Kimberly.

Kesepakatannya, Andri harus membayar Rp 191 juta sebagai uang muka, sementara sisanya dibayar setelah bayi harimau itu sampai di tangannya.

“Kimberly menyanggupi, semua proses itu paling lama berjalan satu bulan. Bila bayi harimau itu tidak didapat, Kimberly mengatakan bertanggung jawab dan bersedia mengembalikan seluruh uang Andri yang Rp 191 juta tadi,” kata Masrin.

Namun, sampai waktu yang dijanjikan Kimberly itu, bayi harimau Rusia tersebut tak pernah datang dan diterima Andri. Bahkan, hingga detik ini, sang bayi harimau itu pun tak pernah sampai di Indonesia.

 

Izin Impor Palsu

Setelah kejadian itu, melalui medsos, Andri mencoba melacak keberadaan dari penjual bayi harimau Rusia tersebut yang sebenarnya.

Akhirnya, ia berhasil melakukan kontak dengan sang penjual itu, yang berada di luar negeri. Yang membuat Andri sangat terkejut, penjual itu mengakui memang ada pembeli dari Indonesia, tapi surat izinnya bermasalah.

The Czech Republic received a fake import permit… (Pemerintah Republik Ceko menerima sebuah izin impor palsu),” kata penjual bayi harimau itu dalam komunikasinya di medsos dengan Andri.

Maka, Andri segera mengkonfirmasikan hal itu kepada Kimberly, baik melalui telepon, pesan WhatsApp, maupun jejaring medsos. Namun, sama sekali tak ada respons positif.

Ketika Andri mencoba menagih janji Kimberly untuk mengembalikan uang yang sudah ia serahkan, respons wanita asal Penjaringan itu pun lagi-lagi negatif.

Bahkan, Kimberly malah menantang Andri untuk melaporkannya ke polisi. Ia pun kemudian menyebar berbagai fitnah terhadap Andri di jejaring medsos.

Sikap Kimberly itu mendorong Andri melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Apalagi, Andri sendiri sudah merasa yakin bahwa ia jadi korban penipuan.

Dalam laporan polisi bernomor LP/3489/VI/2019/PMJ/Dit.Reskrium tertanggal 10 Juni 2019 itu, Andri bertindak selaku pelapor sekaligus korban, sementara Kimberly menjadi terlapor atas dugaan tindak pidana Pasal 378 KUHP dan/atau 372 KUHP.

“Ada baiknya bila pihak Kementerian LHK pun turut bertindak atas dugaan pemalsuan CITES yang dilakukan Kimberly dengan mengusutnya melalui jalur hukum. Karena, bagaimanapun, itu adalah dokumen negara yang bila disalahgunakan berpotensi melahirkan banyak korban,” kata Masrin.

 

Kimberly Jadi Tersangka

Berdasarkan SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) dari kepolisian, lanjut Masrin, diketahui, penyidik sudah melakukan pemeriksaan terhadap pihak perbankan, Kementerian LHK, juga Kementerian Pertanian RI.

Menurut keterangan pihak perbankan, tidak ditemukan aliran dana dari rekening Kimberly ke luar negeri untuk pembelian bayi harimau tersebut.

Sementara, menurut keterangan pihak Kementerian LHK, dokumen CITES yang menjadi (salah satu) barang bukti dalam perkara ini tidak sama atau berbeda dengan yang mereka terbitkan.

“Jadi, sesuai dengan keterangan dari Kementrian LHK itu, dapatlah diduga bahwa CITES yang ditunjukkan dan digunakan Kimberly adalah CITES palsu. Artinya, ia dapat diduga telah menggunakan dokumen negara yang palsu,” kata Masrin.

Menurut informasi, tambah Masrin, status Kimberly sendiri saat diperiksa pihak penyidik Polres Jakarta Utara telah menjadi tersangka.

“Bahkan, informasinya, karena pihak penyidik mengalami kesulitan untuk menghadirkan Kimberly setelah melalui segala cara dalam proses pemeriksaan, akhirnya terpaksa dilakukan penahanan,” kata Masrin.

Pihak Andri selaku korban pun menyampaikan apresiasinya terhadap pihak kepolisian, terutama Polres Jakarta Utara, yang telah bekerja sangat keras dan profesional dalam mengusut perkara ini.

“Sekarang, perkara ini sudah sampai di tahap P-21. Artinya, jaksa menyatakan berkas pemeriksaan ini sudah lengkap. Terima kasih buat Kepolisian Republik Indonesia,” pungkas Masrin. [yhr]


Komentar Pembaca