Novel Baswedan Beberkan Soal Teror Air Keras di Sidang PBB

Internasional  RABU, 18 DESEMBER 2019 | 09:06 WIB

Novel Baswedan Beberkan Soal Teror Air Keras di Sidang PBB

Novel Baswedan (paling kiri) saat berbicara pada forum CoSP-UNCAC di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab

MoeslimChoice | Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, menghadiri rangkaian Konferensi Negara-negara Penandatangan Konvensi PBB Melawan Korupsi atau Conference of State Parties (CoSP) - United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) yang sedang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Novel hadir lantaran menjadi salah satu pembicara dalam sesi khusus (special session) tentang “Perlindungan bagi Lembaga Anti-Korupsi dan Pegawai Anti-Korupsi” pada Senin (16/12/2019).

Dalam kesempatan itu, Novel mengungkapkan lebih dari tujuh kali diserang dan diteror selama menjadi Kasatgas Penyidik KPK.

Novel mengaku sudah tiga kali ditabrak motor dan mobil, dipenjarakan, dikriminalisasi serta sejumlah bentuk teror lain hingga disiram air keras pada 11 April 2017 silam.

"Dari kasus teror terakhir, sudah 979 hari kasus penyerangan tersebut belum terungkap," kata Novel, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (18/12/2019).

Novel menyatakan, serangan dan teror yang dialaminya tak terlepas dari kerja-kerja pemberantasan korupsi yang dilakukannya selama ini.

Selama menjadi Kasatgas Penyidik KPK, Novel menyebut tak kurang 197 tersangka dijebloskannya ke penjara, termasuk Ketua MK, Ketua DPR, tiga menteri, gubernur, 72 anggota DPR dan DPRD, 18 bupati dan walikota, dua jenderal polisi, empat hakim, tiga jaksa.

Selain itu, dari perkara pencucian uang yang ditanganinya, ia telah merampas aset koruptor senilai sekitar Rp 2 triliun.

Meski kerap diserang dan diteror, Novel menegaskan dirinya bersama KPK tak gentar untuk terus memberantas korupsi di Indonesia.

"Lembaga anti-korupsi tidak boleh takut. Risiko besar karena kita berbuat dengan benar. Jadi tidak perlu takut," tegasnya.

Untuk itu, dalam kesempatan ini, Novel berharap PBB dapat mengeluarkan resolusi yang bisa lebih melindungi pegawai antikorupsi.

Prinsip-prinsip perlindungan tersebut diatur dalam Jakarta Principle on Anti-Corruption, dokumen yang disepakati dunia pada November 2012 di Jakarta.

Prinsip itu diperkuat Colombo Commentary, yang merupakan panduan lebih detil prinsip Jakarta tersebut.

"Bahkan asosiasi anti korupsi sedunia IAACA (International Association on Anti Corruption Authorities) mengakui dan mendukung prinsip tersebut," katanya.

Menurut dia, jaminan perlindungan terhadap pegawai antikorupsi dinilai penting agar Lembaga Antikorupsi dapat bekerja secara maksimal.

Novel menyebut, keberadaan KPK menaikkan 21 poin IPK (Indeks Persepsi Korupsi) Indonesia, yakni dari 17 hingga skor terakhir mencapai 38.

"Menurut data TI, kenaikan ini terbaik di dunia," katanya.

Dalam sesi ini, terungkap Novel bukan satu-satunya pemberantas korupsi yang diserang dan diteror.

Mantan Ketua KPK Malaysia atau Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SRPM)/ Malaysian Anti-Corruption Commission (MACC) yang juga Dirjen Pusat Governans, Integriti dan Anti-Rasuah Nasional (GIACC), Tan Sri Abu Kasim Mohammed, mengungkapkan, di negaranya terdapat Jaksa MACC Kevin Morales yang tewas dibunuh karena menangani kasus besar.

Berkaca pada teror yang dialami Kevin Morales dan Novel Baswedan, Tan Sri Abu Kasim menekankan pentingnya melindungi pemberantas korupsi.

"Di Indonesia ada Novel Baswedan, penyidik KPK yang menangani lebih dari 197 orang tersangka, orang besar di Indonesia, diserang air keras, ditabrak, dipenjarakan, dikriminalisasi. Di belahan dunia lain juga sama. Untuk itu penting membangun lembaga dan sistem pendanaan bantuan bagi mereka yang menjadi korban. Malaysia akan meluncurkan inisiatif ini pada Februari 2019," katanya. [yhr]


Komentar Pembaca