Kelapa Sumsel Ditolak Thailand, Begini Kata BPS

Tentang Sumsel  SELASA, 17 DESEMBER 2019 | 15:35 WIB | Rahmad Romli

Kelapa Sumsel Ditolak Thailand, Begini Kata BPS

MOESLIMCHOICE. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel mengakui kalau ada penolakan Thailand terhadap produk kelapa dari Sumatera Selatan (Sumsel). Namun secara umum, penolakan Thailand itu tidak berpengaruh terhadap nilai ekspor Sumsel.

MC Award 2

Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih MM menilai, penolakan ekspor kelapa Sumsel ke Thailand pada pertengahan November lalu tidak berpengaruh pada catatan ekspor komoditi kelapa Sumsel. Bahkan ekspor kelapa Sumsel pada November lalu sebesar 3,23 persen atau mengalami kenaikan US$ 0,72 Juta dibandingkan ekspor pada bulan Oktober 2019 yang tercatat sebesar 2,51 persen.

"Kalau kita lihat untuk ekspor kelapa kita ternyata gak berpengaruh kok. Karena ekspor kita masih naik di bulan November ini kita lihat trennya pun juga naik. Kalau kemarin ke Thailand ada sedikit masalah tentu menjadi PR bagi OPD terkait untuk memperbaiki. Kalau mempengaruhi ya pasti akan turun drastis kan dan ini enggak," jelas Endang, Senin (16/12).

Selain Kelapa perkembangan ekspor komoditi Sumsel lainnya yang cukup menggembirakan kata Endang adalah ekspor minyak kelapa sawit dan fraksinya. Jika bulan Oktober ekspor minyak kelapa sawit sebesar 3,69 persen di bulan November ekspor mengalami kenaikan menjadi 13,61 persen atau senilai US$ 9,93 Juta.

Sementara itu secara keseluruhan nilai ekspor Provinsi Sumsel bulan November 2019 sebesar   US$ 326,30 Juta yang terdiri dari ekspor migas  sebesar US$ 24,48 juta dan US$ 301, 82 Juta merupakan hasil ekspor komoditi nonmigas.

"Ya ekspor kita pada November turun sebesar 8,12 persen dibandingkan ekspor Oktober. Penurunan ekspor ini pemicu utamanya adalah perekonomian global. Karena beberapa komoditi yang berpotensi seperti bubur kayu/pulp kita turun itu artinga memang karena pengaruh ekonomi global. Kalau karetkan memang dari kemarin-kemarin karet kita dan dunia memang belum stabil," tambah Endang.

Sementara untuk komoditas karet Sumsel dominasinya masih bagus sehingga ini harus menjadi catatan untuk perbaikan kualitas kedepan. Mengingat penyuplai karet dunia bukan hanya Indonesia tapi juga Thailand dan Malaysia.

Adapun lima komoditas ekspor dari Provinsi Sumsel yang terbesar pada bulan November 2019 adalah bubur kayu/pulp senilai US$ 97,02 juta, karet senilai  US$ 83,86 juta, batubara senilai US$ 74,04 juta, hasil minyak senilai US$ 24,48 juta serta kelapa sawit dan fraksinya senilai US$ 13,61 Juta.

Untuk impor Sumsel pada bulan November 2019 jelas Endang mengalami penurunan sebesar US$ 33,53 Juta atau turun sebesar 19,88 persen jika dibandingkan dengan bulan Oktober 2019 yang sebesar US$ 41,84 Juta. Sebagian besar Impor ini  berasal dari Tiongkok sebesar US$ 12,82 Juta, Malaysia sebesar US$ 4,59 Juta dan Swedia sebesar US$ 2,02 Juta.

"Total perdagangan luar negeri Sumsel bulan November ini surplus kita sebesar US$ 292,77 juta. Dan ini sangat menggembirakan sekali. Tugas BPS kan hanya "memotret" tidak bisa memberikan rekomendasi tapi untuk referensi ya harus hilirisasi dan pelabuhan itu yang sangat dibutuhkan," pungkas Endang. [rhd]


Komentar Pembaca