Masya Alloh! Usia Produktif Pengidap HIV/AIDS Terbesar di Kota Tangerang

Kesehatan  KAMIS, 12 DESEMBER 2019 | 15:20 WIB | Sunarya Sultan

Masya Alloh! Usia Produktif Pengidap HIV/AIDS Terbesar di Kota Tangerang

Foto/net

Moeslimchoice | Masya Alloh, masyarakat dengan usia produktif di Kota Tangerang ternyata sebagai pengidap HIV/AIDS terbesar. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang tahun 2018 menunjukkan, 63 persen pengidap HIV-AIDS berada di usia 25 sampai dengan 49 tahun.

Lebih lanjut Indri mengatakan, dua urutan teratas tersebut termasuk ke dalam kelompok usia produktif yang juga aktif secara seksual dan termasuk dalam kelompok pengguna napza jenis suntik.

"Diikuti dengan kelompok umur 10-24 tahun sebesar 25 persen," jelas Kepala Bidang Penanggulangan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tangerang Diva Indri seperti dilansir Kompas, Rabu (11/12/2019).

Tren peningkatan juga terlihat dari tiga tahun terakhir. Pada 2016 terdapat 105 kasus masyarakat positif HIV/AIDS, sedangkan pada 2017 temuan kasus meningkat sebesar 124 kasus.

"Tahun 2018 ada 141 kasus," tukas dia.

Langkah pencegahan yang dilakukan Dinkes Kota Tangerang melihat fenomena usia yang begitu besar di dalam kelompok usia produktif tersebut adalah memberikan perhatian kepada generasi muda. Salah satunya dengan acara sosialisasi bahaya HIV/AIDS dengan tema "Ngampus Santai Bicara HIV/AIDS" di salah satu mal di Kota Tangerang.

"Agar anak muda sejak dini menyadari bahaya HIV/AIDS dan bisa mencegah penularannya," jelas dia.

Acara tersebut juga diisi dengan kegiatan screening HIV/AIDS gratis untuk mengetahui sejak dini apakah positif mengidap HIV/AIDS dan bisa diberikan tindakan lebih cepat. Kegiatan screening juga dilakukan dengan bekerja sama bersama pengelolaan Bandara Soekarno-Hatta dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno-Hatta.

Kegiatan screening tersebut berlangsung selama dua hari, 10-11 Desember 2019. Terkait jumlah kasus dari 2004 sampai 2018, Dinkes Kota Tangerang mencatat sebesar 1.515 kasus terjadi.

"Namun angka tersebut akan dievaluasi karena beberapa pergerakan data pengidap seperti meninggal dunia atau pindah ke luar kota," tutup dia. [nry]


Komentar Pembaca