Diblokir Google, Akses Akun YouTube Dua Media Iran Buntu Lagi

Internasional  RABU, 11 DESEMBER 2019 | 11:12 WIB

Diblokir Google, Akses Akun YouTube Dua Media Iran Buntu Lagi

Ilustrasi

MoeslimChoice | Google (kembali) menyasar portal berita Iran, Press TV dan Hispan TV. Mesin pencari itu memblokir akun YouTube media tersebut tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Selama beberapa tahun terakhir, raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) ini berulang kali melakukan tindakan serupa terhadap kantor media Iran.

Press TV sudah sekian kalinya jadi korban, karena dinilai bertentangan dengan khalayak dan pembaca.

Kejadian terakhir pada Selasa (10/12/2019) waktu setempat, ketika pelanggan membanjiri kolom komentar kedua media tersebut dengan pesan yang menanyakan mengapa saluran YouTube internasional keduannya tidak dapat diakses.

Kedua saluran terakhir ditargetkan pada bulan April, ketika Google juga menutup akun YouTube dan Gmail mereka.

Serangan sebelumnya juga tak ada pemberitahuan, kecuali hanya informasi "pelanggaran kebijakan".

Sebelumnya, saluran YouTube Press TV ditutup pada bulan September dan November 2013 dan April 2014.

Republik Islam Iran Broadcasting menyebut tindakan tersebut contoh penyensoran yang  sangat jelas.

Situs Web Press dan Direktur Media Sosial Iran, Habib Abdolhossein, mengatakan sudah mematuhi kebijakan Google, termasuk yang menyangkut konten pengguna dan melakukan kebijakan.

"Jika kami telah melanggar aturan apa pun, mereka bisa memberi tahu kami," katanya.

"Media seharusnya menjadi platform untuk pandangan alternatif, tetapi sayangnya mereka agak dipolitisasi daripada disosialisasikan!. Saya pikir kita membayar harga untuk menjadi suara orang yang tidak bersuara," sambungnya.

Dilansir dari Press TV, Menyusul pelantikan Donald Trump sebagai presiden AS pada 2016, Washington menggenjot upayanya untuk menargetkan Republik Islam Iran.

Kampanye ini bahkan dijuluki "tekanan maksimum" di bawah presiden AS saat ini. Upaya itu membuat AS meninggalkan perjanjian nuklir multi-pihak dengan Iran tahun lalu, dan mengembalikan sanksi terkait nuklir yang dicabut perjanjian itu.

Sebagai bagian dari kampanye, Departemen Luar Negeri AS meminta perusahaan media sosial Facebook, Instagram, dan Twitter untuk memblokir akun para pemimpin pemerintah Iran, dan iOS menonaktifkan aplikasinya di Iran. [yhr]


Komentar Pembaca